Akhir Cerita
Sinar matahari sore itu menemani langkah kaki kecil Olivia menyusuri jalan setapak di sebuah tempat peristirahatan terakhir yang jauh dari hiruk pikuk kota. Semilir angin meniup bebas rambut panjangnya.
“Hai, sorry ya, gue baru sempet kesini,” ucapnya kikuk di depan sebuah gundukan tanah yang berselimut rapi rumput hijau.
Olivia berjongkok, ia menaruh sebuket mawar kuning yang ia bawa di atas batu nisan yang terbuat dari batu marmer putih. Terukir nama seseorang yang dikenalnya sangat baik disitu.
Setelah selesai membaca beberapa doa, Olivia mulai mengajak penghuni ‘rumah’ itu mengobrol. “Apa kabar?” tanyanya pelan.
Olivia terdiam. Banyak sekali yang sebenarnya ingin ia sampaikan tapi ia tidak tahu harus memulainya dari mana.
“Maaf, gue baru sempet kesini. Pasti lo marah banget sama gue, ya? Hehehe …” Terdengar tawa pelan Olivia yang agak dipaksakan.
“Banyak yang gue laluin setelah nggak ada lo. Gue harus ke psikiater, temen-temen gue satu per satu ninggalin gue, alesannya mereka nggak mau temenan sama cewek gila. Haha, lucu ya?”
“Berbagai cara gue lakuin supaya gue lupain hari itu. Dan akhirnya, gue berhasil. Sekarang gue udah jauh lebih baik bahkan lebih kuat dibandingkan Olivia yang dulu.”
Olivia tersenyum tipis sambil mengelus pelan foto dari lelaki yang berbaring di dalam sana, yang terpampang jelas di samping namanya di batu nisan.
“Thank you ya, selama ada lo, lo udah banyak bantuin gue. Maaf gue nggak bisa bales kebaikan lo, tapi gue yakin dan percaya, orang baik di sayang Tuhan. Pasti di sana lo bahagia kan?”
Olivia menyeka pelan air mata yang mulai membasahi wajahnya. “Sebisa mungkin gue bakal sering kesini. Tapi kalo gue lagi sibuk, tolong jangan marahin gue, ya?”
Olivia kemudian bangkit berdiri, “gue pamit dulu, ya. Tolong jagain gue dari sana. Kalo nggak mau juga gapapa sih, gue nggak maksa kok.”
Kemudian Olivia melirik sekilas seseorang yang sedari tadi menunggu di bawah pohon rindang tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. “Bye, kapan-kapan kita ngobrol lagi, ya.”
-
“Udah?” tanyanya saat ia melihat Olivia berjalan mendekatinya. Olivia mengangguk, kemudian ia merangkul bahu tubuh mungil perempuan itu dan mengajaknya pergi menuju mobil biru metalik yang terparkir tidak jauh dari sana.
“Mau makan nggak?”
“Boleh. Makan apa?”
“Soto Bangkong.”
Olivia mengerutkan dahinya, “dari kemarin kita makan itu melulu. Nggak bosen?”
Pertanyaan Olivia dijawab dengan sebuah gelengan cepat. “Nggak … Soto Bangkong ya, please?” pintanya dengan wajah memelas.
“Yaudah.”
Tanggapan terakhir Olivia dibalas dengan sebuah kecupan pelan di puncak kepala Olivia, membuat perempuan itu tersenyum hangat.
‘Sesuatu yang berakhir tidak selamanya menyedihkan, seringkali menjadi awalan yang baru untuk hidup yang tak lagi semu.’