Perpisahan
“Sheryl mana? Dia udah siap kan?”
Bukannya menjawab pertanyaan Simon, Alyssa bertelut di depan kaki Simon yang masih berdiri di depan pintu rumahnya, “Simon, please... Aku mohon...”
“Bangun, Lys,” balas Simon tanpa ekspresi apapun, “Bi Santi, tolong Sheryl dipanggil sekalian bawain kopernya,” sambung Simon berbicara kepada Bibi Santi yang kebetulan melintas tidak jauh dari pintu rumah Alyssa.
“I-iya, Pak,” balas Bibi Santi terbata, lalu ia segera masuk ke dalam kamar Sheryl.
“Simon, please...” masih bertelut, ia kembali memohon kepada Simon untuk tidak membawa Sheryl pergi dari rumah. Simon terlihat acuh, ia berusaha masuk ke dalam rumah tetapi Alyssa menahan kaki Simon.
“Lys, apa-apaan sih! Kalau Sheryl liat gimana?” protes Simon sambil berusaha mendirikan Alyssa yang masih memegangi kakinya.
Tepat sekali saat Alyssa berdiri dengan paksaan dari Simon, Sheryl keluar dari kamarnya, “Papa!!” panggil si kecil Sheryl dengan penuh semangat. Ia berlari menghampiri sang ayah.
Simon sedikit berjongkok lalu saat Sheryl menghamburkan diri dalam pelukannya, ia segera menggendong gadis kecil itu, “Hai, sayangku,” ucap Simon lalu ia mencium pipi Sheryl.
Perhatian Sheryl teralihkan saat melihat ibunya hanya tertunduk, sedang berusaha menyembunyikan tangis dan kesedihannya dibalik rambut panjang yang dibiarkan tergerai, “Mama, Mama sakit?” tanya Sheryl khawatir.
Alyssa buru-buru menyeka air matanya lalu ia membalas tatapan Sheryl, “Nggak, Mama sedikit pilek aja. Mungkin karena masih pagi, udaranya masih dingin,” balas Alyssa bohong.
“Kalau Mama sakit, Sheryl nggak mau pergi sama Papa, ah. Sheryl mau jaga Mama di rumah.”
Ucapan Sheryl sukses membuat hati Alyssa mencelos. Ia tidak sanggup membayangkan hari-hari berikutnya tanpa kehadiran Sheryl di sisinya.
“Tapi Oma udah nungguin Sheryl lho, Oma mau ajak Sheryl main ke Kidzania,” Simon berusaha mengalihkan perhatian Sheryl tapi anak itu menggeleng, “Nggak mau, Sheryl nggak mau pergi pokoknya.”
Simon melirik ke arah Alyssa, memberi kode agar ia membujuk Sheryl supaya mau ikut dengannya, “Sheryl, Mama nggak papa. Beneran deh. Sheryl pergi sama Oma aja ya?” bujuk Alyssa.
Sheryl terlihat sedikit kecewa, “Tapi Mama beneran nggak papa?”
Alyssa mengangguk meyakinkan putrinya itu sambil mengelus puncak kepala Sheryl, “Iya, sayang,”
“Nanti malem Sheryl bobo sama Mama lagi, ya?”
Untuk sesaat, baik Alyssa maupun Simon saling pandang satu sama lain, “Sama Papa kapan? Papa juga mau temenin Sheryl bobo,” kali ini giliran Simon yang berusaha membujuk Sheryl.
“Hmm... Yaudah deh sama Papa. Tapi Papa nanti beliin Sheryl es krim,” balas Sheryl polos.
“Oke, siap Tuan Putri! Sekarang kita berangkat ya? Oma udah nungguin Sheryl di rumah,” ucap Simon dan dibalas dengan anggukan semangat dari Sheryl. Sheryl polos yang sama sekali tidak tahu permasalahan diantara kedua orang tuanya.
“Aku pergi dulu,” ucap Simon pelan kepada Alyssa. Alyssa hanya mengangguk dan saat Simon berbalik ia mendapati Sheryl yang melambaikan tangan mungilnya, “Bye Mama, Sheryl pergi dulu. I love you, Mama!”
“Bye sayang. Have fun ya, mainnya. Mama loves Sheryl...” balas Alyssa setegar mungkin.
“Ibu, saya ikut pergi sama non Sheryl ya. Bapak yang minta ke saya,” ucap Bibi Santi berpamitan.
“Ohiya, Bi. Titip Sheryl ya, Bi. Tolong selalu kasih kabar Sheryl ke saya.”
“Iya, Bu. Pasti,” balas Bi Santi lalu ia segera keluar dari rumah itu dan meninggalkan Alyssa seorang diri di rumah. Begitu mobil Simon terdengar pergi meninggalkan rumah, tangis Alyssa pecah.