ILY

“Kamu tuh mbok ya jangan galak-galak sama Saka,” komentar Alyssa setelah melihat obrolan singkat Kun dan Saka di Twitter.

Kun menyeruput cepat ice coffee nya hingga tersisa setengah gelas. “Saya nggak galak. Emang gitu gaya typing saya.”

“Iya, galak typing nya.”

Kun mengerucutkan bibirnya. Sebenarnya ia cuma sedikit kesal karena ia menganggap Saka merusak momen cuitannya tentang Alyssa, tapi baik Saka ataupun Alyssa sama-sama tidak mempedulikan hal itu. Justru, Alyssa sekarang kedengaran seperti membela Saka.

“Kamu marah?” tanya Alyssa ragu melihat wajah Kun yang ditekuk.

“Enggak,” jawab Kun pendek, persis seperti anak yang sedang ngambek.

“Kalau marah mending kita balik aja ke kantor.”

“Saya nggak marah, Alyssa,” sergah Kun sambil berusaha meluruskan ekspresinya walaupun sulit. Alyssa yang duduk di sisi kanan Kun tersenyum tipis lalu jari telunjuknya dengan iseng menyentuh pelan wajah Kun.

“Senyum dong,” pintanya lembut.

Kun melirik sekilas ke arah Alyssa yang tengah menanti dirinya untuk tersenyum dan ia tidak punya pilihan lain selain menuruti kemauan sederhana wanita itu.

“Nah, kan ganteng.” Alyssa kemudian menarik jari telunjuknya dari lesung pipi Kun. Mendengar pujian Alyssa, Kun malah tersenyum semakin lebar.

“Nah, kayak gitu lebih ganteng lagi deh.” Alyssa melanjutkan kalimatnya lagi.

“Udah ya, ini bukti kalau saya nggak marah.”

Alyssa mengangguk, lalu perempuan itu menopang pipi kirinya dengan tangan kirinya agar bisa memperhatikan Kun dengan leluasa. Hal yang belum pernah dilakukan Alyssa sebelumnya, dan tentu membuat Kun salah tingkah sendiri sore itu.

“Kamu ngapain sih, Lys?” tanya Kun yang kini sudah menghabiskan seluruh ice coffee-nya. Lelaki itu tidak berhenti minum karena grogi akibat perilaku Alyssa.

“Nggak ngapa-ngapain. Saya lagi seneng aja, liatin kamu. Saya belum pernah perhatiin wajah kamu secara detail.”

Mendengar kalimat Alyssa, Kun segera melakukan hal yang sama seperti Alyssa; ia menopang pipi kanannya dengan tangan kanannya dan membalas tatapan Alyssa.

Kini mereka saling adu tatap seperti adegan klise di drama Korea yang sering ditonton Jocelyn tengah malam.

Biasanya Alyssa akan salah tingkah sendiri dan buru-buru menghentikan kegiatannya, tapi kali ini tidak. Ia tidak berhenti menatap kagum wajah Kun yang tergolong sempurna.

“Cantik,” ucap Kun pelan, namun cukup jelas di telinga Alyssa.

Alyssa hanya tersenyum simpul, tangan kanannya yang bebas membenarkan rambut depan Kun yang menutupi mata lelaki itu.

Kun meraih tangan kanan Alyssa, kemudian ia menggenggam tangan itu di bawah sehingga tidak terlihat oleh siapapun. Kali ini mereka benar-benar terlihat persis seperti sedang mereka ulang adegan romantis di drama-drama Korea.

“Makasih ya Kun, kamu udah hadir di kehidupan saya. Udah kasih saya pandangan baru buat hidup saya yang jauh dari kata sempurna,” kata Alyssa masih dengan posisi yang sama. Sepertinya mereka tidak lagi canggung untuk menunjukkan rasa saling suka yang mereka rasakan.

Mereka juga sepertinya tidak peduli dengan orang yang lalu lalang di lobby, padahal kondisi lobby gedung kantor mereka sore itu cukup ramai karena memang lagi jam-jamnya para karyawan mencari segelas kopi untuk meningkatkan kembali semangat kerja mereka.

Gantian tangan kiri Kun yang bebas mengelus pelan puncak kepala Alyssa. “Lys, kayaknya saya nggak pernah ngomong ini langsung sama kamu.”

“Apa?”

I love you, Alyssa.”

Alyssa seketika langsung duduk tegak. Wajahnya memerah dan ia buru-buru menyeruput ice coffee-nya yang es batunya mulai mencair karena kelamaan didiamkan.

Kun terkekeh pelan. “Pelan-pelan minumnya, nanti keselek. Tuh kan, airnya jadi kemana-mana.”

Karena Alyssa mengangkat gelas kopinya, tentu saja air yang menempel di gelas dingin itu langsung membasahi baju Alyssa, dan buru-buru Kun memberikan beberapa lembar tissue kepada Alyssa agar wanita itu bisa mengeringkan pakaiannya. Ia juga membantu Alyssa mengeringkan gelasnya agar tidak basah lagi.

“Udah ah, udah setengah jam lebih. Astaga, udah mau satu jam, Kun. Duh, nanti saya dicariin sama bos.”

Kun lagi-lagi hanya tertawa kecil mendengar gerutuan Alyssa. Ia yakin sebenarnya nggak akan ada yang memarahi Alyssa, toh wajar saja kok bagi karyawan di gedung itu untuk sejenak keluar dari rutinitas kerjanya. Para atasan mereka juga sudah paham dengan kegiatan ngopi sore-sore dan mereka setuju-setuju saja, selama pekerjaan yang ditugaskan tetap dikerjakan. Ditambah Kun juga yakin Alyssa adalah pekerja keras, pasti hampir seluruh pekerjaannya sudah ia selesaikan sebelum jam makan siang tadi.

“Kalau kamu dipecat, kamu balik ke kantor saya aja lagi,” celetuk Kun bercanda.

“Hush, ngaco. Udah ya, saya naik duluan. Jangan lupa kamu beli kopi buat Saka.”

“Ini kalimat saya yang tadi nggak mau dibales?” tanya Kun jahil sambil mengangkat sebelah alisnya.

“Saya udah bales,” jawab Alyssa yang kini sudah berdiri dan siap meninggalkan Kun untuk kembali ke kantornya.

“Kapan? Saya nggak denger.”

“Saya balesnya dalem hati. Udah ya, bye Kun!”

Kun geleng-geleng kepala dengan senyuman lebar menghiasi wajahnya. Ia tidak berhenti memandangi punggung Alyssa yang semakin menjauh sampai akhirnya menghilang di antara kerumunan orang yang mengantri untuk naik lift.

Sementara Alyssa yang kini sedang menaiki lift untuk kembali ke kantornya tidak berhenti menghela nafas panjang.

“Kun, kalau gini caranya lama kelamaan jantung saya yang nggak sehat.”