Sheila
Olivia
“See? Gue udah yakin banget ini pasti kerjaan Sheila,” gerutu Devina setelah ia melihat cuitan Sheila yang sedang makan siang bersama Lucas di timeline-nya.
“Tapi, masa sih dia senekat itu, Dev?”
Devina memegang kedua bahu Olivia yang duduk di sampingnya dan menatap perempuan itu lekat-lekat. “Lo nggak pernah tau isi kepala orang gila, Liv.”
Devina lalu melepaskan pegangannya dari bahu Olivia dan pergi ke dapur apartemen Darren untuk mengambil jus kemasan yang tadi ia bawa dan membaginya kepada Olivia.
“Gue masih percaya nggak percaya, Dev,” ucap Olivia setelah ia menyeruput jus kemasan pemberian Devina.
“Gue apalagi, Liv. Gue lumayan deket sama Sheila, kemarin ultah gue juga undang dia. Tapi setelah itu dia malah kayak menjauh dari gue. Kayaknya dia juga nggak suka sama gue karena kita sahabatan.”
Olivia menyandarkan tubuhnya di sofa ruang TV apartemen Darren dengan pikiran kusut. Tidak pernah terlintas di benaknya persaingan dalam pekerjaan yang ia geluti akan serumit ini.
“Hati-hati deh, Liv. Gue yakin masih ada banyak selebgram lain yang nyoba pansos dan mau jatuhin lo, secara nama lo lagi tinggi juga kan sekarang,” sambung Devina.
Olivia mengangguk setuju. “Iya Dev, untung deh gue temenan sama lo. Dan juga pacaran sama Darren. Kayaknya kalo nggak ada kalian gue nggak tau harus gimana.”
Devina tersenyum tipis. “Sekarang juga lo nggak usah khawatir. Darren lagi laporin kasus semalem ke polisi sekalian dia beresin rumah lo, makanya gue dateng ke sini buat nemenin lo biar lo nggak sendirian.”
“Thanks ya, Dev.”
*
Lucas
Selesai dengan acara makan siang dadakan di apartemen Lucas, Sheila membantu Lucas membereskan meja makan lelaki itu lalu ia membawa beberapa kaleng bir ke ruang TV dimana Lucas sedang bersantai di sana.
“Nge-bir nggak papa kan?” tanya Sheila sambil duduk di sisi kiri Lucas lalu ia membuka sekaleng bir untuk dirinya.
Lucas mengangguk mengiyakan pertanyaan Sheila, ia pun ikut mengambil sekaleng bir untuk dirinya sendiri.
Sensasi menggelitik nan segar dari bir itu sukses melegakan tenggorokan Lucas. “Udah lama juga nggak nge-bir di rumah,” gumamnya sendiri.
“Kapan-kapan gue dateng lagi bawa bir, gimana?”
“Boleh.”
Hampir 3 jam dihabiskan Lucas dan Sheila untuk mengobrol. Topik yang dibicarakan sebagian besar adalah cerita mereka semasa SMA.
“Eh bentar, gue harus nyalain lampu balkon,” potong Lucas begitu menyadari jam di dinding menunjukkan pukul 6 sore. Warna langit pun sudah mulai menggelap.
“Cas,” panggil Lucas seraya memegang tangan Lucas agar lelaki itu tidak pergi dari sisinya.
“Hm?”
“Will you consider my feelings towards you?”
Sheila menatap lekat mata besar milik Lucas dan berniat tidak akan melepaskan tatapan itu; sudah terlalu lama baginya untuk menunggu kesempatan ini datang dan sekarang dia tidak mau menyia-nyiakannya.
Lucas seperti terbawa dengan suasana remang sore itu, ditambah dengan alkohol dari bir yang ditenggaknya sedari tadi sudah mengalir di dalam pembuluh darahnya; perlahan wajahnya mendekati milik Sheila.
Seperti tahu apa yang akan dilakukan Lucas, Sheila memejamkan matanya.
...
Drrt drrt
...
Getaran ponsel Lucas yang ditaruh di atas meja membuyarkan suasana. Lucas menarik diri mundur lalu ia meraih ponselnya dan membaca pesan yang masuk bertubi-tubi dari temannya.
“Shei,” panggil Lucas dengan nada bicara dingin.
“Ya?”
“Keluar dari apart gue sekarang juga.”