Dunia Nata
Nata
Sudah empat tahun lebih aku resmi berpacaran dengan Hendery, tiba-tiba saja aku teringat dengan masa awal kami berpacaran.
Di masa itu, banyak yang tidak percaya dengan hubungan kami. Bahkan sahabat Hendery, Lucas, dengan santainya memprediksi hubungan kami tidak akan lebih dari dua bulan. Terlalu jujur sih, tapi memang prediksinya bisa saja benar kalau aku dan Hendery tidak pandai merawat hubungan kami.
Kalau kalian tidak tahu, aku dan Hendery itu bagaikan langit dan bumi. Aku lebih suka menyendiri dengan duniaku sementara Hendery lebih senang menjadi social butterfly. Tidak heran dulu banyak sekali yang diam-diam menyukai Hendery di kampus kami.
Cemburu? Tentu saja. Bagaimana tidak, kebanyakan yang menyukai Hendery adalah kakak tingkat yang dari penampilannya saja jauh lebih menarik dibandingkan denganku.
Aku hanya suka memakai kaus dan juga cardigan serta celana jeans dan sepatu keds, sementara kakak kelasku jauh lebih modis dan fashionista daripada aku.
Namun, Hendery sama sekali tidak pernah tergoda dengan satupun dari mereka. Entah sudah berapa ratus kali aku suka bertanya pada Hendery apakah ia pernah naksir dengan salah seorang dari mereka dan jawabannya selalu tidak.
‘Nata, kamu itu lebih dari cukup. Cuma kamu yang selalu bisa ngertiin aku dan bisa ngimbangin aku. Cuma kamu, Nat.’
Entah, aku sendiri tidak yakin dengan apa yang Hendery katakan padaku. Tapi dia tidak pernah bosan untuk bilang seperti itu padaku.
Di sisi lain, Hendery selalu terbuka padaku. Ia akan menceritakan segala hal yang terjadi dalam hidupnya. Mungkin ini juga alasan kenapa hubungan kami awet dan kami jarang bertengkar untuk hal-hal yang tidak penting.
Bicara karakter Hendery, selain outgoing mudah berbaur dengan siapapun, dia juga orang yang penuh kejutan; tidak jarang aku suka sulit memahami isi pikirannya.
Pernah suatu hari ia mengirimkan foto sedang berhadapan dengan tembok.
‘Kamu ngapain? Mau cium tembok?’
‘Iya. Nama temboknya Naraya Talitha.’
Pernah juga saat kami sedang video call, dia pamer padaku sendal rumahnya yang baru, hasil belanja online pertamanya. Tapi sialnya, dia tidak dikirimkan sepasang kanan-kiri, tapi dua-duanya sama-sama untuk kaki kanan. Saat ia sibuk menggerutu, aku tidak bisa berhenti tertawa.
‘Kamu seneng banget ya ketawanya, Nat.’
‘Abisnya lucu banget, Dery. Aku sampe nangis nih ketawain kamu.’
‘Nggak papa deh aku salah dapet sendal begini, yang penting aku bisa liat kamu ketawa bahagia karena aku.’
Mungkin kedengarannya sedikit gombal, tapi bagiku Hendery adalah duniaku.
Dia yang paling pengertian tentunya selain kedua orang tuaku dengan segala kesibukanku. Dia mungkin kelihatannya selalu bercanda dan sulit untuk serius, tapi dia tidak pernah ingkar dengan semua janjinya. Ah, kecuali masalah tidur malam. Dia masih suka berbohong, menyebalkan.
Aku hanya berharap kalau dia akan selalu menjadi duniaku. Mungkin kesannya aku egois, tapi aku sungguh berharap Hendery tidak akan pernah meninggalkanku, walaupun aku sendiri tidak yakin dengan kalimatku ini.