Thank You
“Nih, lipstiknya,” ucap Lucas begitu aku membukakan pintu untuknya. Dia mengenakan kaos oblong putih dipadu dengan jaket jeans, celana jeans dan sneakers putih favoritnya. Rambut hitamnya ia tutup dengan beanie hat yang jadi gaya andalannya.
Aku menerima kantong kecil berisikan lipstik yang ia belikan untukku. Sekilas aku mengintip ke dalam kantongan itu dan tanpa kusadari aku tersenyum saat melihat shadesnya sesuai dengan yang ku pesan.
“Nih, bobanya,” sambung Lucas lagi sambil memberikan segelas Biscoff Lotus yang tidak kupesan, tapi Lucas tau kalau aku menyukai minuman ini.
“Udah ya, gue pamit,” kata Lucas lagi setelah selesai memberikan pesananku.
“Eh, balik?” tanyaku kaget karena jujur saja, aku sebenarnya mengharapkan dia untuk tinggal lebih lama disini.
Lucas mengangkat sebelah alisnya, “Ada perlu apa lagi?” tanyanya bingung. Matanya yang besar terlihat sangat menggemaskan saat itu.
“Bantuin gue foto buat endorse-an,” jawabku asal. 'Bodoh banget alasan lo, Liv,' umpatku dalam hati.
Lucas tersenyum, sepertinya dia paham kalau sebenarnya aku takut sendirian di rumah tapi aku pura-pura tidak tahu saja. “Gue masuk ya?” tanyanya sopan dan kujawab dengan anggukan pelan.
Lucas duduk di ruang tengah sambil menghabiskan minuman boba miliknya sementara aku sibuk mencari produk apa yang bisa ku foto malam ini dengan bantuan Lucas. Sebenarnya aku tidak suka berfoto di malam hari karena kurangnya pencahayaan. Dan juga sebenarnya aku bisa berfoto sendirian dengan modal tripod.
'Ah iya, tripod nya umpetin dulu,' gumamku sendiri sambil mengambil tripod yang berdiri di pojok kamar dan menyembunyikannya di laci bawah ranjang.
Setelah 10 menit mencari-cari produk, akhirnya aku dapat satu produk yang bisa kufoto malam itu.
“Body Lotion?” tanya Lucas bingung sambil memegang dan memperhatikan beberapa botol body lotion yang kubawa dari kamar.
“Iya, fotonya dari sini. Kayak gini,” ucapku sambil menunjukkan hasil foto dari pemotretan sebelumnya.
“Lah ini udah ada fotonya, sekarang ngapain foto lagi?”
“Bisa nggak sih, nggak usah banyak tanya?” protesku kesal. Masalahnya, semakin dia banyak bertanya, pasti akan semakin kelihatan kalau sebenarnya aku meminta dia untuk tinggal bukan karena untuk membantuku berfoto.
Lucas hanya nyengir memamerkan gigi putihnya, persis seperti anak kecil yang sedang berusaha meluluhkan hati orang tuanya, “Yaudah, situ duduk. Gue fotoin. Lo pake baju gitu aja?”
“Ohiya, bentar gue ganti baju dulu,” jawabku cepat lalu aku buru-buru kembali ke kamar sebelum Lucas melihat wajahku yang memerah karena tersipu malu. Entah kenapa aku merasa wajahku panas karena tadi melihat lelaki itu tersenyum seperti anak kecil.
Selesai berganti baju, aku melihat Lucas yang sedang sibuk mengambil foto produk body lotion tadi.
“Ngapain?” tanyaku bingung.
“Ha? Oh ini, nanti gue post di IG gue juga sekalian kasih review tipis-tipis. Lumayan kan, ngebantuin sales produknya. Biar lo juga terus dipercaya buat promoin produknya,” jawab Lucas serius. Sama sekali tidak terdengar nada jahil atau slengean dalam kalimatnya barusan.
Aku mau menyanggahnya lagi, tapi kuingat dia memang terkenal dan apapun yang dia post di sosial medianya bisa memberikan dampak yang cukup besar. Lagian siapa yang nggak kenal Lucas? Si partygoers yang baik kepada semua orang sampai tidak jarang banyak yang salah paham dengan kebaikan Lucas, termasuk aku.
Aku dan Lucas terpaksa menjalani perjodohan yang diatur oleh orang tua kami, dengan alasan karena kedua orang tua kami sudah bersahabat sejak SMA dan tidak ada salahnya untuk meneruskan hubungan baik ini ke anak-anak mereka which is aku dan Lucas. Terlebih lagi aku dan Lucas sama-sama anak tunggal dan sama-sama tinggal jauh dari orang tua kami, membuat alasan untuk menjodohkan kami semakin kuat agar kami bisa saling menjaga satu sama lain.
Awalnya baik aku dan Lucas sama-sama menolak, bahkan rumornya Lucas pernah mogok bicara dengan orang tuanya selama seminggu karena tidak setuju dengan perjodohan ini. Tapi, kelihatannya sekarang ia sudah pasrah dan tinggal aku sendiri yang masih berjuang untuk menghentikan perjodohan ini.
“Ayo foto, kok bengong sih,” Lucas membuyarkan lamunanku. Aku segera menuruti arahan lelaki itu dan ia mulai mengambil fotoku dengan produk body lotion ini.
“Ini temanya pake body lotion sebelum tidur ya?” tanya Lucas di sela memotret.
“Eh, iya. Kok tau?”
“Lo pake piyama gitu, pasti lo mau sampein ke orang-orang supaya pake body lotion sebelum tidur, biar kulitnya nggak pada kering.”
Bingo, nggak cuma ganteng, Lucas ini memang pintar.
“Pinter lo,” pujiku pelan tapi sepertinya kedengaran jelas di telinganya.
“Gue emang pinter kali hehehe, kemana aja lo setahunan ini?” balasnya kembali dengan nada bercanda.
'Shit, bisa nggak berhenti senyum kayak gitu? umpatku dalam hati.
“Udah nih, coba cek dulu. Kalo masih ada yang kurang bilang aja, kita foto lagi nanti. Gue ke toilet dulu ya,” Lucas menyodorkan kamera DSLR yang ia gunakan kepadaku lalu ia pergi ke kamar mandi.
'Lo emang pinter ya, Cas...' gumamku lagi sambil tersenyum puas melihat hasil foto yang jauh diluar ekspetasiku. Lucas bisa memotret dari segala sudut dan mengambil poin-poin penting dari produk yang ingin aku promosikan, yang kadang sulit aku lakukan sendiri jika aku harus berfoto menggunakan tripod.
“Gimana? Masih ada yang kurang?” tanyanya begitu ia keluar dari kamar mandi. Lucas segera kembali ke ruang tengah dan duduk di sebelahku persis, begitu dekatnya sampai aku bisa mendengar suara nafasnya dan juga aroma maskulin dari parfum yang ia kenakan.
“Ngg... Nggak ada kok,” jawabku terbata. “Sana ah jauh-jauh, parfum lo baunya aneh,” sambungku berkilah. Sejujurnya, aku sangat menyukai aroma parfum yang ia kenakan; perpaduan citrus, lavender dan woody yang menghasilkan wangi tidak hanya maskulin tapi juga sensual, siapa saja yang duduk disebelahnya aku bisa jamin akan betah, tidak terkecuali aku.
Lucas mengendus-endus tubuhnya sendiri, “Hah? Parfumnya nggak enak? Seriusan?” tanyanya panik, “Padahal kata mbak-mbaknya ini enak banget,” sambungnya kecewa.
'Ya emang enak, kan gue bohong.'
“Liv, lo kalo capek tidur aja di dalem. Gue disini sampe jam 12 malem,” ucap Lucas memecah keheningan diantara kami berdua.
Aku mengernyitkan dahi bingung tapi Lucas sepertinya paham dimana letak kebingunganku, “Gue selalu bawa kunci rumah lo,” katanya sambil memamerkan kunci rumahku yang ia gantung bersama dengan kunci apartemen dan kunci mobil miliknya.
“Yaudah, gue masuk ya. Kalo mau minum atau cemilan cari aja di dapur, tau kan yang mana raknya?”
Lucas hanya mengangguk meyakinkanku bahwa ia akan baik-baik saja selama aku tinggal masuk ke dalam kamar.
“Night Liv. Sleep well,” kata Lucas lagi, kali ini ia sambil mulai memainkan game di ponselnya.
Aku tersenyum dikulum, “Night, Cas. Makasih ya,” balasku lalu aku segera masuk ke dalam kamarku yang terletak tidak jauh dari ruang tengah.
Di kamar, aku tersenyum senang. Setidaknya malam ini aku tidak perlu khawatir dan aku bisa tidur dengan nyenyak. Thank you, Lucas.