Blue Sky Collapse

March 1st, 2020

“Udah dimana, Jae?” suara seorang perempuan terdengar di ujung telepon milik Jaehyun.

“Sebentar ya, aku lagi cari parkir,” jawab Jaehyun singkat, “Eh ini aku udah nemu parkirannya, aku harus kemana?” tanya Jaehyun setelah beberapa saat.

“Aku depan Starbucks, tanya satpam aja.”

“Oh, oke. Jangan matiin telfonnya dulu.”

Jaehyun mengikuti saran perempuan itu, bertanya satpam dimana Starbucks berada. Tidak lama, ia dan perempuan itu langsung bertemu.

“Hai, sorry lama,” ujar Jaehyun dengan perasaan bersalah. Perempuan itu menggeleng pelan, “Enggak kok, aku juga baru nyampe.”

“Mau kopi?” tawar perempuan itu. Jaehyun menggeleng, “Nggak deh, nanti aja sebelum balik. Udah pesen taksinya?”

“Udah. Itu deh kayaknya,” jawabnya sambil menunjuk city car berwarna merah yang baru saja menepi tidak jauh dari lokasi mereka berdiri.

“Oh iya, yaudah ayo.”

Jaehyun dan perempuan itu segera masuk ke dalam mobil dan mobil itu segera melaju menuju titik antar yang sesuai dengan aplikasi.

“Udah siapin apa aja buat ujian?” perempuan itu membuka percakapan di dalam mobil. Dengan antusias Jaehyun menunjukkan beberapa lagu dari file di ponselnya.

“Aku rencana main ini, atau main ini. Menurutmu bagusan yang mana?” tanya Jaehyun balik.

“Kayaknya salah orang deh, jelas-jelas jagoan kamu. Kok nanyanya ke aku.”

Jaehyun tertawa pelan, “Pengen tau aja pilihan kamu.”

Perempuan itu bolak-balik menggeser layar ponsel Jaehyun, “Kayaknya Brahms aja, Schubert too high risk nggak sih?”

“Sama aja sih sebenernya. Mau dengerin lagunya?” Jaehyun menyodorkan airpods kiri miliknya. Perempuan itu mengangguk, memakai airpods itu dan keduanya terlarut dalam sebuah permainan piano milik Brahms: Intermezzo in A, Op.118, No.2.

“Cantik banget,” puji perempuan itu begitu permainan piano di Spotify milik Jaehyun berakhir. Jaehyun hanya manggut-manggut tanda ia setuju sambil menyimpan kembali airpods dan ponselnya ke dalam tas kecil miliknya.

Tidak terasa mereka tiba di tujuan mereka, Java Jazz 2020. Begitu masuk, keduanya sama-sama sibuk sendiri melihat keadaan sekitar. Perempuan itu sibuk mencari jadwal tampil artis yang mereka ingin tonton, sementara Jaehyun hanya memandangi perempuan itu.

“Ke stage sini mau nggak?” tanya perempuan itu sambil menunjukkan ponselnya kepada Jaehyun. Jaehyun hanya mengangguk, “Yuk,” jawabnya singkat.

Begitu banyak orang sehingga kadang Jaehyun dan perempuan itu terpisah, membuat Jaehyun akhirnya memegangi ujung baju bagian lengan perempuan itu. “Biar nggak kepisah,” ucap Jaehyun pelan.

Perempuan itu hanya diam. Jaehyun sangat sulit ditebak, dari pertemanan mereka di Instagram sampai bertemu tatap muka, ia tidak pernah tahu bagaimana perasaan lelaki itu terhadap dirinya. Mengobrol setiap hari baik melalui DM di Instagram maupun di Whatsapp, tidak cukup bagi ia untuk memahami Jaehyun.

“Bagus ya,” komen Jaehyun membuyarkan lamunan perempuan itu. Permainan gitar yang apik dari Tohpati sore itu mengawali acara nonton bareng mereka sore itu.

“Eh, kamu tuh pernah nonton Java Jazz nggak sih?” tanya Jaehyun saat dia dan Kayra sedang duduk menikmati promosi buy get one di Starbucks minggu sore itu.

Kayra mengangguk, “Pernah. Sekali. Sama mantan.”

Jaehyun hanya membulatkan bibirnya, “Berminat nonton lagi nggak?”

Kayra menoleh, “Kamu mau nonton?” dan pertanyaan itu dijawab dengan anggukan antusias dari Jaehyun, “Sama kamu, yuk? Beli tiketnya sekarang,” balasnya sambil membuka website resmi Java Jazz.

*“Eh, serius beli sekarang?” Kayra agak tidak percaya