Nightmare

⚠️ tw // blood, animal death, threatening

Darren menyambut kedatangan Olivia saat perempuan itu turun dari taksi. “Hai, Liv.”

“Darren? Kamu udah lama nunggu disini?” tanya Olivia.

Darren mengambil semua tas bawaan Olivia dari genggaman perempuan itu. “Nggak kok, belum juga lima menit aku nyampenya,” balas Darren manis sambil tersenyum.

Olivia mengangguk mengerti lalu ia membuka pintu rumahnya dan mempersilahkan Darren untuk masuk.

Setelah masuk, Darren menaruh bawaan Olivia di meja ruang tamu dan merentangkan tangannya. “Peluk, kangen,” ucapnya dengan nada manja.

Olivia tersenyum, ia menutup pintu rumahnya dan menghamburkan diri ke dalam pelukan Darren. “Maaf ya, Ren,” ucap Olivia pelan.

Darren mengusap pelan puncak kepala Olivia. “Iya, aku juga minta maaf, ya?” balas Darren lalu ia melepas Olivia dan mencium pelan kening perempuan itu.

“Kamu udah makan, Ren?” tanya Olivia sambil berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air putih untuk dirinya dan Darren.

“Belum, kamu?”

“Belum juga.”

“Mau makan apa, Liv? Biar aku pesenin,” tawar Darren yang kini sudah duduk di ruang TV sambil menunggu Olivia yang masih di dapur.

“McD aja, gimana?” tanya Olivia lalu ia memberikan segelas air putih untuk Darren. Darren mengangguk menyetujui tawaran Olivia dan tangannya kini mulai menelesuri aplikasi pemesanan online.

“Aku ganti baju dulu, ya,” pamit Olivia lalu ia berjalan menuju kamarnya.

...

AARGH!!!

Darren yang masih asyik dengan ponselnya di ruang TV tersentak kaget mendengar Olivia berteriak. Buru-buru ia menghampiri kekasihnya yang berdiri gemetar ketakutan di ambang pintu kamarnya.

“Liv?!” tanya Darren bingung tapi sedetik kemudian ia sendiri kaget dengan apa yang dilihatnya.

Kamar Olivia sangat berantakan; lemari bajunya terbuka dengan baju-baju yang berserakan di atas kasur dan lantai. Meja kerja Olivia juga berantakan dengan barang-barang seperti pajangan, foto di pigura berserakan tidak teratur. Meja riasnya pun sama, segala skin care dan make up milik Olivia berceceran di lantai.

Tidak sampai disitu, yang lebih mengerikan adalah bangkai tikus hitam tergeletak di atas meja rias dan di kaca meja rias itu tertulis pesan yang ditulis dengan darah tikus itu: Olivia, you should die!

Darren melangkah pelan memasuki kamar Olivia untuk memeriksa lebih jelas lagi dan ternyata tidak hanya satu tetapi ada cukup banyak bangkai tikus berserakan di kamar Olivia dengan darahnya yang bercipratan memenuhi kamar itu.

Melihat itu semua dengkul Olivia terasa lemas seperti dan ia refleks jatuh terduduk di lantai dengan air mata takut mengalir perlahan di wajahnya, “Ren...” panggil Olivia lirih.

Darren kembali menghampiri Olivia dan membantunya untuk berdiri, lalu ia memeluknya erat, “kamu nggak usah takut, ya? Malem ini aku akan lapor ke polisi dan malem ini juga kamu sama aku, oke?”

Olivia hanya mengangguk pelan menuruti perkataan Darren kemudian lelaki itu segera membawa Olivia pergi dari rumahnya.

Di sisi lain di malam itu, ada seseorang yang tersenyum puas dengan apa yang dilihatnya barusan.

“Selamat malam cantik, semoga mimpi buruk terus menghantuimu.”