Incipiency

Tidak perlu waktu lama untuk Dejun tiba di studionya. Setelah memarkirkan mobilnya, ia turun dan bertemu Mang Ecep yang sudah menungguinya.

“Elena dateng naik apa, Mang? tanya Dejun sambil mengunci mobilnya.

“Taksi, Mas. Maaf kalau saya ganggu Mas, soalnya Mbak Elena bilang mau ketemu sama Mas Dejun.” jawab Mang Ecep polos.”

“Iya, nggak papa, Mang. Saya juga perlu bicara sama dia.” balas Dejun lalu ia segera memasuki studionya sementara Mang Ecep kembali ke pos kecil di depan studio Dejun.

“Len?” panggil Dejun saat melihat Elena yang duduk di sofa, sedang menunggu dirinya datang.

Mendengar Dejun memanggil dirinya, Elena bangun dari sofa dan menghampiri Dejun, “Jun, sorry aku dateng malem-malem gini.”

Dejun refleks memeluk Elena begitu perempuan itu mendekat, “Len, please dengerin penjelasan aku dulu. Mau ya?” tanya Dejun lalu ia melepaskan pelukannya agar dapat melihat wajah Elena.

Elena hanya mengangguk pelan. Lalu Dejun pun menuntun Elena untuk kembali ke sofa dan keduanya duduk berdampingan.

“Len, maaf ya aku nggak jujur sama kamu. Sorry aku udah ngerusak kepercayaan kamu.”

Dejun berhenti sesaat sebelum melanjutkan kalimatnya.

“Awalnya, aku pikir aku bisa selesaiin perjodohan ini secepatnya. Tapi aku salah. Aku nggak nyangka akan jadi kayak gini. Maaf, Len.”

“Tapi, jujur aku nggak ada maksud untuk bohongin kamu karena pada dasarnya aku cuma sayang sama kamu, Len.”

Keduanya terdiam untuk beberapa saat. Dejun hanya menunduk, sementara Elena terus memandangi Dejun.

“Dejun, aku juga sayang sama kamu. Sayang banget sampe rasanya sakit saat denger kabar tadi siang. Dan sekarang pikiran aku kalut.”

Dejun menoleh mendengar Elena angkat bicara.

“Aku nggak tau aku harus ikutin isi kepala aku atau hati aku. Hati aku egois, dia kepengen tetep sama kamu, tapi otak aku ngelarang. Kamu bakal nikah sama orang lain dan-”

“Aku nggak akan pernah nikah sama dia, Len! Nggak akan!” Dejun memotong kalimat Elena.

“Tapi orang tua kamu?”

“Len, bisa percaya sama aku lagi? Sekali lagi kasih aku kesempatan. Let's fight this together. Kamu mau kan?”

Elena tidak langsung menjawab. Dilihatnya mata Dejun yang menatapnya sendu lalu ia mengelus pelan pipi Dejun untuk beberapa saat sebelum akhirnya ia mendaratkan sebuah ciuman lembut di bibir Dejun.

“I love you, Dejun.” ucap Elena lembut lalu ia kembali mencium bibir Dejun. Dejun merangkul leher Elena, membalas ciuman perempuan itu dengan dalam dan intens.