Jujur

“Kun, kenapa kamu tiba-tiba ajak saya makan malam keluar?” tanya Alyssa setelah dirinya dan Kun selesai memesan menu makan malam mereka kepada pramusaji yang melayani mereka.

Kun mengangkat bahunya, “Nggak ada alasan khusus, saya cuma lagi kepengen makan di luar aja,” jawab Kun setengah berbohong.

“Tapi kan nggak usah di tempat kayak gini,” Alyssa lalu memelankan suaranya, “Kan lumayan, mahal,” sambungnya lagi.

Kun tersenyum memamerkan gigi putih dan lesung pipinya sekaligus, “Sesekali Lys, apa salahnya?”

“Iya juga ya...”

Keduanya lalu terdiam. Alyssa memandangi sekelilingnya sementara Kun memperhatikan wanita itu. Pikirannya kembali dipenuhi dengan percakapan dirinya dengan Jocelyn dan Saka tadi siang.

'Bisa-bisanya gue nurutin kata-kata dua bocah itu,' keluh Kun dalam hati.

“Kun, makanannya dateng,” Alyssa membuyarkan lamunan Kun. Pramusaji menaruh dua piring Fettucini Carbonara di atas meja mereka.

“Makasih banyak ya, Kun,” ucap Alyssa sebelum ia menyantap makan malamnya. Kun hanya mengangguk lalu ia juga mulai menyantap makan malam miliknya.

“Gimana, enak kan?” tanya Kun setelah mereka menyelesaikan makan malamnya. Alyssa mengangguk, “Iya, makasih banyak ya,” balas Alyssa.

“Mau dessert?” tawar Kun canggung.

“Dessert? Kamu mau?” Alyssa malah bertanya balik, membuat Kun makin merasa canggung.

“Saya pesenin dulu ya, sebentar.” Kun kemudian memanggil pramusaji yang tadi melayani mejanya dan memesan dua ice cream chocolate.

“Lys, boleh saya jujur sama kamu?” tanya Kun setelah ia beberapa saat ia kembali diam dan menciptakan suasana canggung di antara mereka berdua.

“Boleh. Ada apa, Kun?”

Kun mengusap tengkuknya, “Saya nggak tau harus ngomong yang proper kayak gimana,” Kun berhenti sesaat, “Saya suka sama kamu, Lys.”

Alyssa yang sedari tadi menunggu Kun berbicara, menatap lelaki itu dengan tatapan bingung, “Maksud kamu?” tanya wanita itu.

“Y-ya, saya suka sama kamu, Lys. Saya mau jalanin hubungan yang serius sama kamu,” walau sedikit tergagap, Kun bisa menjawab pertanyaan Alyssa barusan.

“Kun,” panggil Alyssa pelan, “Maaf, tapi saya nggak bisa balas perasaan kamu,” sambung Alyssa, “Dengan kondisi saya kayak gini, saya nggak bisa. Saya harap kamu bisa ngerti.” Alyssa menutup kalimatnya.

Kun merasa kecewa tapi ia berusaha menutupinya agar Alyssa tidak merasa bersalah kepada dirinya, “Saya paham kok, Lys. Maaf tiba-tiba saya begini. Anggap aja saya nggak pernah ngomong apa-apa ke kamu,” balas Kun sambil tersenyum kaku.

Alyssa hanya mengangguk pelan walaupun ada rasa yang janggal, entah kenapa ia merasa kecewa dengan keputusannya barusan.