Kita
Sebuah keputusan yang tepat bagi Alyssa untuk menyekolahkan Sheryl tidak jauh dari kantornya agar jika ada urusan mendadak ia bisa segera datang, seperti halnya siang ini.
Saat Alyssa sedang bersiap untuk makan siang dengan Kun, wali kelas Sheryl menelepon dan menginfokan kalau Sheryl menangis dan merajuk tidak mau mengikuti kegiatan sekolahnya hari itu.
Sepanjang perjalanan menuju sekolah Sheryl, terlihat raut cemas di wajah Alyssa. Kun melirik sekilas dan ia berusaha untuk menghibur Alyssa, “Sheryl nggak kenapa-napa, Lys. Namanya juga anak-anak, pasti ada masanya dia ngambek kayak gini. Yang penting dia baik-baik aja, masih di sekolah dan dalam pengawasan gurunya.”
Alyssa hanya mengangguk, Kun ada benarnya juga. Ia akhirnya berusaha untuk lebih tenang hingga mobil Kun tiba di halaman parkir sekolah Sheryl.
Begitu melihat sosok ibunya, Sheryl berlari sambil menangis, “Mama...” panggil Sheryl merengek.
Alyssa memeluk Sheryl lalu menggendongnya sambil berusaha menghapus air mata Sheryl, “Sheryl kenapa? Kok nangis?”
“Sheryl nggak mau sekolah!” jawab Sheryl dan tangisnya semakin keras. Alyssa berjalan menuju ujung koridor agar tangis Sheryl tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar siang itu. Sementara Kun mengajak wali kelas Sheryl untuk bicara yang sedari tadi berdiri disana bersama mereka.
“Maaf Bu, apa yang terjadi sama Sheryl ya? Karena yang saya tahu Sheryl anaknya semangat sekali setiap mau sekolah.”
Wali kelas Sheryl menunjukkan raut wajah tidak mengenakkan tapi mau tidak mau ia harus menjelaskan titik permasalahannya, “Teman-teman Sheryl mengejek kalau Sheryl nggak punya papa lagi karena papanya menikah lagi dengan orang lain.”
Kun menghela nafas pendek, ia yakin lambat laun Sheryl pasti akan mengetahui kabar pernikahan kedua papanya dan buruknya ia mengetahui kabar itu dari orang lain, bukan dari mama ataupun papanya.
Selesai berbicara dengan wali kelas Sheryl, Kun berpamitan dan menghampiri Alyssa yang kini berada di taman sekolah, sedang berusaha menenangkan Sheryl sekaligus mengajak putri kecilnya untuk bicara.
“Sheryl,” panggil Kun lembut. Sheryl yang sedari tadi menggayut manja pada ibunya menoleh, “Om Kun?”
Kun mengangguk pelan sambil tersenyum, “Nggak sadar ya, ada Om disini?”
Sheryl menggeleng, “Sheryl nggak mau sekolah,” ucapnya lagi. Entah sudah berapa kali setiap ditanyai pertanyaan Sheryl akan selalu menjawab dengan jawaban yang sama.
Sheryl kemudian kembali memalingkan wajahnya dan menyandarkan dagunya di atas bahu Alyssa. Ia sudah tidak menangis, tapi masih mogok untuk bicara.
“Lys, dia tau,” ucap Kun pelan. Pelan dan sebisa mungkin bahasanya tidak dimengerti Sheryl. Dahi Alyssa sedikit berkerut karena ia juga ikut tidak mengerti.
“Dia tau pernikahan papanya,” ucap Kun lagi.
Begitu Alyssa paham, ia langsung menghela nafas panjang lalu melirik Sheryl yang sepertinya tertidur di pelukannya.
“Saya harus gimana, Kun?” tanya Alyssa bingung.
“Nanti kita coba ajak bicara Sheryl lagi. Sekarang saya anter kamu sama Sheryl pulang dulu yuk,” balas Kun sambil memberikan kunci mobilnya ke Alyssa, “Kamu duluan aja ke mobil, saya ambil tasnya Sheryl dulu di kelas.”
Belum sempat Alyssa membalas kalimat Kun, pria itu sudah pergi meninggalkannya. Alyssa menatap punggung Kun yang perlahan menjauh darinya.
Pria yang selalu ada setiap Alyssa kesulitan, bahkan disaat Alyssa merasa bahwa ia tinggal sendiri, pria itu hadir. Tidak peduli apapun masalah yang menerpa dirinya, ia selalu memberikan pertolongan pada Alyssa.
Satu hal yang Alyssa tidak bisa berhenti kagumi, ia selalu menyematkan kata “kita” pada setiap kalimatnya, meyakinkan Alyssa kalau segala persoalan selalu lebih baik jika dihadapi bersama.