How Deep is Your Love?
“Kun?!” Sudah dua kali di hari yang sama Alyssa mendapatkan kejutan dari lelaki itu. Pertama, tadi sore saat ia muncul di depan rumah kontrakannya bersama ibunya.
Dan sekarang untuk kedua kalinya, lelaki itu kembali muncul di depan rumahnya namun sendiri. Kun hanya memakai jaket orange favoritnya yang dipadankan dengan kaus hitam polos, celana pendek jeans selutut dan juga sepasang sendal.
“Sheryl udah bobo?” tanya Kun begitu ia turun dari mobilnya. Sambil membukakan pagar untuk lelaki itu, Alyssa mengangguk.
“Udah baru aja dia tidur.”
“Berarti saya pas datengnya, hehe ….” Kun kemudian merentangkan tangannya di depan Alyssa yang kebingungan. “Mana peluknya?”
“Kamu malem-malem dateng kesini cuma mau minta peluk aja?”
Kun mengangguk, bibirnya sedikit maju karena Alyssa masih belum bergeming. “Mana?”
Alyssa sedang memperhatikan sekitarnya untuk memastikan tidak ada siapa-siapa tapi bagi Kun wanita itu terlalu lambat. Kun segera memeluk Alyssa terlebih dahulu, tidak peduli dengan protes yang dilayangkan wanita itu.
“Kun, ih, nanti kalo ada satpam lewat gimana? Lepasin dulu.”
Kun menggeleng pelan. “Biarin aja, kan pelukan doang.”
Alyssa akhirnya mengalah. Ia membalas pelukan Kun sambil mengusap pelan punggung lelaki itu.
“Akhirnya bisa peluk kamu lagi, Lys,” ujar Kun berbisik di telinga Alyssa.
Alyssa hanya tersenyum, lalu ia mengeratkan pelukannya sambil membenamkan kepalanya di dada Kun. Wanita itu bisa mendengar cukup jelas detak jantung yang berbunyi teratur menenangkan.
“Lys, kita jalan-jalan yuk?” tanya Kun setelah mereka berpelukan cukup lama di depan rumah Alyssa.
Alyssa menaikkan sebelah alisnya. “Jalan-jalan?”
“Iya, keliling Jakarta aja. Ke Monas, Kota Tua, Menteng, Sabang, ya pokoknya jalan-jalan aja. Mau nggak? Itung-itung, first date buat kita berdua.”
Kalau dipikir-pikir selama ini mereka memang selalu pergi bertiga dengan Sheryl. Saat makan siang ke Sentul waktu itu, atau sekedar bermain ke Mal. Tidak pernah mereka menghabiskan waktu bersama berduaan selain di kantor, itupun pasti curi-curi waktu di sela jam kerja mereka.
“Yaudah deh, boleh. Saya ambil cardigan sama handphone dulu ya,” jawab Alyssa lalu ia masuk ke dalam rumah sebentar sebelum akhirnya ia pergi bersama Kun.
Perjalanan mereka mulai dari menyusuri sepanjang jalan raya Sudirman-Thamrin, lalu sampai di depan Monas mobil Kun belok kanan ke arah Gambir, melewati Tugu Tani dan tiba di kawasan Menteng.
Merasa sedikit lapar akhirnya mereka berdua memutuskan untuk menepi di Taman Menteng dan membeli roti bakar di sana.
“Ih, rame ya,” gumam Alyssa saat keduanya sudah memesan roti bakar dan sedang duduk di meja bangku yang tersedia untuk menyantap makanan di sana.
“Kan malem minggu, Lys.”
“Oh iya, hehe … Saya udah nggak pernah lagi ngerasain malam minggu kayak apa,” ucap Alyssa pelan.
Kun memandangi Alyssa sesaat, terlihat sedikit kesedihan di wajah wanita itu tapi selalu ia sembunyikan dengan senyuman manisnya.
“Lys, saya boleh nanya sesuatu?”
“Apa, Kun?”
“Dulu waktu kamu sama mantan suami kamu, kalian jalan-jalan kayak gini juga? Atau gimana? Kalau kamu nggak mau jawab, nggak papa kok, saya nggak maksa.”
Lagi-lagi Alyssa tersenyum. “Dulu waktu pacaran ya kayak orang pacaran pada umumnya. Jalan-jalan ke mal atau pergi ke taman bermain. Tapi setelah menikah nggak ada lagi. Dia sibuk dengan kerjaan kantornya, saya sibuk sama Sheryl.”
“Pergi bertiga as a family, pernah?”
Alyssa terlihat berpikir sesaat. “Kayaknya enggak deh, karena mamanya Simon merasa nggak perlu,” jawab Alyssa pahit.
Kun buru-buru meraih tangan Alyssa. “Maaf ya, Lys. Harusnya saya nggak nanyain hal ini ke kamu. Kamu boleh pukul saya,” kata Kun sambil memukul-mukul kepalanya dengan tangan Alyssa yang ia genggam.
“Kun, nggak papa ….” Tangan Alyssa yang tadi digunakan untuk ‘memukul’ kepala Kun kini mengelus pelan kepala lelaki itu. “Saya sama sekali nggak papa, serius. Saya nggak bohong.”
Kun mengambil tangan Alyssa yang mengelus kepalanya dan mengecup pelan tangan itu. Di saat bersamaan datang pula roti bakar dan jus alpukat pesanan mereka.
Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam tapi sepertinya baik Kun dan Alyssa masih ingin menghabiskan waktu bersama. Setelah kenyang mengisi perut di daerah Taman Menteng, kini mobil Kun kembali melaju di sepanjang jalan raya Kuningan, sembari mereka berjalan pulang kembali ke rumah kontrakan Alyssa yang terletak di kawasan Kebayoran Baru.
If you get caught between the Moon and New York City The best that you can do The best that you can do is fall in love
“Saya nggak tahu ternyata kamu suka ya dengerin lagu 80-90’s kayak gini,” gumam Alyssa saat terputar lagu milik Christopher Cross dari tahun 1981 di mobil Kun.
Kun hanya nyengir. “Jadul banget ya? Kalo kamu nggak suka ganti aja ke radio yang kekinian.”
“Nggak, saya juga suka kok dengerinnya. Lagu-lagu jaman dulu tuh kayak nggak akan lekang sama waktu. Liriknya juga bagus-bagus.”
“Kalo gitu, saya punya satu lagu buat kamu.”
Dengan sabar Alyssa menunggu Kun yang sedang mencari lagu yang ia maksud dari playlist Spotify-nya.
How deep is your love, how deep is your love I really mean to learn ‘Cause we’re living a in a world of fools Breaking us down, when they all should let us be We belong to you and me
Kun bernyanyi pelan mengikuti suara sang penyanyi sementara Alyssa hanya menatap lelaki itu dengan tatapan kagum.
Selesai bernyanyi dan masih dalam keadaan menyetir, Kun menoleh sekilas ke arah Alyssa yang bertepuk tangan pelan. “Hehe, gimana?” tanya Kun malu-malu.
Alyssa menjawabnya dengan sebuah kecupan pelan di pipi kiri Kun. “Makasih ya, Kun.”
Baik Kun dan Alyssa sama-sama tidak dapat menyembunyikan perasaan bahagianya. Senyum menghiasi wajah keduanya, dan tidak hentinya mereka saling lempar pandang kagum satu sama lain. Sabtu malam yang cerah itu menjadi saksi bisu keduanya yang sedang jatuh cinta.