Darren

⚠️ tw // kidnapping, abuse, blood

Pagi ini aku memasuki ruangan gelap itu. Debu yang cukup tebal membuatku terbatuk, membangunkan tamu spesialku yang sudah berada disini sejak semalam.

“Devina?!” tanyanya begitu ia tersadar.

Aku tidak menjawabnya, yang kulakukan hanya mendekatinya lalu berjongkok dan mengelus pelan wajah cantiknya.

“Selamat pagi, Cantik,” ucapku dari balik masker hitam yang ku kenakan.

“Siapa?” tanyanya linglung.

Aku menurunkan maskerku dan bisa kulihat matanya terbelalak terkejut saat mengenaliku. “Darren?!”

Aku lagi-lagi hanya diam. Aku bangkit berdiri dan berjalan mondar-mandir di dekatnya.

“Darren, kamu dateng buat nolongin aku, kan? Devina jahat, Ren!”

Langkahku berhenti. Dari tempat aku berdiri, aku menatap dia yang masih tersungkur disana. “Siapa Darren?”

Raut wajah si Cantik terlihat kebingungan. Ah, ternyata dia masih belum memahami permainan ini.

“Lo ternyata bener-bener bodoh ya, persis kata Devina,” balasku dingin.

Dia semakin bingung dan sedikit terkejut mendengar nada bicaraku. “L-lo siapa ...?”

Aku tidak langsung menjawab pertanyaannya. Yang kulakukan saat ini menegakkan kembali kursinya agar aku lebih mudah berbicara dengannya.

“Lo siapa?!” tanyanya galak dengan tatapan mata menyalang.

“Kok bisa berdarah gini sih?” kataku sambil membersihkan darah di bibirnya dan mengusap pelan luka lebam di pipinya.

Dia berusaha menghindar tapi karena ruang gerak yang sempit, dia tidak bisa melakukan lebih dari sekedar menggelengkan kepalanya. “Jawab pertanyaan gue! Lo siapa?!”

“Iya, aku Darren, sayang,” jawabku lalu aku mencium pelan bibirnya. Bibir itu terasa kering, berbeda sekali dengan waktu kami berciuman pertama kali di rumahnya. Aku melihat air mata mengalir di wajah pucatnya dan dia menatapku dengan jijik.

“Lepasin!” raungnya marah, tapi tidak kugubris sedikitpun. Kini dengan jarak sedekat ini dan dalam posisi dia tidak bisa berbuat apa-apa, aku bisa bebas memandangi setiap sudut tubuhnya. Pantas saja bocah itu naksir habis-habisan dengan perempuan ini, sayangnya dia terlalu bodoh dan ceroboh.

“Darren apa maksud kamu begini?! Kamu sekongkol sama Devina?!” tanyanya lagi setelah aku menjauhinya dan bersandar di meja yang terletak bersebrangan dengan kursinya.

“Iya,” jawabku singkat.

“Tapi … kenapa?! Aku salah apa sama kamu?”

Aku mendengus kesal, “emang manusia itu perlu dihukum dulu ya, buat sadar atas kesalahan mereka.”

Aku merogoh kantong, mengambil ponselku dan menunjukkan sebuah foto padanya.

“Rendra?” tanyanya bingung.

“Iya, Rendra. Adek gue yang lo bunuh 10 tahun lalu.”

Matanya menyiratkan ketakutan saat mendengar jawabanku. “Bukan gue … Bukan gue!” teriaknya nyaring.

“Lo! Lo yang bunuh adek gue! Lo yang bikin dia nekat loncat dari gedung sekolah!”

“Bukan gue!!!” kali ini teriakannya semakin nyaring dan bercampur dengan isak tangisnya.

“Kalau lo nggak pernah dateng ke Semarang, kalau lo nggak sekolah disana, pasti adek gue sekarang masih hidup! Pasti adek gue bakal jadi komikus sukses! Dan hidup keluarga gue nggak akan berantakan!”

Aku diam sejenak untuk mengatur nafasku yang tersengal-sengal. Cukup melegakan karena pagi ini aku sukses mengeluarkan uneg-uneg yang selama ini tertahan di kepalaku.

Aku mengeluarkan pisau lipat dari saku celanaku, ujungnya aku gunakan untuk mengelus wajah cantiknya. Matanya mengawasi ujung pisauku, sepertinya dia takut kalau aku akan melukai wajahnya.

“Tenang, gue nggak akan ngelukain wajah cantik yang adek gue taksir mati-matian selama 3 tahun.”

“Anceman di BeauSkin, kamar gue dan juga waktu gue pindah ke Jakarta tahun lalu … Semua kerjaan lo?”

Aku tertawa, akhirnya dia sadar juga. “Iya. Hitung-hitung pemanasan sebelum hari ini. Gimana? Suka sama kadonya, Cantik?”

Olivia kembali bergidik ngeri. Kali ini aku menyimpan pisau lipatku karena tidak, aku tidak akan membunuhnya sekarang. Aku mau dia merasa tersiksa terlebih dahulu.

“Ah, ada satu teka-teki yang belum lo tebak.” Aku diam sebentar untuk melihat reaksinya. “Kenapa nama gue Darren?”

Dahinya mengerut bingung. “How do you spell Darren? It’s D-A-R-R-E-N right?” sambungku lagi.

“Darren … Dar … Ren … Rendra?”

Aku mengangguk puas, “Yes, honey. Lo pasti tau nama Voldemort diambil dari nama aslinya, Tom Marvolo Riddle, kan? Same case with me. Gue pake nama adek gue selama kita pacaran untuk menuhin permintaan terakhirnya sebelum dia mati.”

“Psikopat gila!” umpatnya mendesis. Olivia kembali berusaha melepaskan diri dari ikatan tali di tubuhnya. “Sekarang mau lo apa?” sambungnya bertanya.

“Lo mati,” jawabku singkat padat jelas. “Tapi, tenang. Gue nggak akan bunuh lo sekarang kok. Gue bakal kasih waktu ke lo buat nyiapin diri.” Aku menyambung jawabanku sambil menaruh buku diary milik adikku Rendra dan beberapa fotonya di pangkuan Olivia. Mulai dari fotonya semasa sekolah, foto selfienya dengan Olivia sampai foto saat tubuhnya terbujur kaku di dalam peti mati.

“Sambil lo liat foto adik gue, biar waktu lo mati lo tetep inget sama dia.”

Kemudian aku berjalan pergi meninggalkan ruangan itu dengan langkah ringan, sementara Olivia terus-terusan berteriak memanggil namaku.

“Darren! Darren!!!”