Couch Talk
Biasanya ini yang akan kami lakukan setelah seharian bekerja; kami akan duduk di sofa favorit kami di ruang tengah, Ten akan menyalakan lilin aromatherapy dan juga memutar lagu-lagu dari piringan hitam yang kami punya lalu kami akan saling bertukar cerita satu sama lain.
Hari ini mood-ku agak sedikit berantakan akibat kelakuan mobil menyebalkan di jalanan tadi. Bagaimana tidak menyebalkan, mobil itu tidak berhenti mengklaksoniku, padahal kalau butuh cepat-cepat bisa saja kan dia menyalip dari kiri dan tidak perlu menyuruhku untuk pindah lajur. Ah sudahlah, kalau diingat lagi akan membuat mood-ku semakin jelek.
Ten datang dengan dua cangkir berisikan kopi hitam kesukaan kami berdua. “Thank you,” ucapku lalu aku menyesap pelan kopi panas itu. Seketika wangi kopi dan lilin aromatherapy beradu memenuhi ruangan itu.
“Sini, kakinya selonjorin disini,” ucap Ten sambil menepuk pahanya. Aku menurut, aku menaruh kedua kaki di atas pangkuannya lalu Ten mulai memijat pelan kakiku.
“Pasti pegel ya tadi nyetir?” tanyanya dengan kedua tangan yang sibuk memijat.
“Nggak terlalu,” jawabku singkat. “Maaf ya, maksud hati mau jemput kamu karena kamu capek kerja seharian, malah aku jadi nyusahin kamu gini,” sesalku kemudian.
Memang tujuan dan maksudku sore ini adalah menjemput dan menyetir untuknya. Aku tahu saat ini dia sedang punya banyak project; kadang kalau aku telfon siang-siang dia suka bilang kalau dia belum sempat makan siang. Jam tidurnya pun berantakan; Ten bisa baru menutup laptopnya dan tidur sekitar pukul 3 dini hari dan harus kembali ke kantor jam 8 pagi.
Ten seperti biasa, dia hanya tersenyum. “It’s okay, sweetheart. Makasih banyak ya, love you,” balasnya manis kemudian ia memijat-mijat pelan kaki ku lagi.
Kadang aku berpikir, hatinya Ten tuh terbuat dari apa sih? Kok bisa ada laki-laki sebaik dan sesabar dia?
“Project kamu gimana kabarnya?” Aku membuka topik pembicaraan yang lain.
Ten yang sudah selesai memijat kakiku tapi membiarkan kakiku tetap berada di pangkuannya kini menyesap kopi hitam yang tadi dia bawa sebelum menjawab pertanyaanku. “Ada aja revisinya, tumben kantor dapet client agak resek.”
“Sebenernya bukan resek gimana sih, cuma detail banget. Jadi karena mereka detail banget, otomatis aku sama tim juga kerjanya lebih detail. Malah hal-hal yang dulu aku nggak terlalu perhatiin, sekarang jadi aku perhatiin. So, I’ll take it as… new learning? Experience? … Ya, semacam itulah, hehehe ….”
Aku hanya diam mendengar jawabannya. Aku yakin sekali kalau aku di posisi Ten pasti aku sudah bete setengah mati, apalagi aku orangnya gampang emosian. Tapi tidak dengan Ten, dia sangat sabar sekali. Ten selalu melihat masalah dari segala sisi sehingga aku tidak heran kalau dia bisa sesabar dan sebijaksana ini. Karena sifat Ten ini pun aku perlahan mencoba berubah menjadi Jocelyn yang lebih sabar dan tidak mudah emosian. Benar-benar aku bersyukur sekali Tuhan mengirimkan aku seorang Ten yang bisa mengubahku menjadi pribadi yang lebih baik.
“Jo? Sayang? Kok bengong?”
Suara Ten membuyarkan lamunanku. “Hah? Oh, enggak kok.”
“Kamu tadi ketemu temen kamu siapa? Terus kalian ngapain aja?” Gantian Ten yang menanyakan kegiatanku hari ini.
“Temen SMA aku namanya Caroline, panggilannya Olin. Dia punya coffeeshop di daerah Gunawarman situ, terus pas dia tau aku suka open PO kue-kue, dia mau aku jadi supplier kue-kue di coffeeshop-nya.”
Wajah Ten langsung berubah sumringah setelah mendengar ceritaku. “Wow, good things banget, yang. Terus gimana lanjutannya?”
“Tadi kami ketemuan, aku minta dia food test dulu. Responsnya dia bagus banget, dia makin yakin buat aku yang supply. Ini aku juga udah dikasih kontraknya, dia minta aku baca dulu, kalau aku setuju baru tanda tangan kontraknya.”
“So … Will you?”
“Menurut kamu?” Aku malah melempar balik pertanyaan Ten ke lelaki itu.
Ten tertawa pelan, “kok aku sih, yang?”
“Nggak tau, bingung.”
Ten menurunkan kakiku dari pangkuannya lalu ia menggeser duduknya ke dekatku agar ia bisa merangkulku. “Jo, you are amazing, did you know?”
“Aku tau, hati kamu sebenernya mau banget tanda tangan kontrak itu. Tapi di sisi lain kamu ada keraguan. Keraguan kamu kira-kira gini, ‘duh gue bisa nggak ya? Gue mampu nggak ya?’. Jo, you need to know that you’re capable to do this. Kamu bisa, kamu mampu.”
Aku menoleh ke arah Ten dan mendapatkan lelaki itu sedang memandangiku tiada henti. “Gitu ya? Jadi aku tanda tangan aja? Kamu yakin aku mampu?”
Ten mengangguk lalu ia mengecup pelan keningku. “Liat deh ke dapur,” ucap Ten membuatku refleks menengok ke arah dapur yang letaknya bersebelahan dengan ruang tengah. “Look at those baking equipment dan inget orderan apa aja yang udah pernah kamu kerjain.”
Aku langsung bisa membayangkan diriku yang sedang bekerja di dapur. Ah, benar kata Ten. Kenapa aku harus ragu? Selama ini aku mampu mengerjakan seluruh orderan yang tidak jarang membuat badanku pegal-pegal tapi hatiku senang. Kini aku kembali menatap Ten, “thank you, sayang. You’re also amazing as always.”
“Aku mah nggak usah dikasih tau juga aku udah tau kalo aku amazing.”
Aku menendang pelan pahanya sementara Ten sendiri hanya tertawa. Sisi narsisnya kadang suka menyebalkan tapi itulah salah satu daya tarik Ten yang aku sukai.
“Yang, inget lagu ini nggak?” tanya Ten saat terputar lagu terkenal milik Frankie Valli dari piringan hitam yang Ten pasang.
Aku mengangguk, aku ingat sekali lagu ini menemani perjalanan kami ke Anyer sesaat sebelum aku dan Ten berpacaran.
Tiba-tiba Ten berdiri di depanku, ia menjulurkan tangannya dan sedikit berlutut. “Shall we dance, Mrs. Lee?”
Aku menyambut uluran tangannya, kemudian Ten menarik tanganku pelan dan mulai mengajakku berdansa di ruang tengah. Kami berdansa sambil menatap wajah satu sama lain, tawa bahagia menghiasi wajah kami, ditemani Louis dan Leon yang tidak mau kalah ikut berdansa di dekat kaki kami.
I love you, baby And if it's quite alright I need you, baby To warm the lonely night I love you, baby Trust in me when I say —Can’t Take My Eyes Off You, Frankie Valli
Dan seperti inilah cara kami; berbagi cerita dan solusi, menguatkan dan meyakinkan serta menghibur satu sama lain. Dan memang seharusnya seperti ini, bukan? Pasangan hadir bukan hanya di saat bahagia saja, tapi justru di saat kita perlu didengar dan dikuatkan.