Restu
Malam itu sekitar pukul 7, kedua orangtua Kun dan Jocelyn tiba di kediaman mereka. Jocelyn langsung menyambut keduanya dengan sebuah pelukan sementara Kun membantu bapak supir taksi menurunkan barang bawaan ayah dan ibunya dari taksi.
“Hai, Kun, anak mama yang ganteng,” sapa ibu Kun setelah ia selesai berpelukan dengan Jocelyn. Kun tersenyum, kemudian ia memeluk ibunya seperti yang dilakukan Jocelyn dan terakhir memeluk ayahnya.
“Apa kabar, Nak? Kerjaan lancar?” tanya ayah Kun sambil masuk ke dalam rumah dengan merangkul bahu Kun.
“Lancar, Pa,” jawab Kun singkat.
Selesai memasukkan seluruh koper ke dalam kamar, keempatnya kemudian berkumpul di meja makan dan tak lama setelahnya terdengar suara bel pintu rumah mereka berbunyi. Dengan semangat Jocelyn segera membukakan pintu dan menyambut Ten yang akan ikut acara makan malam itu.
“Ma, Pa, kenalin. Ini pacar Jocelyn, namanya Ten,” ucap Jocelyn malu-malu di hadapan kedua orangtuanya dan juga Kun. Sebenarnya, ayah dan ibu mereka sudah tau status hubungan Jocelyn dengan Ten, tapi ini adalah perkenalan resmi sekaligus menjadi pertemuan pertama antara Ten dengan kedua orangtua Jocelyn dan Kun.
Selesai memperkenalkan diri, ibu Kun segera menyuruh Ten untuk duduk di meja makan dan mereka berlima mulai menyantap masakan buatan Jocelyn yang sedikit dikoreksi oleh Kun sesaat sebelum semuanya tiba karena kata Kun ada rasa yang kurang.
Acara makan malam itu tentu diisi dengan bahan obrolan seputar hubungan Jocelyn dengan Ten, dan setelah puas menginterogasi anak perempuannya, kini ayah Kun dan Jocelyn beralih ke anak sulungnya.
“Kamu sudah ada pacar juga, Nak?”
Kun diam, ia tidak langsung menjawab pertanyaan sang ayah. “Udah, Pa. Temen kantornya dulu, namanya kak Alyssa.” Alih-alih Jocelyn yang menjawab pertanyaan yang ditujukan untuk sang kakak.
Ayah mereka membulatkan mulutnya sambil mengangguk-angguk mengerti. “Kok nggak diajak malam ini?” tanya ayah mereka lagi.
“Tadinya aku udah suruh kakak buat ajak kak Alyssa ikut, Pa, tapi nggak tau tuh dia nggak mau. Padahal pasti seru kalau sekarang ada kak Alyssa sama Sheryl.”
“Sheryl?” Kali ini gantian ibu mereka yang bertanya.
“Iya, Sheryl. Anaknya kak Alyssa,” jawab Jocelyn lagi.
Baik ayah maupun ibu Kun dan Jocelyn sama-sama tertegun, kemudian mereka berdua memandangi Kun yang sedari tadi hanya diam saja. Seketika suasananya berubah menjadi canggung. Ten dan Jocelyn saling tukar pandang bingung karena tidak tahu harus berbuat apa.
“Kun, apa benar yang Jocelyn bilang barusan? Pacar kamu sudah punya anak?” Ibu mereka kembali bertanya, memecah kesunyian yang sempat tercipta sebelumnya.
“Iya, Ma. Alyssa dulu pernah menikah dan beberapa bulan lalu resmi cerai dari suaminya.”
“Kamu nggak rebut istri orang kan, Kun?”
“Ya enggaklah, Pa!” jawab Kun dengan nada sedikit tinggi. Mengetahui nada bicaranya kelewat batas, ia buru-buru kembali bersuara. “Maaf, nggak bermaksud ngebentak Papa.”
“Kun, kamu lupa nasihat Papa?” tanya ayahnya kembali tapi kini dengan nada bicara dingin.
“Nggak, Pa.”
“Terus kenapa kamu masih pacaran sama perempuan itu?!” Gantian nada bicara ayahnya meninggi. Ibu Kun yang duduk di sampingnya pun segera mengelus pelan punggung suaminya untuk meredakan emosinya malam itu.
Kun tidak menjawab apa-apa, bahkan melanjutkan acara makan malamnya pun tidak. Jocelyn terus-terusan memandangi Kun dengan khawatir bercampur bingung, karena ia masih belum terlalu memahami ayahnya yang tiba-tiba terkesan marah dan tidak menyukai hubungan Kun dengan Alyssa.
“Lanjutin aja dulu makan malamnya. Kun, Jo, Ten, ayo nambah lagi makannya.” Lagi-lagi ibu mereka memecahkan kecanggungan di meja makan itu dan menyuruh anak-anaknya dan juga Ten untuk kembali menyantap makan malam mereka.
*
Selesai bicara empat mata dengan Ten, ayah Kun masih duduk di teras belakang rumahnya sambil menikmati segelas kopi hitam pekat dari cangkir putih yang dibuat Jocelyn selesai makan malam tadi.
“Pa,” panggil Kun pelan lalu ia duduk di bangku yang sama dengan yang diduduki Ten tadi, yaitu bangku di sisi kiri sang ayah.
Tidak ada suara yang dikeluarkan sang ayah, mau tidak mau membuat Kun juga terdiam sampai ayahnya bicara duluan karena jujur saja Kun tidak tahu harus berkata apa lagi.
“Kun, kamu serius dengan perempuan itu?” Akhirnya ayah Kun buka suara.
Kun mengangguk. “Serius, Pa.”
“Kun, kamu yakin? Kamu harus ingat, menikah berbeda dengan pacaran. Apalagi menikah dengan orang yang sudah pernah menikah sebelumnya. Kamu harus berkompromi dengan masa lalunya, dengan mantan suaminya. Belum lagi dia sudah punya anak, kamu harus bisa akur dengan anaknya walaupun dia bukan darah daging kamu. Kamu yakin kamu bisa?”
Kun kembali mengangguk. “Aku yakin aku bisa, Pa. Aku sayang sama Alyssa dan juga anaknya, Sheryl. Saat aku tahu kalau aku sayang sama dia, aku belajar semua yang Papa dulu pernah nasihatin ke aku.”
Kun menghela nafas sebentar sebelum melanjutkan kalimatnya. “Pa, aku bisa pastiin Alyssa nggak seburuk dugaan Papa. Nanti aku kenalin ke Papa dan Mama. Aku sengaja nggak ajak dia makan malam sekarang karena aku tahu pasti Papa akan bereaksi kayak tadi. Aku nggak mau nyakitin hatinya Alyssa. Dia sudah terlalu banyak sakit hati, dan aku nggak mau cuma karena salah paham dia sakit hati lagi.”
Ayah Kun yang sedari tadi duduk bersandar kini menegakkan tubuhnya lalu ia menepuk-nepuk pelan punggung Kun. “Kamu ternyata benar-benar sudah dewasa ya, Kun. Papa bangga sama kamu.”
Kun tersenyum salah tingkah sendiri sambil mengusap-usap tengkuknya. “Jadi, Papa dan Mama mau ya, terima Alyssa?”
Ayah Kun kembali menyesap kopi hitamnya perlahan. “Iya, Nak,” balasnya singkat tapi cukup membuat senyum mengembang di wajah Kun malam itu.