Day 1
Ten memandangi pantulan dirinya di cermin ruang tunggu pengantin pria pagi itu. Tersisa dirinya sendiri disana, disaat staff yang membantunya bersiap sudah pergi dan Winwin sebagai groomsmen sudah pergi ke hall terlebih dahulu.
Perasaan gugup yang pernah dirasakan 3 tahun sebelumnya kembali ia rasakan. Tangannya berkeringat dingin, perasaan was-was campur takut itu ada, namun ia yakin kejadian buruk waktu itu tidak akan terulang.
Lamunannya buyar saat staff wedding organizer mengetuk pintu kamar Ten dan mengatakan bahwa ia harus segera bersiap untuk masuk ke dalam hall.
“Udah siap, Jo?” tanya sang ayah begitu staff wedding organizer memberikan kode untuk Jocelyn masuk ke dalam hall.
Jocelyn menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, lalu ia mengangguk yakin. Tangannya merangkul lengan sang ayah, sembari menggenggam buket bunga dengan sangat kuat, karena ia sangat gugup.
Jocelyn berjalan menuju altar bersama sang ayah, dengan iringan lagu yang dinyanyikan merdu oleh paduan suara dari teman-teman ibunya. Di ujung aisle, Ten dan Pastor sudah menunggu Jocelyn.
Sampai di hadapan Ten, ayah Jocelyn melepas rangkulan tangan putrinya dan menyerahkan tangan Jocelyn kepada Ten sebagai tanda bahwa mulai detik ini sang ayah mempercayakan Jocelyn kepada Ten.
Dibalik veil yang dikenakannya, Jocelyn tidak berhenti tersenyum bahagia, membuat siapapun termasuk Ten yang berada di hadapannya ikut tersenyum.
Setelah mendengarkan khotbah dari Pastor, kini saatnya Ten dan Jocelyn untuk saling mengucapkan janji suci.
”... Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, dan pada waktu sehat maupun sakit. Untuk selalu saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita...”
Tidak ada kesalahan seperti yang mereka takutkan malam sebelumnya. Semua berjalan lancar hingga Ten memasangkan cincin pernikahan di jari manis Jocelyn dan Jocelyn juga memasangkan cincin milik Ten di jari lelaki itu.
Ten membuka veil Jocelyn, ia menatap lekat perempuan yang kini sah ia sebut sebagai istrinya.
Ten kemudian mencium kening perempuan itu, “Jocelyn, you’re my day one. I love you.”
“I love you too, Ten Lee.”