Guilt
cw // slight 🔞
Olivia mengenakan cardigan nya dengan malas saat ia mendengar deru mesin mobil milik Darren di depan rumahnya. Sebenarnya ia enggan bertemu Darren malam itu, selain waktunya yang memang sudah terlalu malam untuk seseorang bertamu, ada perasaan aneh lainnya yang sulit diungkapkan Olivia.
“Hi, Liv,” sapa Darren saat ia keluar dari mobilnya dan mendapati Olivia berdiri di ambang pintu rumahnya.
“Ada apa, Ren?” tanya Olivia tanpa basa-basi. Ia merapatkan cardigannya saat udara dingin berhembus dan membuat tubuhnya sedikit menggigil.
“Ngobrol di dalem aja yuk, biar lo nggak kedinginan,” jawab Darren. Ia membalikkan tubuh Olivia lalu mendorong bahu perempuan itu agar ia masuk ke dalam. Olivia seperti tidak punya pilihan lain selain menuruti kemauan Darren.
“Ada apa, Ren?” Olivia mengulang pertanyaannya setelah mereka duduk berdampingan di sofa ruang tamu.
“Mm sebenernya gue nggak mau ngelakuin ini disini, Liv. Gue udah ada rencana sendiri. Tapi kayaknya gue nggak bisa nunggu sampe waktu yang seharusnya.”
Dahi Olivia berkerut. Sungguh ia tidak paham dengan maksud Darren. Sudah terlalu malam, otaknya sudah malas untuk berpikir.
“Gue suka sama lo, Liv.” Darren memperjelas kalimatnya.
Olivia terdiam. Dilihatnya Darren yang kini mengambil kedua tangannya dan menggenggamnya dengan cukup erat, “Lo mau kan, jadi pacar gue?”
Olivia tidak langsung menjawab pertanyaan Darren. Sebenarnya pertanyaan itu mudah karena ia juga menyukai lelaki itu. Tapi entah kenapa mulutnya sulit diajak bekerjasama seolah sebagian dari dirinya melarang dia untuk memacari lelaki itu.
“Liv? Gue tau lo juga suka sama gue. Dari pertama kali kita ketemu, terus kita sempet bareng di beberapa event, gue tau lo suka gue. Dan gue juga suka sama lo. So, kita pacaran ya?”
Walaupun mulut Olivia tidak menjawab ya, tetapi kepalanya mengangguk, mengiyakan ajakan Darren.
Darren tersenyum lebar, kemudian tangannya mulai mengusap pelan puncak kepala Olivia, menyelipkan rambut panjang Olivia ke balik telinga perempuan itu, dan berakhir dengan memegang pipi kanan perempuan itu.
Seperti tersihir oleh tatapan Darren, Olivia menutup pelan matanya saat Darren mendekatkan wajahnya. Sedetik kemudian, Olivia dapat merasakan bibir lembab Darren menyentuh bibirnya.
Ini kali pertama untuk Olivia dan ia sama sekali tidak tahu harus bagaimana. Ia hanya mengikuti Darren yang kini mulai melumat bibirnya.
“Liv, tau French Kiss nggak?”
Olivia menggeleng polos. Darren hanya tersenyum kecil dan ia kembali membungkam Olivia dengan ciumannya dan mendorong Olivia perlahan hingga perempuan itu sepenuhnya rebah di atas sofa dan kini tangan kirinya yang masih bebas bergerak mulai membuka cardigan milik Olivia.
Tapi semua itu hanya sesaat. Seperti disadarkan dari sihir Darren, Olivia mencengkram tangan kiri Darren dengan kuat sehingga lelaki itu berhenti, lalu ia segera duduk lagi.
“Liv? Kenapa?”
“Ren, kita baru jadian lho? Aku pikir nggak seharusnya kita begini?”
Darren mendengus pelan, “Itu cuma pikiran kamu aja, Liv. Kayak gini hal biasa kok. Kita saling suka, apa salahnya?”
“Tetep aja, aku nggak bisa,” balas Olivia lagi.
Darren terlihat kecewa tapi sedetik kemudian raut kecewanya berubah menjadi senyuman, “Oke sayang,” ucapnya dengan tawa yang agak dipaksakan.
“Kamu pulang ya? Udah kemaleman, aku nggak enak sama tetangga.”
Darren bangkit dari duduknya, “Oke, kalo gitu aku pulang dulu. Met malam, cantikku,” ucap Darren lalu ia mengecup pelan kening Olivia dan segera pergi dari situ.
Lima menit setelah kepergian Darren, air mata Olivia mengalir. Ia merapatkan kembali cardigannya lalu ia meringkuk di atas sofa ruang tamunya, pikirannya seperti menyesali keputusan yang ia buat beberapa menit lalu.