Ma Cherie

Sabtu, 29 November 2020

“Dejun!”

Aku menoleh mencari asal suara yang memanggilku dan aku tidak bisa menahan senyumku saat mengetahui siapa yang memanggilku.

“Kamu belum tampil kan? Ih aku takut ketinggalan,” keluhnya begitu ia didekatku. Aku refleks merangkul bahunya dan mengajaknya berjalan beriringan, “Enggak kok, aku tampil sekitar 1 jam-an lagi.”

Raut wajahnya langsung berubah tenang begitu mendengar jawabanku, “Syukur deh, kan gak seru banget udah jauh-jauh dari rumah kesini malah nggak bisa nonton pacar aku.”

Aku mencubit hidungnya gemas dan disambut dengan sebuah protes, “Dejun! Ih, idungku jadi merah nih!”

Tiba waktuku untuk tampil di atas panggung, menampilkan apa yang aku dan rekan-rekanku latih selama kurang lebih dua bulan terakhir. Denting piano mengawali penampilanku dan aku mulai bernyanyi.

Satu dua lagu aku melirik ke sudut kanan panggung. Supporter kecilku berdiri disana dengan matanya yang berbinar menatapku kagum, membuatku salah tingkah sendiri.

Tepuk tangannya akan menjadi tepuk tangan yang paling riuh diantara penonton lainnya, bahkan ia tidak segan meneriaki namaku dengan keras saat aku mengakhiri penampilanku.

“Bagus nggak?” tanyaku begitu aku turun dari panggung. Ia tidak langsung menjawab, malah menyodorkan sebotol air putih, “Minum dulu, tadi kamu kurang minumnya.”

Aku menurut, aku menenggak isi botol itu hingga hampir tak bersisa. “Yang, gimana? Bagus nggak?” tanyaku lagi.

“Kamu kapan jeleknya sih? Bagus banget, tau. Tahun depan kamu udah bisalah tampil di akhir acara,” balasnya dengan penuh keyakinan.

Wajahku memerah, dia memujiku terlalu berlebihan, “Kayaknya nggak mungkin sih tahun depan. Dua tiga tahun lagi kali ya?”

“Nggak, tahun depan. Percaya sama aku. Asalkan kamu komitmen.”

Kalimat terakhirnya sukses mengubah hidupku.

*

Minggu, 28 November 2021

Awalnya kupikir karir musik ini hanya sekedar menjadi selingan saja, tidak pernah terpikir olehku untuk serius di bidang ini. Namun, semua itu berubah sejak percakapan kami setahun lalu.

Dan kini aku berdiri di panggung yang jauh lebih besar daripada tahun lalu, dengan susunan acara yang memposisikanku sebagai penampil terakhir.

Semua perkataannya benar, komitmen dan kerja keras mengantarkanku sampai di titik ini, titik yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Tapi tidak hanya itu saja, dia juga menjadi salah satu alasan aku bisa sampai disini.

“Selamat malam semuanya, sebelum saya menyanyikan lagu terakhir saya ingin berterima kasih, untuk seseorang yang membuat saya berada di atas panggung ini malam ini.”

Keadaan yang tadinya riuh berubah menjadi tenang, semua mata yang hadir malam itu tertuju padaku, “Terima kasih, untuk dukungan dan cinta yang kamu berikan. Semoga kamu beristirahat dengan tenang di dalam keabadian.”

Aku mulai memetik gitar sebagai intro disusul dengan iringan piano dan juga bass. Aku mulai bernyanyi sambil sesekali melirik ke sudut kanan panggung. Dia yang biasanya berdiri disitu, sudah tidak pernah hadir lagi sejak enam bulan lalu karena Tuhan lebih mencintai dia daripada aku.

Kepergiannya karena penyakit leukimia yang dideritanya cukup membuatku terpuruk. Tapi aku tau, dia tidak akan senang di atas sana kalau aku terus-terusan bersedih. Sejak ia pergi, aku berusaha setegar mungkin untuk memberikan yang terbaik dalam setiap penampilanku hingga hari ini, hari yang paling ingin aku banggakan di depan dia datang.

Aku berusaha menahan air mataku sampai pada lirik terakhir yang ku nyanyikan. Saat musik berhenti tanda lagu selesai, tepuk tangan penonton menggema memenuhi tempat itu. Diantara confetti yang berhamburan dan saat semua sedang berbahagia, akhirnya aku menangis.

“Aku berhasil. Terima kasih, buat semuanya. I'll always love you, ma cherie.”

END written by goldeneunoia