WYMM?

Mendengar pintu bel rumahnya berbunyi, Jocelyn segera membukakan pintu untuk sang tamu yang sudah ia ketahui siapa.

“Happy Anniversary, sayang,” ucap Ten sambil memberikan sebuket bunga mawar merah kepada Jocelyn.

Jocelyn tersenyum bahagia. Ia menerima buket bunga itu dengan tatapan berbinar, “Thank you, sayang,” balasnya lalu ia memeluk erat lelaki itu.

Ten membalas pelukan Jocelyn, “Ini mau dipeluk terus aja? Nggak jadi dinnernya?” tanya Ten jahil setelah sekitar 5 menit mereka hanya berpelukan saja di depan pintu.

“Hmmh,” jawab Jocelyn tanpa berniat melepaskan pelukannya.

“Tapi aku laper,” sambung Ten membuat Jocelyn akhirnya terpaksa berhenti memeluk Ten, “Kita mau dinner dimana? Aku bingung mau pake baju apa,” ucap Jocelyn sambil merangkul Ten dan berjalan masuk ke dalam rumah.

Casual aja, kayak aku gini,” jawab Ten lalu Jocelyn refleks memandangi penampilan pacarnya malam itu, kaos oblong putih dipadu dengan jaket jeans berwarna hijau army serta celana jeans hitam menjadi pilihan lelaki itu.

“Eh, emang kita mau dinner dimana?” tanya Jocelyn bingung.

Ten memicingkan matanya, “Kamu nggak expect aku ajak kamu fine dining romantis ala-ala drakor kan?” tanyanya curiga dan dijawab dengan senyuman kikuk khas Jocelyn.

“Aku mau nepatin janji aku buat ngajak kamu makan buryam di Barito,” sambung Ten lagi.

“Oke kalo gitu, aku siap-siap dulu,” ujar Jocelyn dan ia segera berlari masuk ke dalam kamarnya untuk berganti pakaian.

Tidak sampai 10 menit, Jocelyn sudah kembali menemui Ten yang menungguinya di ruang tamu, “Aku nggak make up-an nggak papa, ya? Lagi males,” ucapnya.

Ten bangun dari duduknya dan mengacak pelan bagian depan rambut Jocelyn, “Make up or not, you always look stunning, Jo.”

Pipi Jocelyn memerah mendengar pujian yang dilontarkan Ten, “Yuk, berangkat. Sebelum kamu makin gombal,” ajaknya seraya merangkul lengan Ten.

“Eh, kakak kamu kemana? Nggak di rumah?”

Jocelyn menggeleng, “Lagi pacaran, udah yuk.”

***

Butuh waktu sekitar 40 menit untuk sampai ke tujuan mereka yaitu Jalan Barito, setelah sebelumnya mereka sempat nyasar karena Ten yang sudah agak lupa daerah sana ditambah Jocelyn yang salah membaca Gmaps.

“Ih ini gmaps nya yang error, bukan aku. Masa tau-tau disuruh belok padahal daritadi perintahnya lurus-lurus aja,” gerutu Jocelyn saat mereka masih berputar-putar mencari Jalan Barito.

“Iya sayang, aku nggak nyalahin kamu kok. Easy...” hibur Ten pelan sambil tetap fokus menyetir.

“Aku baru tau lho beneran, ada yang jualan bubur ayam malem-malem gini,” ujar Jocelyn saat Ten sudah kembali ke mobil setelah memesan dua mangkuk bubur ayam dan membeli dua botol air mineral. Karena tidak ada tempat duduk kosong, Ten dan Jocelyn memutuskan untuk menyantap bubur mereka di dalam mobil.

“Kamu mainnya kurang jauh,” ledek Ten pelan sambil membukakan tutup botol air mineral milik Jocelyn lalu memberikannya pada perempuan itu.

Bibir Jocelyn mengerucut, “Tau sendiri kan, mantan aku kayak apaan. Tuh, pernahnya ke tempat tadi yang kita lewatin.”

“Hah? Apa? Kita lewatin banyak tempat, Jo,” balas Ten bingung.

“Itu, Ten... BG,” balas Jocelyn lagi disambung dengan Ten yang hanya manggut-manggut tanda ia mengerti.

Obrolan mereka terputus karena abang bubur ayam mengetuk kaca jendela mobil Ten, mengantarkan dua mangkuk bubur ayam sesuai pesanan lelaki itu.

“Diaduk atau enggak?” tanya Jocelyn sambil melirik tajam ke arah Ten.

Ten tidak menjawab dengan kata-kata, tapi ia langsung mulai menyantap buburnya dan itu cukup memberi jawaban jelas untuk Jocelyn.

Jocelyn tersenyum puas, jawaban Ten sesuai ekspetasi dirinya, “Bagus deh, jangan sampe kita debat dulu sebelum makan,” lalu perempuan itu ikut melahap makan malamnya.

“Jo, setahun jadi pacar aku apa rasanya?” tanya Ten disela acara makan malam mereka.

“Beruntung,” jawab Jocelyn tanpa keraguan sekecil pun, “Aku bener-bener merasa seberuntung itu, Ten,” sambungnya lagi.

“Kalau dua, tiga, empat tahun jadi pacar aku, kira-kira apa rasanya?” Ten kembali bertanya.

“Bahagia, beruntung, hmm what else? Aku bingung ih mau jawab apa... Kamu kenapa nanya begini?” Jocelyn gantian bertanya dan kali ini ia menoleh ke arah Ten yang ternyata sudah terlebih dahulu memandangi dirinya.

“Jocelyn, mau jadi teman hidup aku selamanya, nggak?”

Pertanyaan itu terdengar sederhana tetapi sukses membuat perasaan Jocelyn jungkir balik tidak karuan, dan perempuan itu sangat-sangat tidak bisa menyembunyikan ekspresi kaget bercampur bahagianya.

Dengan segala reaksi Jocelyn, Ten hanya tersenyum lalu ia kembali bertanya, “Jocelyn, will you marry me?”

Tidak ada kata lain selain 'ya' dan anggukan berkali-kali dari Jocelyn untuk menjawab pertanyaan Ten. Lelaki itu segera mengeluarkan benda berkilau dari saku jaketnya dan mengenakannya di jari manis milik Jocelyn.

I love you, Margareth Jocelyn.”

I love you too, Ten Lee.”

I’ll love you more. I’ll take care of you If you cry, if you’re having a hard time, if you’re hurt, I’ll hurt with you I’ll love you forever, I’ll protect you forever I’m thankful that I’ve met someone like you I want to love only you everyday Will you marry me? —Lee Seung Gi – Will You Marry Me?