Buka Hati

“Om Kun!!!” panggil Sheryl semangat saat melihat sosok Kun di depan pintu rumahnya. Ia tidak segan untuk menghamburkan dirinya dalam pelukan Kun, membuat pria itu tidak punya pilihan lain selain menangkapnya dan membalas pelukannya.

“Hai cantik, apa kabar?” tanya Kun setelah Sheryl melepas pelukannya.

“Baik dong, Sheryl udah mulai sekolah dong, Om. Ohiya terus Sheryl juga ikut les ballet. Nanti kapan-kapan Om harus liat Sheryl ballet ya?”

Kun mengangguk tersenyum sambil mengacak pelan poni Sheryl.

“Hai Kun,” sapa Alyssa ramah. Wanita itu terlihat berbeda dengan penampilan sebelumnya saat ia masih kalut dengan permasalahan Sheryl. Wajahnya terlihat lebih berseri sementara gaya pakaiannya terlihat lebih modis.

“Hai, Lys,” balas Kun sambil menatap kagum Alyssa. Pagi itu Alyssa hanya mengenakan kaos putih polos dengan celana jeans skinny semata kaki dan dipadu dengan sepatu heels setinggi 3cm, rambut panjangnya dicepol asal. Sederhana, tapi mampu memikat hati siapapun tidak terkecuali Kun.

“Kita langsung berangkat aja ya?” tanya Kun dan dijawab dengan anggukan Alyssa.

*

Sabtu itu Kun memutuskan mengajak Sheryl dan Alyssa menghabiskan waktu di Sentul, kebetulan Kun menemukan restoran untuk makan siang yang juga memiliki playground untuk anak-anak bermain.

“Kun, makasih banyak ya, sebenernya nggak perlu repot-repot lho sampe ajak saya dan Sheryl ke Sentul kayak gini,” ucap Alyssa di tengah acara makan siang mereka.

Kun tersenyum simpul, “Duh Lys, berapa kali saya harus bilang, kamu dan Sheryl nggak pernah ngerepotin saya sama sekali.”

Alyssa hanya mengusap tengkuknya, lalu dilihatnya Sheryl yang sedang berlari kecil menghampiri meja mereka, “Sheryl seneng gak hari ini?” tanya Alyssa saat si kecil Sheryl sedang mengesap jus Alpukat.

Sheryl mengangguk-angguk, “Seneng, Ma. Bisa nggak tiap minggu kita pergi kayak gini?” tanyanya polos.

Alyssa langsung melihat ke arah Kun yang sudah siap untuk menjawab pertanyaan Sheryl, “Mm mungkin nggak setiap minggu, tapi kalau sebulan sekali, Sheryl mau?” tawar Kun.

“Mau!!” jawab Sheryl senang lalu putri kecil itu kembali bermain di playground yang terletak tidak jauh dari mejanya.

“Kun...”

“Lys, saya tahu alasan kamu tolak saya karena Sheryl. Tapi saya mau buktiin ke kamu kalau saya sama sekali nggak keberatan dengan keberadaan Sheryl. Saya mau buktiin kalau saya nggak cuma sayang sama kamu, tapi saya juga sayang Sheryl.”

Alyssa terdiam mendengar kalimat Kun. Kalimat yang terdengar klise dan siapapun bisa dengan mudahnya mengucapkan kalimat itu. Tapi Kun terdengar tulus, tidak ada niat terselubung di balik kata-katanya.

’Kun, haruskah saya buka hati buat kamu?’