The Beginning of Us
Selesai bertukar pesan dengan Winwin, Lucas kembali memperhatikan Olivia yang masih sibuk berfoto dengan beberapa barang endorse-nya.
“Liv,” panggil Lucas pelan.
“Kalo nyuruh gue stop, gue marah,” ancam Olivia setelah dari kemarin Lucas selalu melarangnya untuk bekerja.
Lucas tersenyum malu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Hehe, gue mau nyuruh stop, tapi bukan buat nyuruh lo istirahat.”
Olivia menoleh ke arah Lucas, “Terus?”
Lucas yang awalnya duduk di sofa kini bergabung dengan Olivia yang duduk di atas karpet dekat meja ruang TV nya.
“Lo sengaja ya, balik kerja supaya Darren bisa muncul?”
Olivia yang sedari tadi sibuk menyusun beberapa produk make up di atas meja, berhenti dan membalas tatapan Lucas.
“Kok tau?” tanya Olivia setengah bingung dan kaget.
Lucas tersenyum bangga karena tebakannya benar. “Kenapa, Liv? Kan lo tau, resikonya gede. Kayak kemarin dia bisa senekat itu sama lo. Lo nggak kepikiran sampe situ?”
“Gue kepikiran, Cas. Gue pikirin semuanya baik-baik dan gue juga tau resiko terburuknya apa. Tapi kalo gue nggak ngelakuin itu semua, dia akan terus-terusan sembunyi, dan itu akan semakin nyusahin lo dan banyak pihak lainnya. Gue nggak mau jadi beban buat kalian.”
“Apa lo sengaja bikin gue ketemu sama bokap nyokap gue, supaya lo bisa pergi sendiri tanpa gue?”
Olivia mengangkat bahunya. “Kalo itu di luar rencana gue. Gue pikir mumpung gue lagi nggak sama lo, gue sengaja pancing dia dari sosial media. Terbukti kan, dia keluar dari persembunyiannya.”
Lucas kembali tersenyum senang, lalu ia mengacak pelan rambut Olivia. “Lo hebat banget, Liv. And I’m so proud with you,” pujinya.
Olivia hanya tersenyum sambil menyelipkan rambut panjangnya ke balik telinga. “Lo gimana sama bokap nyokap lo?” Olivia gantian bertanya.
“Oh, itu …” Lucas menggantung kalimatnya. Awalnya ia terlihat enggan untuk bercerita tapi karena Olivia tidak melepas tatapannya dari lelaki itu, ia tidak punya pilihan lain.
“Maaf ya, gue sempet bentak lo dan nuduh lo ikut campur keluarga gue. Jujur, gue ngerasa malu sama lo. Lo pasti udah denger cerita nyokap gue dan tau apa yang bikin hubungan gue sama bokap nyokap renggang.”
Gantian Olivia mengusap pelan puncak kepala Lucas dan memainkan sedikit rambut coklat milik lelaki itu. “Kalo gue jadi lo, gue juga pasti bakal ngelakuin hal yang sama. .It’s okay, Cas. Setiap orang punya caranya untuk ngelindungin ego-nya sendiri.”
Mata bulat Lucas menatap Olivia dengan binar kagum, ditambah bibirnya yang sedikit mengerucut, persis seperti panggilan dari Olivia untuk dirinya: bayi gede.
“Jadi gimana, Cas?” Olivia kembali mengulang pertanyaannya.
Lucas mengangguk, “Udah, gue udah baikan sama mereka. Gue belum sempet ketemu bokap sih, karena kemarin gue susulin lo ke sini abis baca chat dari lo. Tapi nyokap udah bilang bokap mau ketemu gue weekend ini.”
Olivia menepuk-nepuk pelan kepala Lucas, “Jangan lagi ada dendam ya, Cas. Mereka cuma mau yang terbaik buat lo. Mungkin dulu cara mereka salah, tapi mereka ngelakuin itu semua karena dasarnya mereka sayang sama lo.”
Bukannya menanggapi kalimat Olivia, Lucas malah mencubit gemas pipi perempuan itu. “Gue makin sayang sama lo deh, Liv.” Lucas tiba-tiba membuat sebuah pengakuan kecil.
“Lucas! Gue kan lagi serius!” Olivia mendorong pelan tubuh Lucas, melipat kedua tangan di dada dan bersandar pada sofa di belakangnya dengan ekspresi wajah sedikit kesal.
Lucas terkekeh pelan. “Gue juga serius, Liv. Semua ini berkat lo. Kalo nggak ada lo, mungkin gue gak bisa jadi diri gue kayak yang lo liat sekarang.” Nada bicara Lucas kembali terdengar serius.
Olivia tidak berkata apa-apa, lebih tepatnya ia tidak tahu harus berbicara apa. Dilihatnya Lucas belum berhenti memandangi dirinya, masih dengan tatapan berbinar khasnya.
“Liv, lo mau kan, terus sama-sama gue? Bukan karena perjodohan ortu kita, tapi karena perasaan kita masing-masing. Jujur, gue sayang sama lo.”
Olivia menatap Lucas sesaat, kemudian perempuan itu tersenyum seraya mengangguk pelan. “Iya, Cas. Gue juga sayang sama lo.”
Lucas tersenyum lebar hingga matanya menyipit, dilihatnya Olivia yang sedikit tertunduk tersipu malu dengan pengakuannya barusan, ia mendekati wajah mungil perempuan itu dan mencium pipinya lembut.
“I love you, Olivia Gianna.”