Jatuh Hati
Setelah acara makan malam keluarga
“Liv, mau Starbucks nggak?” tawar Lucas dalam perjalanan pulang kami dari Bandung kembali ke Jakarta. Aku tidak menjawab dan hanya membuang muka saat ia melirik ke arahku.
“Udahan dong ngambeknya, kan udah di-take down beritanya,” sambung Lucas dengan nada memelas.
Memang sih berita menyebalkan itu sudah tidak beredar lagi di sosial media, akupun penasaran apa yang dilakukan Lucas hingga bisa dalam waktu kurang dari 24 jam akun sebesar Nyonya Gossip menurunkan cuitannya. Padahal yang aku tau, sekali Nyonya Gossip mem-posting sesuatu, sangat kecil kemungkinan postingan itu untuk di-take down sekalipun beritanya terbukti tidak benar, mereka tetap akan membiarkan cuitannya bertengger di timeline mereka.
“Lucas, lo masih mau kerja bareng BeauSkin?” tanyaku pelan saat mobil BMW M2 Biru Metalik milik Lucas sedang mengantri di drive thru Starbucks Rest Area KM 97 Tol Cipularang.
“Masih, kan bareng sama lo, hehehe.” Lucas menjawab pertanyaanku dengan tawa kecil khasnya. Ia hanya tersenyum melihatku sekilas sebelum kembali memainkan ponselnya.
Kini pikiranku bergumul, haruskah aku menuruti kemauan Darren untuk keluar dari project Beau Skin? Karena jujur saja sebenarnya project ini bisa jadi batu loncatan untuk karirku, tapi di sisi lain aku kembali memikirkan Darren.
Sekilas alasan Darren konyol, dia memintaku keluar dari project itu hanya karena Lucas. Ia takut Lucas menyukaiku. Tapi setelah kupikir, Darren benar juga. Sikap Lucas selama ini terlalu baik untuk ukuran perjodohan. Aktingnya terlalu sempurna. Aku takut kalau dia memang benar jatuh hati padaku...
‘Atau jangan-jangan aku yang jatuh hati padanya?’
“Liv, Olivia,” panggilan Lucas membuyarkan lamunanku. Ia memberikan gelas karton putih kepadaku, “Nih gue beliin Hot Chocolate, biar nanti malem tidurnya nyenyak. Nggak usah pikirin berita yang tadi ya, gue bisa make sure Nyonya Gossip nggak bakal macem-macem sama lo lagi.”
Aku menerima hot chocolate pemberian Lucas dan terdiam memandangi lelaki itu. Sementara Lucas sendiri sibuk menyeruput sedikit demi sedikit Ice Latte nya sambil kembali menyetir dan bersenandung mengikuti alunan musik yang ia pasang di mobilnya.
“Gapapa kan gue pasang musik gini? Biar nggak ngantuk,” ucap Lucas lagi dan lagi-lagi aku menjawab mengangguk seperti orang linglung.
Karena sepenuhnya pikiranku masih dipenuhi lelaki di sampingku ini. Lelaki yang kini melihatku sekilas dan kembali bersuara, “Maaf ya Liv, nggak harusnya gosip tadi ada kalo nyokap bokap gue nggak ngajak keluarga lo makan malem di Bandung. Emang ada-ada aja emak bapak gue.”
Nada bicaranya terdengar bercanda tapi aku yakin ucapan maafnya tulus dari lubuk hati yang paling dalam.
“Darren nggak papa kan? Dia marah sama lo nggak? Atau perlu gue ngomong langsung ke Darren biar dia nggak salah paham?”
Pertanyaan Lucas makin membuatku merasa bersalah karena sedari tadi aku merutuk dan merajuk pada dirinya.
“Dia nggak papa,” jawabku singkat.
“Oh syukur deh,” terdengar helaan lega dari Lucas, “Kalo gitu sekarang lo minum itu hot chocolate nya sebelum dingin. Terus kalo mau tidur, tidur aja. Nanti gue bangunin kalo udah sampe rumah.”
Lucas kemudian kembali fokus menyetir sementara aku sepenuhnya membisu. Pikiranku semakin kusut setelah mendengar apa yang Lucas ucapkan padaku malam ini.
‘Lucas, lo ini beneran bodoh atau pura-pura bodoh sih? Kenapa semakin gue ngedorong lo buat ngejauh, lo malah kayak gini?’
Sepanjang Bandung-Jakarta, walaupun mataku terpejam tapi otakku terus berputar hingga aku sampai di satu tekad yang kubulatkan malam ini juga; aku harus keluar dari project Beau Skin. Alasannya bukan karena Darren tapi aku sendiri.
Aku takut jatuh hati padanya.