Singgah

singgah (sing•gah): berhenti sebentar di suatu tempat ketika dalam perjalanan; mampir.


‘Ryu, I’ll be in Spore tomorrow for 3 days. Make sure you spare some of ur busy time for me. Xx, Kakak Cantik.’

Yangyang tersenyum membaca pesan yang masuk untuknya siang itu. Saat penat sedang melanda perkara atasan yang meminta design di luar dugaan, pesan itu datang seperti angin segar.

Memang bukan pesan dari kekasih hati, tapi perempuan ini memiliki tempat spesial di hati.

*

Setelah semalam memutuskan untuk bertemu di kedai kaya toast kesukaan mereka berdua, pagi ini sekitar jam 8 waktu setempat Yangyang sudah tiba di sana.

Karena perempuan itu belum tiba juga, Yangyang memesan duluan makanan dan minuman untuk mereka berdua. Jangan heran, Yangyang sudah hafal luar kepala apa yang akan dipesan perempuan itu.

“Ryu!” panggilnya dari jarak 5 meter. Yangyang berdiri lalu menyambut perempuan itu dengan sebuah pelukan. “How are you, Kak?” tanyanya setelah ia melepas pelukan itu.

Elena, perempuan itu, memilih untuk duduk terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Yangyang.

“Hmm, kinda fine,” jawabnya dengan nada menggantung, menimbulkan kerutan tipis di dahi Yangyang.

Something happened?

Elena hanya tersenyum tipis sementara Yangyang melanjutkan pertanyaannya. “Kak, don’t tell me kakak kesini karena—”

“Udah ah bisa nggak, nggak usah bahas dia dulu?” Elena langsung memotong ucapan Yangyang.

Yangyang langsung diam, walaupun sebenarnya ia masih penasaran tetapi ia memilih untuk tidak bertanya lagi.

“Aku udah pesen ice coffee sama kaya toast. Is it okay?” Yangyang mengganti topik pembicaraan mereka dengan menu sarapan yang sudah ia pesan.

Elena mengangguk. Sekilas terlihat perempuan itu sibuk dengan ponselnya sebelum akhirnya ia menyimpan ponsel itu di dalam tas selempangnya.

“Pokoknya hari ini we are going to having fun, okay? Jangan bahas yang lain-lain ya, please?”

Gantian Yangyang yang mengangguk. Lagian bagi Yangyang, untuk apa sudah lama tidak bertemu Elena, justru saat bertemu mereka malah membicarakan hal lain?

Sekali-kali Yangyang ingin egois, sudah banyak sekali ia mengalah demi perempuan itu, dan hari ini ia mau memuaskan diri menghabiskan waktu bersama Elena tanpa memikirkan hal lain.

How’s Japan, Kak? Terus ngapain ke Spore 3 hari?”

Pertanyaan Yangyang tidak langsung dijawab Elena karena seorang pegawai kedai datang mengantarkan pesanan mereka. Elena buru-buru menyeruput es kopinya untuk menghilangkan rasa hausnya.

Japan is great, Ryu. Kalau tahun ini atau tahun depan ada lagi exclusive contract-nya, kamu coba apply aja. Itung-itung pengalaman.”

“Kepengen sih, tapi masih belum pede, hehehe ….”

Elena mengerutkan dahinya bingung. “Why?

Yangyang mengangkat kedua bahunya. “Entahlah, rasanya kayak berat aja ninggalin Singapur. Udah betah banget disini. Bahkan, aku sampe diomelin Mami karena balik Surabaya tiap Christmas doang,” jawab Yangyang panjang lebar.

“Berarti cari jodohnya juga orang Singapur dong? Biar makin betah disini,” ledek Elena sambil terkekeh pelan. Yangyang hanya mengerucutkan bibirnya, mulutnya sibuk mengunyah roti kaya untuk memenuhi perutnya pagi itu.

“Terus kakak 3 hari di sini ngapain aja?” Yangyang mengulang pertanyaan yang belum dijawab Elena.

Elena terlihat berpikir sesaat sebelum menjawab pertanyaan Yangyang. “Mm … kemarin sore aku nyampe langsung check-in hotel, terus malemnya makan sendiri di Clarke Quay, balik hotel terus tidur.”

“Hari ini seharian sama kamu, besok kayaknya aku mau ketemu sama ma’am Emma sekalian lunch bareng, abis itu ke Orchard sebentar baru deh malemnya ke airport.”

Yangyang membulatkan mulutnya tanda ia memahami jawaban Elena, dan setelah itu acara sarapan mereka diisi dengan obrolan pengalaman Elena dan juga Creativans Jepang.

-

Setelah selesai menghabiskan sarapan mereka, Yangyang dan Elena segera meninggalkan daerah China Town dan pergi menuju barat Singapura untuk mengunjungi Singapore Discovery Center.

Pergi ke discovery center adalah ide Yangyang karena menurut pengakuannya, tidak ada satupun kawannya yang mau diajak pergi ke sana dengan alasan tempat itu membosankan. Tapi tidak dengan Elena, perempuan itu menuruti kemauan sederhana Yangyang untuk berwisata sekaligus mengenali sejarah Singapura disana.

Setelah hampir 3 jam mereka berada di discovery center, Yangyang dan Elena mampir di daerah Clementi untuk makan siang dan setelahnya mereka pergi Bugis sesuai permintaan Elena untuk mencuci mata di pasar tradisionalnya sebelum menutup hari dengan menikmati semilir angin sore di East Coast Park.

“Nih, buat Kakak.” Yangyang menyodorkan segelas Ice Americano Double Shot with liquid whipped cream kesukaan Elena yang ia beli dari stall Starbucks tidak jauh dari tempat mereka duduk.

Thank you,” ujar Elena sembari ia menerima kopinya dan mulai menyeruputnya pelan, menikmati sensasi pahit, sedikit manis dan kental dari perpaduan americano dan liquid whipped cream.

“Gimana hari ini, were you happy?” tanya Yangyang setelah ia selesai meminum sedikit Ice Americano miliknya.

Sure!” jawab Elena antusias lalu ia mengeluarkan beberapa foto polaroid hasil jepretannya selama perjalanan hari ini dari dalam tas selempangnya dan membagi foto-foto itu kepada Yangyang.

“Buat kenang-kenangan,” sambung Elena singkat.

Yangyang hanya diam. Dipandanginya foto-foto yang mereka ambil mulai dari sarapan, saat mengunjungi discovery center, makan siang di Clementi, cuci mata di Bugis hingga foto terakhir yang diambil Elena yaitu saat Yangyang sedang mengantri membeli kopi.

“Kak,” panggil Yangyang pelan setelah beberapa saat, membuat Elena menoleh ke arahnya. “Promise me, it gonna be our last, ya?” sambungnya.

Elena mengerutkan dahinya. “Kenapa?”

This is not right, Kak. Buat kakak, buat aku, buat Kak Dejun.”

Elena diam. Kunjungannya ke Singapura kali ini dan juga kebersamaannya dengan Yangyang hari ini memang hanya akan menyisakan luka, baik untuk Yangyang ataupun untuk kekasihnya, Dejun.

Forgetting you, letting you go with him weren’t easy for me, Kak. Terus sekarang kakak tiba-tiba dateng, we were having fun like nothing ever happened between usi don’t know why, rasanya sakit aja.”

No, bukan berarti aku benci kakak dan nggak mau kalo kakak ajak aku pergi lagi,” Yangyang buru-buru meralat kalimatnya, “tapi, kalau konteks atau tujuannya kayak hari ini, aku nggak mau. Aku tau kakak lagi punya masalah sama kak Dejun, and you solve it with pergi kesini … Cara ini salah, Kak.”

Yangyang kembali menyeruput minumannya karena tenggorokannya terasa kering akibat bicara panjang lebar.

Sorry, Ryu. Aku nggak bermaksud nyakitin hati kamu. I’m so sorry.”

Yangyang tersenyum mendengar balasan Elena. Ia yakin perempuan itu sebenarnya tahu apa yang seharusnya ia lakukan.

It’s okay, Kak. Di satu sisi aku seneng sih, jadi bisa ngerasain pacaran sama kakak kayak gimana, hehehe ….”

Terdengar tawa pahit dibalik senyuman Yangyang. Elena hanya mendorong pelan bahu Yangyang lalu ia kembali menikmati minumannya.

Thank you ya, Ryu,” ucap Elena pelan. “Thank you udah kasih tau aku kalau ini salah. Thank you juga karena selalu ada buat aku. You deserved someone better than me.”

Yangyang lagi-lagi hanya tersenyum. Ia tahu ia pantas dapatkan yang lebih baik daripada kakak kelasnya yang ia idolakan selama 10 tahun ini. Tapi kenapa hati kecilnya sulit sekali untuk berkompromi dengan otaknya?

Saat bertemu kembali dengan Elena di Singapura tahun lalu, Yangyang merasa Tuhan menjawab doanya selama ini. Tapi, ternyata Yangyang salah karena saat itu Elena datang hanya untuk lari dari masalahnya.

Dan sekarang, perempuan itu datang lagi untuk lari lagi dari masalahnya.

Sempat terpikir hari ini mungkin menjadi hari dimana Tuhan menjawab doanya. Ya, memang Yangyang sudah merelakan Elena bersama dengan Dejun, tapi sedikit berharap tidak ada salahnya, kan?

Namun sayangnya harapan itu harus kembali pupus saat Yangyang tidak sengaja membaca isi pesan teks yang dikirimkan Dejun untuk Elena tadi siang.

Saat itulah Yangyang sadar, kalau dirinya memang hanya menjadi tempat singgah saja bagi perempuan itu, bukan untuk berlabuh.