Beda Dunia
Tidak lama setelah aku bertukar pesan dengan Winwin, aku melihat sebuah motor Kawasaki Ninja Hitam berhenti di depan pintu pagar rumah Devina. Bisa kupastikan dia adalah Darren yang dimaksud Winwin tadi. Kemudian motor itu masuk setelah seseorang dari dalam membukakan pintu pagarnya.
Aku putar otak mencari cara untuk bisa masuk ke dalam rumah Devina karena entah kenapa instingku kuat sekali mengatakan kalau Olivia ada di dalam sana dan kondisinya tidak baik.
Dari mobil aku memantau daerah sekitar rumah Devina. Kebetulan rumah Devina terletak di hook dan sisi kirinya adalah kebun dengan pohon besar tumbuh tinggi disana. Ranting pohon itu sebagian menjulur masuk ke dalam halaman rumah Devina dan aku langsung memutuskan untuk masuk lewat situ.
Tulang rusukku masih terasa nyeri saat aku memaksakan diri memanjat pohon itu, tapi aku tidak peduli. Aku harus mengetahui dimana Olivia berada. Setelah sukses memanjat dan memasuki halaman rumah Devina tanpa ketahuan, aku berjalan mengendap menuju pintu belakang rumahnya.
Halaman rumah Devina sangat luas. Rumahnya terkesan kuno, dengan pilar-pilar yang terbuat dari kayu jati dan ukiran-ukiran Jepara memberikan aksen tradisional yang cukup kental.
Dari kaca pintu belakang, aku mengintip ke dalam. Ternyata pintu itu terhubung dengan dapur dan tidak ada siapapun disana. Aku memberanikan diri untuk masuk.
Begitu sampai di dapur aku kembali memastikan semuanya dalam keadaan aman. Kini aku bisa melihat ruang tengah rumah Devina tapi tidak kutemukan Darren disana. Hanya ada helm yang ia gunakan tadi yang ditaruh di atas meja dekat TV.
Baru saja aku hendak memasuki ruang tengah, tiba-tiba saja Darren keluar dari kamar mandi yang terletak dekat tangga. Buru-buru aku bersembunyi sambil terus mengawasinya. Aku bisa mendengar siulannya yang terdengar riang.
Yang kulihat berikutnya sungguh di luar pikiranku; aku melihat Darren mengeluarkan pistol revolver dari jaket kulitnya. Ia mengecek peluru yang tersimpan di dalamnya sebelum kembali menyembunyikan pistol itu di dalam jaketnya dan pergi meninggalkan ruang tengah menuju sebuah ruangan lain di balik pintu yang terletak persis di bawah tangga besar rumah Devina.
Setelah aku pastikan Darren sudah masuk ke dalam sana, perlahan aku membuntuti lelaki itu. Ku buka pintu yang sama persis dengan Darren tadi dan ku dapati sebuah gudang berisikan barang-barang tidak terpakai. Yang langsung menarik perhatianku adalah sebuah tangga menuju basement yang dibiarkan Darren terbuka begitu saja.
Langsung saja aku menuruni tangga itu dan aku mendapati pintu lain yang tidak tertutup rapat.
Byur!
Ku dengar Darren seperti menyiram sesuatu dan setelahnya ku dengar lagi orang lain yang kaget dengan siraman tadi.
“Bangun, Cantik. Udah siang. Kamu kan bukan pemalas.”
Suara Darren terdengar jelas dan begitu aku mengintip dari balik pintu aku bisa melihat sosok yang kukenal sedang dibangunkan Darren dalam posisi terikat di dalam sana.
‘Shit!’ umpatku dalam hati. Awalnya aku mau langsung menerobos masuk dan memukuli Darren sampai dia mampus, tapi ku urungkan niat itu karena Darren kembali mengajak Olivia berbicara.
“Gimana? Dua hari sama adek gue pasti rasanya menyenangkan, kan? Pasti lo langsung inget sama masa lalu kalian …”
Aku mengerutkan dahi bingung karena tidak mengerti apa maksudnya.
“Sekarang giliran lo, Cantik,” ujar Darren lagi lalu ia mengeluarkan pistolnya yang tadi dan mengarahkannya tepat ke dada Olivia.
“Selamat jalan, Cantik. Salam buat Rendra disana.”
Saat Darren menarik pelatuk pistol itu, secepat mungkin aku berlari memasuki ruangan itu; aku menghamburkan diri memeluk tubuh Olivia untuk melindunginya dari serangan peluru milik Darren.
1 … 2 … 3 …
Bisa kurasakan beberapa logam timbal dingin menembus kulit punggungku. Aku dan Olivia sama-sama terhuyung lalu jatuh ke lantai. Baju yang kupakai pun perlahan terasa basah dan aku yakin itu pasti karena darahku sendiri.
“Lucas? Lucas! Lucas!!!” Olivia memanggil namaku berulang kali. Aku tersenyum tipis. Rasanya sudah lama sekali tidak melihat wajah yang biasanya bisa kulihat setiap hari; aku merindukannya.
“Hehe, hai Liv,” balasku sambil berusaha menahan rasa nyeri di punggungku. Huh, sudahlah tulang rusukku masih nyut-nyutan sekarang harus ketambahan peluru ini.
“Tolong!! Tolong!!! Tolong!!!” Aku mendengar Olivia berteriak dengan suara cempreng khasnya. Ah, aku juga rindu suaranya. Suara yang selalu memprotesku tapi aku tahu sebenarnya itu adalah bentuk perhatiannya untukku.
“Liv …,” panggilku pelan dengan tenaga yang tersisa. Padahal aku tidak ngapa-ngapain, tapi rasanya aku lelah sekali, seperti habis bermain sepak bola 120 menit nonstop.
“Lucas, please jangan pergi … Please lo harus bertahan demi kita … Lucas, gue sayang sama lo …,” ucap Olivia di sela isak tangisnya.
Aku kembali tersenyum. Walaupun rasa sakit sudah menjalar di seluruh tubuhku, tapi hatiku bahagia sekali.
“Gue juga sayang sama lo, Olivia.”
Berikutnya kurasakan badanku semakin lemas dan pandanganku perlahan menjadi gelap. Suara Olivia dari yang awalnya terdengar jelas, lambat laun terdengar seperti sayup-sayup angin lalu dan akhirnya … hilang. Tidak lagi aku dengar suara Olivia yang mungkin masih memanggilku tiada henti.
“Olivia, sepertinya sekarang kita sudah berada di dunia yang berbeda.”