Kesempatan
Setelah bertemu dengan Jocelyn dan Ten di Foodcourt dan menceritakan kejadian yang baru saja terjadi pada dirinya dan Alyssa, akhirnya Kun berinisiatif mengantar Sheryl pulang untuk sekaligus menemui Alyssa.
“Kun?” tanya Alyssa sedikit bingung saat ia mendapati Kun berdiri di depan pintu rumah kontrakannya.
“Kamar Sheryl dimana?” tanya Kun yang sedang menggendong Sheryl yang terlelap di dekapannya. Ternyata gadis kecil itu tertidur pulas saat dalam perjalanan pulang tadi.
Alyssa sebenarnya masih ingin menghindari Kun, tapi ia tidak punya pilihan lain selain memberitahu Kun di mana letak kamar Sheryl.
“Bukannya Jo nggak mau anterin Sheryl, tapi saya yang sengaja anter Sheryl supaya bisa ketemu kamu,” jelas Kun setelah ia selesai menidurkan Sheryl di kamarnya dan menutup pintu kamar itu, agar tidak ada salah paham di antara Alyssa dan juga adik perempuannya.
“Makasih banyak, Kun. Kalo nggak ada perlu apa-apa lagi, tolong kamu pulang ya, saya masih ada kerjaan yang harus diurus,” balas Alyssa berbohong.
“Alyssa, maaf.”
Suara pelan Kun menghentikan langkah Alyssa yang tadinya ingin pergi meninggalkan Kun. Wanita itu menoleh ke arah Kun yang masih berdiri di depan kamar Sheryl.
“Saya tahu kamu dengar semua ucapan teman-teman saya. Maaf, kalau kamu harus dengar itu semua.”
“Kamu nggak perlu minta maaf, kamu nggak salah. Mereka juga nggak salah, apa yang mereka bilang semua benar. Saya janda, sementara kamu masih lajang. Kamu bisa dapat yang lebih baik dari saya. Bagian mana yang salah?”
“Mereka nggak berhak buat ngomong seperti itu, Lys.”
“Tapi yang mereka bilang bener, Kun, kamu—”
“Saya nggak bilang mereka salah, tapi mereka nggak berhak untuk ngomong seperti itu! Mereka nggak pantes mengkotak-kotakkan status kita seperti tadi!” Kun memotong kalimat Alyssa dengan nada bicara yang sedikit tinggi.
Alyssa sedikit terkejut dengan nada bicara Kun barusan, sementara pria itu buru-buru melanjutkan kalimatnya dengan nada bicara yang melunak. “Sorry, saya kelewat emosi sampai ngomong nada tinggi ke kamu. Tapi, please Lys, bisa nggak kamu egois sedikit aja buat kebahagiaan kamu?”
“Saya benar-benar tulus sayang sama kamu dan Sheryl, persetan dengan status janda dan lajang itu, saya nggak peduli. Yang saya peduliin sekarang cuma kamu dan Sheryl dan kebahagiaan yang pantas kalian dapetin.”
Kun mendekati Alyssa yang berjarak hanya beberapa langkah darinya. Ia memegang kedua lengan Alyssa dan menatap wanita itu lekat-lekat. “Tolong berhenti bersikap seperti ini ya, Lys? Saya mencintai kamu dengan segala kekurangan dan kelebihan kamu.”
Air mata Alyssa yang sedari tadi menggunung di pelupuk matanya kini mengalir bebas, membasahi wajah cantik wanita itu. Ia terharu, rasanya seumur hidupnya belum pernah ia merasa diperjuangkan dan dihargai seperti yang Kun selalu lakukan kepada dirinya.
Kun menyeka pelan air mata Alyssa dengan kedua ibu jarinya lalu memeluk wanita itu erat sambil sesekali mengusap pelan puncak kepala Alyssa.
“Kun, makasih ya,” ucap Alyssa pelan, masih di dalam pelukan Kun.
“Harusnya saya yang berterima kasih sama kamu, Alyssa. Terima kasih, kamu udah ngajarin ke saya bagaimana mencintai seseorang tanpa memandang apapun.”
Kini air mata yang mengalir di wajah Alyssa adalah air mata haru bahagia. Tidak terasa waktu cepat berlalu, banyak hal yang berubah dalam hidupnya dan juga caranya memandang dunia.
Dulu sempat terbesit di benak Alyssa bahwa hidupnya akan selalu penuh dengan kesialan; semua yang ia cintai satu persatu akan pergi meninggalkannya.
Bahkan sampai Alyssa berpegang pada satu keyakinan, bahwa tidak akan ada yang bertahan selamanya dalam kehidupan ini.
Memang, apa yang diyakini Alyssa ada benarnya. Segala yang ada di dunia ini fana, termasuk kehadiran seseorang yang berarti di dalam kehidupan kita.
Namun sejak mengenal sosok pria bernama Kun, Alyssa belajar hal baru, bahwa selama ia diberikan kesempatan untuk memberi dan menerima cinta, ia harus gunakan kesempatan itu baik-baik, sampai waktu yang Tuhan tentukan tiba.