Yang Terakhir
Sudah 3 hari aku terkurung di tempat menyeramkan ini tapi rasanya seperti sudah berminggu-minggu. Waktu berjalan sangat lambat sekali dan tidak ada hal lain yang bisa kulakukan selain berdoa, memohon agar Tuhan mengirimkan siapapun untuk menolongku. Kadang aku juga memohon supaya Devina dan Darren gadungan itu bisa sadar atas perbuatan gilanya ini dan mau melepaskanku dari sini.
Mau menangis juga air mataku sepertinya sudah kering. Perutku rasanya perih sekali dan juga tenggorokkanku terasa kering karena sudah 3 hari ini aku tidak makan ataupun minum.
Aku sesekali memejamkan mata, berharap bahwa saat aku nembuka mata semua ini hanyalah mimpi buruk. Tapi nyatanya tidak, yang kulihat malah foto-foto Rendra yang sengaja di taruh di atas pangkuanku.
Beberapa lembar foto telah jatuh berserakan di lantai karena aku beberapa kali berusaha melepaskan diri dari jeratan tali ini. Buku diary yang ditinggalkan untukku juga terjatuh dan terbuka di satu halaman, dimana aku bisa membaca cukup jelas tulisan Rendra yang rapi.
Di halaman itu Rendra menceritakan kisahnya saat aku bilang padanya kalau aku sedang naksir seorang kakak kelas.
‘… Olivia bilang dia suka kakak kelas… gue benci dengernya! Dia cuma boleh suka sama gue. Gue harus cari cara supaya Olivia cuma suka sama gue. Liv, gue yang bakal lindungin lo. Gue yang bakal selalu ada buat lo. Kakak kelas itu nggak akan, jadi, tolong berhenti suka sama dia!’
Di bawah curahan hatinya ada fotoku yang ia tempel, foto yang diam-diam diambil saat aku sedang menulis di kelas.
Aku refleks bergidik ngeri. Tidak ku sangka Rendra memiliki obsesi berlebihan padaku yang justru menyelakai dirinya sendiri pada akhirnya.
Tidak, dia loncat dari gedung sekolah bukanlah salahku. Aku berulang kali meyakinkan diriku dengan akal sehatku. Itu kemauan dia sendiri, itu kecerobohannya sendiri dan bukan tanggung jawabku.
Tapi sial! Kenapa sekarang aku jadi dikurung seperti ini? Apa kakaknya Rendra tidak tahu, kalau aku juga menjadi korban? Setelah kejadian itu, aku butuh waktu berbulan-bulan bolak-balik psikiater dan terpaksa mengubur mimpiku untuk kuliah jurusan Sastra Inggris di Universitas impianku?
Dia juga tidak tahu kan, karena kejadian itu juga keluargaku sengaja membawaku pergi bolak-balik ke Australia dan Singapura agar aku bisa benar-benar melupakan malam naas itu.
Sampai pada akhirnya aku memberanikan diri untuk pulang ke Semarang, tapi karena kekhawatiran berlebih orang tuaku, akhirnya mereka menyuruhku pindah ke Jakarta sekaligus menjodohkanku dengan Lucas.
Ah, Lucas. Dalam hati aku kembali menangis, menyesali perbuatan burukku selama bersamanya. Aku sempat terpikir untuk mati saja disini, karena lebih baik aku mati daripada harus tersiksa seperti ini. Tapi begitu mengingat Lucas, aku seperti punya motivasi untuk bertahan.
Aku harus bertemu kembali dengan Lucas. Ada hal yang kami belum sempat bicarakan satu sama lain dan aku ingin menyelesaikannya. Dan juga, aku ingin sekali memeluknya. Aku merindukannya … sepertinya aku benar-benar sudah jatuh hati padanya.
Tapi, rasa sakit di tubuhku perlahan memupuskan harapan dan keinginan itu. Kepalaku tiba-tiba terasa pusing sekali, tubuhku kini oleng tak berdaya dan akhirnya aku kembali jatuh ke lantai. Di saat kritis seperti ini aku memohon kepada Tuhan sebagai permintaan terakhirku.
“Tuhan, tolong jaga Lucas. Tolong buat dia bahagia.”
Kini tatapanku kabur karena air mata yang memenuhi pelupuk mataku dan perlahan semua yang ada di hadapanku menjadi semu dan … gelap.
“Lucas, maaf sepertinya aku harus pergi terlebih dahulu.”