Last Year
Jakarta, Maret 2020
Malam itu sekitar pukul 8, Lucas selesai membantu Olivia membereskan barang-barang pindahannya. Olivia yang baru datang dari Semarang tidak terlalu banyak bicara karena ini adalah pertemuan pertama dirinya dengan Lucas, yang merupakan anak dari sahabat orang tua Olivia sekaligus lelaki yang dijodohkan orangtuanya.
”Udah kan ya? Gue balik ya, ngantuk,” kata Lucas berpamitan dengan Olivia setelah dilihatnya hampir 80% barang perempuan itu telah tersusun rapi, “besok kalo masih perlu bantuan gue, telfon aja, gue bakal bantuin lo supaya orang tua kita nggak rewel,” sambung Lucas.
”Cas,” panggil Olivia pelan saat Lucas sedang berjalan menuju pintu ruang tamu rumahnya, “Lo juga menentang perjodohan ini kan?” tanya Olivia.
Lucas mengangguk, “Gue bakal terus usaha supaya bokap nyokap kita ngebatalin perjodohan konyol ini,” balas Lucas.
”Oke, kalo gitu hati-hati,” ucap Olivia. Lucas hanya mengangguk kemudian pria itu segera pergi dengan mobil BMW M2 miliknya.
Belum lama Lucas keluar dari kawasan rumah Olivia, ponselnya berdering. Ia menekan tombol ‘call’ di stir mobilnya dan terdengar suara panik Olivia mengisi speaker mobilnya, “Cas, t-tolongin gue.”
”Lo kenapa, Liv?” tanya Lucas setengah panik. Ia segera mencari tempat untuk berputar balik ke rumah Olivia.
”Kayaknya ada yang masuk ke rumah...”
”Oke. Dengerin gue baik-baik. Jangan tutup telfonnya dan pasang loudspeaker sekarang juga. Gue otw balik rumah lo. Tunggu.”
Olivia dengan taat mengikuti instruksi Lucas sampai lelaki itu tiba, “Siapa yang lo maksud masuk ke rumah?” tanya Lucas saat Olivia membukakan pintu untuknya.
Olivia tidak berkata apa-apa, ia hanya menunjuk pintu kamarnya yang sudah terbuka dan Lucas pun segera menuju kamarnya. Olivia berdiri di ambang pintu sementara Lucas perlahan masuk ke dalam kamar Olivia.
Di atas ranjang Olivia terdapat sebuah kotak berwarna pink muda berbalut pita berwarna pink lebih tua. Kotak tersebut sudah terbuka dan Lucas dapat melihat isinya; sebuah kertas yang ditulis entah dengan tinta berwarna merah atau mungkin darah yang berbunyi, Olivia, you can’t hide from me. I’ll follow you until you die.
“Tadi begitu gue pulang, lo ngapain?” tanya Lucas sambil mengambil kertas dari dalam kotak itu dan membaca kembali pesan yang tertulis di atasnya.
“Ke kamar mandi, terus gue beresin dapur bentar, terus pas gue ke kamar ada kotak itu,” jawab Olivia pelan.
“Pintu semua lo kunci? Jendela?” tanya Lucas lagi kali ini ia sambil membereskan kotak pink itu dan membawanya keluar.
Olivia mengangguk cepat, “Gue kunci semua kok.”
Lucas sekilas melirik ke arah jendela kamar Olivia yang dirasa janggal tapi dia memilih untuk diam agar perempuan itu semakin tidak merasa takut, “Sekarang lo mau gimana? Berani nggak tidur sendirian?”
Olivia menggeleng pelan, “Lo mau nggak temenin gue?”
“Yaudah, bentar gue buang dulu ini,” jawab Lucas sambil mengangkat kotak misterius tadi dan pergi keluar rumah Olivia untuk membuangnya di tong sampah depan.