Keputusan
Waktu menunjukkan pukul 10 malam saat Kun selesai menganalisa kliennya yang terakhir. Tidak mudah baginya untuk menangani beberapa klien sekaligus tapi ia sendiri yang memaksa Hans untuk menugasinya dengan setumpuk pekerjaan agar kepalanya tidak dipenuhi hal lain.
Iya, hal lain itu tak lain tak bukan adalah Alyssa.
Selesai merapihkan meja kerjanya, Kun segera mematikan lampu meja miliknya dan keluar dari kantornya yang sudah gelap. Setelah berpamitan dengan security yang bertugas malam itu, ia menaiki lift untuk turun ke lantai dasar.
Lantai dasar gedung perkantoran itu sudah kosong, bahkan beberapa lampu dimatikan sehingga pencahayaannya tidak terlalu terang, tetapi tidak mengurangi radar penglihatan Kun yang menangkap sosok yang ia kenal betul siapa itu begitu ia keluar dari lift.
Sosok itu duduk sendirian, diantara meja-meja dengan bangku yang sudah terangkat. Ia hanya ditemani segelas kopi yang Kun yakini pasti sudah tidak bersisa lagi. Ia terlihat tenang, seperti tidak peduli sudah berapa lama ia duduk menunggu disitu.
Kun menghela nafas pendek, ia tidak punya pilihan lain selain menghampiri sosok itu. “Lys,” panggilnya pendek.
Yang dipanggil menoleh lalu memberikan senyuman terbaiknya, “Udah selesai semua kerjaannya?” tanyanya seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka.
“Kamu ngapain disini? Saya kan udah bilang saya banyak kerjaan.”
“Dan saya juga bilang saya perlu bicara sama kamu,” balas sosok bernama Alyssa itu lugas.
Kun memijat pelipisnya, “Apa yang mau dibicarain, Alyssa?”
“Tolong kamu berhenti bersikap dingin sama Saka,” jawab Alyssa dan dibalas Kun dengan seringai kecil.
“Saya nggak bersikap dingin sama dia, saya memang kayak gini. Kantor lagi hectic hour, nggak ada waktu buat bercandaan.”
“Saya tau kamu marah sama dia karena dia ajak kita makan malam Jumat kemarin dan berujung dengan sikap saya ke kamu pas kita pulang.”
Alyssa menghela nafas, berusaha untuk tidak terbawa emosinya, “Harusnya yang marah itu saya, Kun. Kenapa jadi kamu?”
Kun tidak langsung menjawab pertanyaan Alyssa, ia hanya melihat sekilas wanita itu yang masih menatapnya lekat.
Sama sekali tidak terlihat amarah dalam tatapannya, malah tatapan teduh penuh dengan rasa penasaran yang ia berikan kepada Kun.
“Harusnya saya yang marah, saya yang belum siap, saya yang masih bergelut sama perasaan saya sendiri, bukan kamu.” Alyssa melanjutkan lagi kalimatnya.
“Saya juga marah, Lys,” kali ini Kun angkat bicara, “Saya marah sama diri saya sendiri. Saya nggak bisa tahan ego saya dengan bersikap seperti kemarin. Saya yang terlalu berekspetasi tinggi sama kamu, saya—“
Kalimat Kun terputus karena kini Alyssa memeluk pria itu erat. Sangat erat hingga Kun dapat merasakan hangatnya pelukan itu mampu meluruhkan segala emosi yang berkecamuk di hatinya sejak beberapa hari lalu.
“Berhenti salahin diri kamu sendiri, Kun. Tolong berhenti...” ucap Alyssa lirih dan tanpa ia sadari, air matanya mengalir pelan di pipinya.
“Maaf, karena sikap saya kemarin, saya bikin kamu jadi begini. Maaf,” sambung Alyssa lagi.
Kun segera melepaskan diri dari pelukan Alyssa, ibu jarinya dengan lembut menghapus air mata dari wajah wanita itu, “Lys, berhenti nangisnya,” pinta Kun pelan.
Alyssa mengangguk, “Tapi kamu juga tolong berhenti salahin diri kamu sendiri ya? Dan juga berhenti bersikap dingin sama Saka.”
Gantian Kun yang mengangguk pelan, ia kembali mengusap wajah Alyssa memastikan tidak ada air mata yang tertinggal.
Masih dengan jarak berdiri yang berdekatan, Alyssa memanggil pria itu, “Kun,” lalu tangannya menangkap tangan kanan Kun dan digenggamnya erat, “Maaf kalau saya jawab pertanyaan kamu terlambat,” sambung Alyssa.
Kun menaruh perhatiannya penuh pada Alyssa, menunggu kalimat selanjutnya yang keluar dari mulut wanita itu, “Tentang perasaan saya... saya mau coba balas perasaan kamu ke saya.”
Kun menunjukkan ekspresi yang sulit dideskripsikan, kaget tidak percaya bercampur senang tapi belum sepenuhnya ia bisa senang, semua jadi satu.
“Alyssa, kamu yakin?” tanya Kun meyakinkan wanita itu.
Alyssa mengangguk pelan, “Saya udah pikirin ini baik-baik, Kun. Saya harap saya nggak buat keputusan yang salah lagi.”
Kun tersenyum manis, manis sekali hingga kedua lesung pipinya terlihat jelas di wajahnya. Senyuman yang selama ini ia sembunyikan dibalik self-blaming nya.
“Saya pastikan kamu nggak buat keputusan yang salah, Alyssa.”