Restu

“Mama!!” panggil Sheryl bersemangat saat ia melihat sosok ibunya sedang menunggu di lobby. Alyssa tersenyum menyambut putrinya yang meminta dirinya untuk dipeluk dan digendong.

“Hai sayang, gimana mainnya sama Om Kun? Seneng nggak?” tanya Alyssa sambil merapihkan poni Sheryl yang sedikit berantakan.

Sheryl mengangguk, “Tadi Sheryl main sama Om ganteng dua. Soalnya Om ganteng satu sibuk.”

Alyssa mengerutkan dahinya bingung sambil menatap Kun sementara Kun hanya menyengir datar memamerkan giginya, “Saya titipin Sheryl ke Saka, hehe.”

Alyssa menghela nafas panjang, “Tuh kan, Kun, kamu juga ternyata sibuk. Kalau gini mending Sheryl di rumah aja. Kasian Saka,” ucap Alyssa.

Mendengar protes Alyssa, Kun justru tersenyum. Alyssa terlihat dua kali lipat lebih cantik saat ini, “Saka nggak papa kok, Lys. Saya sama sekali nggak ancem dia. Kebetulan kerjaannya dia juga nggak banyak,” balas Kun setengah berbohong; bagian ancam-mengancam Saka tentu saja Kun tidak bisa jujur dengan Alyssa.

“Sheryl sekarang makan siang terus pulang ya? Nanti di rumah main lagi sama Bi Santi.” Alyssa kini gantian mengajak Sheryl bicara. Sheryl hanya mengangguk tanda ia setuju.

*

Selesai makan siang di mal seberang kantor Kun dan Alyssa, kini mereka bertiga kembali dalam perjalanan untuk mengantar Sheryl pulang.

Kali ini tidak ada percakapan baik antara Kun dengan Alyssa ataupun Kun dengan Sheryl, membuat atmosfir canggung tercipta di dalam mobil itu.

“Om,” tiba-tiba si kecil Sheryl memanggil dari car seat nya di jok belakang.

“Apa Sheryl?” tanya Kun sambil melihat Sheryl dari kaca spion tengah.

“Om suka sama Mama ya?”

Baik Kun maupun Alyssa sama sekali tidak menyangka pertanyaan itu akan keluar begitu saja dari mulut Sheryl.

“Eh, kenapa Sheryl bisa nanya gitu?” tanya Kun sedikit tergagap.

“Soalnya Om baik banget sama Mama.”

“Orang lain juga baik sama Mama kok, Nak,” Alyssa ikut menimpali percakapan mereka.

Sheryl menggeleng, “Nggak. Papa jahat, Oma jahat. Tante di Jogja jahat. Yang baik cuma Om Kun, Bi Santi sama Om Saka. Tapi yang paling baik Om Kun,” balas Sheryl polos.

Alyssa cepat-cepat menghapus air mata dari pelupuknya sebelum air mata itu mengalir bebas di wajahnya. Semua orang tahu kalau kalimat yang keluar dari seorang anak kecil adalah kalimat paling jujur dari lubuk hati mereka.

“Hmm... kalau bener Om suka sama Mama gimana, Sheryl?” Kun memberanikan diri bertanya pada Sheryl karena bagi Kun ia tahu saat ia jatuh hati pada Alyssa, ia harus memenangkan dua hati sekaligus; Alyssa dan juga Sheryl.

“Bagus!” jawab Sheryl sambil mengacungkan jempolnya ke arah Kun. Kun tertawa pelan sementara wajah Alyssa terlihat sedikit memerah.

“Jadi boleh ya, Om suka sama Mama?” Kun sekali lagi berusaha meyakinkan Sheryl.

Sheryl mengangguk semangat hingga kunciran di rambutnya bergoyang mengikuti gerakan kepala, “Boleh dong, Om!”

Kun tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya, ia tersenyum sembari melirik ke arah Alyssa yang tersipu malu. Kemudian dengan sisa keberanian yang ada dia meraih tangan kanan Alyssa; digenggamnya erat tangan itu sambil sesekali dielus perlahan.

’Alyssa, start from now I want you to walk on flowery path only.’