Mama
Dejun telah selesai bersiap untuk pernikahannya pagi itu. Beberapa staff yang membantunya sudah pergi meninggalkan ruang tunggu Dejun, menyisakan dirinya sendiri.
Tidak ada yang bisa Dejun lakukan selain menunggu. Menunggu mimpi buruknya jadi kenyataan. Sepanjang pagi itu ia hanya bisa merutuki dirinya sendiri yang tidak mampu berbuat apa-apa lagi. Yang ia bisa lakukan saat ini hanya kembali melihat kenangan yang ia buat bersama Elena, melalui foto-foto yang masih tersimpan rapi di galeri ponselnya.
“Dejun?” terdengar suara Mama Dejun dari arah pintu. Dejun yang masih sibuk dengan ponselnya hanya menoleh sesaat, kemudian ia kembali sibuk sendiri.
Mama Dejun melihat sekilas layar ponsel Dejun, kemudian ia menyodorkan sebuah amplop kepada Dejun, “Sebelum mama menyesal seumur hidup.” ucap Mama Dejun pelan.
Dejun menerima amplop itu dan mengecek isinya, terdapat sebuah tiket pesawat tujuan Singapura dan juga paspor miliknya.
“Ma?” tanya Dejun bingung, ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya barusan.
“Alfi nunggu kamu di luar. Kamu cuma punya waktu satu setengah jam.”
Mendengar jawaban mamanya, Dejun segera bangkit dari tempat duduknya lalu memeluk mamanya, “Makasih ya, Ma.” ucap Dejun lirih.
Mama Dejun menepuk-nepuk pelan punggung Dejun, “Maafin mama kemarin ya, nak. Udah gih, waktunya jalan terus.”
“Papa gimana?” tanya Dejun sambil melepas pelukannya.
“Tanggung jawab Mama. Kamu pikirin Elena aja.”
Dejun mengangguk sambil tersenyum lebar. Masih mengenakan jas pengantinnya, ia keluar kamar dan mendapati Alfi yang sudah menunggunya di depan pintu, “Lewat sini, mas.” ucap Alfi lalu ia memimpin jalan sementara Dejun mengikuti di belakangnya.