Terlambat
⚠️ tw // blood, suicide
Semarang, Mei 2011
Malam ini siswa-siswi kelas 3 SMA Pelita merayakan kelulusan mereka dengan mengadakan pesta, yang sekaligus menjadi pesta perpisahan mereka sebelum mereka memilih jalannya masing-masih di jenjang pendidikan berikutnya.
Awalnya, semua tampak baik-baik saja. Pesta berjalan dengan meriah; beberapa games dimainkan, ada juga yang unjuk gigi di atas panggung dengan bernyanyi, bermain alat musik atau sekedar mengucapkan pidato perpisahan.
Tapi berikutnya suasana berubah 180 derajat mencekam setelah seorang siswi menemukan sosok tubuh teman seangkatannya yang sudah tidak bernyawa di taman belakang sekolah.
Ada yang berteriak histeris ketakutan, ada yang menangis, tidak sedikit juga yang terdiam sembari berusaha mencerna apa yang sedang terjadi. Salah satunya adalah Olivia Gianna.
Dari atas gedung sekolahnya, ia melihat bagaimana tubuh teman sekelasnya itu bersimbah darah. Olivia refleks memandangi kedua telapak tangannya lalu melangkah mundur ketakutan. Tubuhnya menggigil, dan ia tidak berhenti mengucapkan satu kalimat.
”Nggak ... bukan gue, bukan gue!”
Saat sedang melangkah mundur, kaki Olivia tidak sengaja menabrak tongkat besi yang tergeletak disana. Pikirannya kembali teringat dengan percakapan terakhirnya beberapa waktu lalu.
*
15 menit lalu
“Lo mau ngomong apa sih sampe kita harus ke rooftop gini?” protes Olivia dengan raut wajah kesalnya.
Lelaki yang berdiri di hadapannya hanya tersenyum sambil mencolek pelan hidung Olivia. “Itu muka galaknya ilangin dulu coba.”
“Siapa yang galak?!”
“Liv, mau nggak jadi pacar gue?”
Olivia diam. Raut wajahnya yang sedari tadi mengerut berubah menjadi penuh kebingungan.
“Lo serius?”
“Gue keliatan bercanda? Liv, gue suka sama lo dari awal kita kenal. Sengaja gue nggak pernah ngomong sama lo, karena gue emang pengen bilang pas kita udah lulus.”
Olivia masih diam, kini terlihat keraguan di raut wajahnya. “Ngg ... but, sorry gue nggak bisa terima lo.”
Kini gantian air muka lelaki itu yang berubah. “Kenapa?”
“Gue ... Udah jadian sama Kak Farrel. Dua hari lalu. Sorry belum sempet cerita ke lo.”
Lelaki itu mundur perlahan dari hadapan Olivia, kemudian ia berjalan mondar mandir di situ sampai akhirnya ia kembali bersuara.
”Lo, berani jadian sama Farrel? Lo nggak tau, gimana gue berjuang mati-matian buat berubah jadi tipe ideal lo?”
Olivia terkesiap mendengar nada bicara sahabatnya yang berubah menjadi dingin.
“Lo harus tau juga gimana gue selalu belain lo mati-matian setiap kali ada yang ngatain lo! Tapi apa yang gue dapet?!”
“Tapi kita kan masih bisa temenan—”
“Gue sayang sama lo, Liv. Udah cukup 3 tahun jadi temen lo doang. Gue mau lebih dari itu! Lo cuma milik gue seorang! Gue yang selalu belain lo, gue yang selalu lindungin lo! Nggak ada lagi selain gue!”
Ia mengambil nafas sesaat sebelum melanjutkan kalimatnya, “jadi, orang lain nggak berhak untuk milikin lo.”
Olivia memutar otak, berpikir keras bagaimana caranya untuk membujuk sahabatnya itu. “Lo sahabat gue yang paling baik, dengan sahabatan aja kita tetep bisa saling miliki kok ... Emang seharusnya sahabat kayak gitu, kan?”
Lelaki itu mendengus kesal. “Dan gue harus liat lo pacaran sama Farrel? Harus dengerin keluh kesah lo kalo kalian berantem? Nggak. Gue nggak mau. 3 tahun udah cukup gue dengerin semua curhatan lo tentang cowok-cowok yang lo suka!”
“Sorry, tapi gue sayang beneran sama Kak Farrel ... Dan gue nggak bisa putusin dia gitu aja...”
“Oh gitu? Fine. Kalo gue nggak bisa milikin lo, mending gue mati. Biar lo akan selalu inget gue. Gue mati karena lo.”
Secepat kilat lelaki itu berlari ke pinggir atap gedung dan segera melompat dari sana sebelum Olivia bereaksi apa-apa.
Kini setelah Olivia sadar, dari atap gedung ia terus memanggil nama sahabatnya seperti yang biasa ia lakukan setiap hari di sekolah. Tapi, sekarang tidak akan lagi ia dengar balasannya. Semuanya sudah terlambat.