Kun

Memutuskan untuk lebih terbuka dan jujur kepada perasaanku, membawa diriku lebih mengenal sosok laki-laki yang tidak pernah berhenti membuatku kagum dan tentu membuatku semakin mencintainya. Dia adalah Qian Kun.

Setiap hari ia akan datang menjemputku dan Sheryl, mengantar putri kecilku ke sekolah lalu kami melanjutkan perjalanan ke kantor. Setiap kami turun dari mobil, tangannya akan selalu menggenggam tanganku erat. Setiap kami harus berpisah, dia selalu membisikan tiga kata yang tidak akan pernah bosan ku dengar.

'I love you, Alyssa,' begitu bunyinya.

Pulang kantor, kami kadang suka mencari makan malam bersama. Tapi akhir-akhir ini kami lebih senang belanja bahan makanan untuk kami masak di rumah kontrakanku. Setelah makan malam dan sebelum ia kembali ke rumahnya, dia akan memelukku erat dan terkadang dia suka mencuri kesempatan untuk mencium cepat bibirku. Lucunya, setelah itu dia akan minta maaf padaku.

'Maaf Lys, kelepasan,' katanya dengan nada kikuk.

Kalau dia sudah bertingkah seperti itu, biasanya aku yang suka gantian curi kesempatan membalas ciumannya. Bisa kupastikan setelahnya wajah Kun akan memerah dan dia tidak akan berhenti tersenyum seperti Sheryl kalau sedang minum Ice Chocolate.

Akhir minggu biasanya dia akan mengajak Sheryl pergi bermain, kadang di luar rumah tapi keseringannya dia akan menemani Sheryl bermain boneka-bonekaan atau masak-masakkan di rumah. Kalau sudah seperti ini, aku yang harus mengalah, karena si tuan putri kecil tidak mengizinkanku mengganggu waktu bermainnya dengan Kun. Tapi aku justru senang sekali dengan keadaan seperti ini. Aku bisa melihat kasih sayang Kun yang tulus untuk Sheryl, seperti ia menyayangi putrinya sendiri.

Kadang kalau akhir minggu kami ingin pergi berdua saja, Sheryl akan kami titipkan pada Jocelyn, adik perempuan Kun. Kalau Sheryl sudah bersama Jocelyn dan suaminya, Kun biasanya akan mengajakku pergi mengunjungi kota pinggiran Jakarta.

Pernah Kun membuatku terkejut saat dia mengajakku pergi naik pesawat. Kupikir awalnya dia hanya bercanda, tapi ternyata dia benar-benar mengajakku naik pesawat. Bahkan, dia sendiri yang mengemudikan pesawatnya.

Pernah juga dia pergi mengajakku bermain ke salah satu studio musik sewaan. Awalnya aku sedikit memarahi Kun karena ini pasti akan sia-sia karena baik aku ataupun Kun tidak ada yang bisa bermain alat musik. Nyatanya, aku salah besar. Kun diam-diam punya hobi bermain piano dan menciptakan lagu. Dia juga memamerkan bakatnya dengan memainkan beberapa lagu milik artis favoritnya yaitu Jay Chou.

Lagi-lagi dia tidak berhenti membuatku kagum dengan segudang talenta yang dia miliki.

Sekarang sudah hampir setahun kami bersama. Banyak yang mulai mempertanyakan hubungan kami, apakah akan diteruskan ke jenjang yang lebih serius atau tidak. Kun sendiri bahkan sudah menanyakan langsung kepadaku kapan aku siap menerima lamarannya. Jujur saja, aku bingung. Aku bukan bingung dengan perasaanku lagi, tapi aku bingung, apakah memang sudah saatnya?

Sudah satu bulan lamanya sejak Kun menanyakan tentang lamaran itu, dan aku hanya bisa memberikan jawaban, 'tunggu sebentar ya, Kun.'. Beruntungnya aku, Kun benar-benar sabar menunggu. Dia tidak mengungkit pertanyaan yang sama tiap kami bertemu. Perilakunya pun tetap sama seperti saat sebelum ia bertanya tentang lamaran itu.

Setelah aku mengobrol dengan Sheryl, dan meminta sedikit masukan dari Bi Santi, hari ini aku putuskan untuk mengajak Kun pergi menemui kedua orang tuaku.

“Halo Ma, Pa,” sapaku di depan pusara kedua orangtuaku. Kun kemudian membantuku membersihkan rumput liar yang tumbuh di sekitar makam orangtuaku, lalu kami menaburkan bunga dan membacakan doa untuk orangtuaku

“Ma, Pa, maaf ya Sheryl nggak ikut. Tadi dia ketiduran, abis main kecapekan,” ucapku pelan. “Ohiya, Ma, Pa, kenalin. Ini Kun,” sambungku lalu aku mempersilahkan Kun untuk menyapa kedua orangtuaku.

Tidak banyak kalimat yang diucapkan Kun, tapi sukses membuat air mata haru membasahi kedua pipiku. Ia mengungkapkan kalau ia akan sungguh-sungguh menjagaku dan membahagiakanku dan juga Sheryl. Dia juga meminta restu untuk menjalin hubungan yang lebih serius denganku.

“Makasih banyak ya, Kun, udah mau nemenin saya kesini. Mama Papa pasti seneng,” ujarku setelah kami selesai mengunjungi kedua orangtuaku.

Kun yang berjalan sambil merangkul bahuku, mengelus pelan lenganku. “Sure, Lys. Saya juga seneng bisa kenalan sama Mama Papa kamu, sekalian minta izin.”

Aku hanya tersenyum lalu aku memeluk pinggangnya dan kami berjalan berdampingan menuju mobil Kun yang terparkir tidak terlalu jauh.

“Kita makan, ya? Saya laper,” keluh Kun yang kubalas dengan anggukan pelan.

“Makan di rumah aja ya, saya masakkin kamu makan malam.”

Kun terlihat ragu. “Nggak usah, Lys. Pasti kamu capek. Kita beli aja.”

“Saya nggak capek sama sekali, Kun. Pokoknya saya masakkin buat kamu, titik. Dilarang protes,” balasku sedikit mengancam.

Kalau sudah mendengar aku berkata seperti itu, biasanya Kun akan mengalah. Dia hanya akan tersenyum memamerkan lesung pipinya lalu mencium puncak kepalaku pelan.

'Sungguh, terima kasih Tuhan.'