Sheryl
Hampir semua mata tertuju pada Kun saat pria itu memasuki ruang kelas Sheryl yang tidak terlalu besar dan menghampiri Sheryl yang terlihat sedang menunggu ibunya.
“Mama mana?” tanya Sheryl dengan wajah penasarannya.
Kun duduk di sebelah Sheryl dan mengelus pelan puncak kepala anak itu. “Mama lagi sibuk. Hari ini Om yang gantiin Mama, nggak papa, ya?”
Kun sudah bersiap untuk mendengar jawaban Sheryl dalam segala bentuk tapi dia tidak menyangka Sheryl akan mengangguk dan menjawab pertanyaannya singkat. “Yaudah, nggak papa.”
Selang beberapa menit, acara pertemuan orang tua itu dimulai. Wali Kelas Sheryl berbicara seputar perkembangan anak-anak didiknya secara terbuka kepada seluruh wali murid yang hadir.
Tidak lupa juga ia memberikan penghargaan kecil kepada beberapa anak didiknya yang dianggap melakukan hal baik selama satu bulan ini; salah satunya Sheryl.
Sheryl mendapatkan penghargaan sebagai murid yang rajin menolong sesama temannya. Dengan senyum lebar, Sheryl maju ke depan kelas dan menerima penghargaan dari wali kelasnya. Tidak lupa Kun mengambil beberapa foto saat Sheryl menerima penghargaan untuk ditunjukkan kepada Alyssa.
*
Acara pertemuan orang tua yang berlangsung selama satu jam itu berakhir dan seluruh murid beserta walinya masing-masing diperbolehkan untuk pulang.
Sambil berjalan menuju mobil Kun, Sheryl tidak henti-hentinya menatap kagum piala yang ia genggam di tangan kirinya, sementara tangan kanannya menggenggam tangan Kun.
“Sheryl seneng banget ya, dapet piala?” tanya Kun.
Sheryl mengangguk, kuncir dua rambutnya bergoyang mengikuti gerakan kepalanya. “Seneng!!”
“Kalo Om gantiin Mama hari ini, seneng nggak?” tanya Kun lagi.
“Mm...”
Saat Sheryl sedang terlihat seperti berpikir, seorang temannya lewat dan mengajaknya bicara. “Sheryl, ini Papa kamu ya?”
Kun teringat kejadian beberapa minggu lalu saat Sheryl mendadak mogok sekolah karena teman-temannya mengejek Sheryl perihal ayahnya. Ia hendak membantu Sheryl untuk menjawab pertanyaan itu tapi Sheryl sudah terlebih dahulu buka suara.
“Iya, ini Papa aku.”
Mata Kun melebar, dilihatnya Sheryl yang kini tersenyum memamerkan giginya yang sebagian masih dalam proses pertumbuhan.
“Halo Om, aku Zidan,” sapa teman laki-laki Sheryl yang bernama Zidan itu ramah, “Sheryl, aku duluan ya, dadah!”
Kemudian Zidan berpamitan dan segera berlari menghampiri ibunya yang sudah menunggu di mobil.
“Sheryl...”
“Om, Om bakal jadi Papa Sheryl kan?” Sheryl memotong Kun yang awalnya ingin mengajak anak itu berbicara.
Kun berhenti melangkah, ia berjongkok agar tingginya sejajar dengan Sheryl lalu merapihkan poni Sheryl yang sedikit berantakan, “Sheryl, Om boleh jadi Papa baru Sheryl?”
Sheryl mengangguk pelan, “Boleh, soalnya Om baik sama Mama.”
Kun hanya diam, ia memandangi Sheryl yang kini membalas tatapannya dengan wajah bingung. “Om kenapa liatin Sheryl?”
Kun menggeleng sambil tersenyum, “nggak papa, Sheryl. Mulai sekarang Om akan pastiin kalau Sheryl dan Mama akan lebih bahagia lagi.”
Wajah Sheryl terlihat sumringah mendengar jawaban Kun, “kalo gitu Sheryl sekarang mau es krim.”
Kalimat Sheryl sukses membuat Kun tertawa, “oke, hari ini kita makan es krimnya berdua aja, ya?”
Sheryl mengangguk semangat dan Kun langsung menggendong Sheryl untuk mempercepat langkah mereka.