Tentang Dia

Sesuai dengan janji yang dibuat Olivia dan ibu Lucas, Minggu sore itu Olivia pergi ke cafe yang disebutkan ibu Lucas, yang berada di kawasan Jakarta Selatan.

Tidak lama setelah Olivia sampai, ibu Lucas juga sampai. Mereka saling menyapa sambil cipika-cipiki saat bertemu.

“Udah lama ya, Olivia?” tanya ibu Lucas ramah.

Olivia menggeleng pelan sambil tersenyum, “Engga kok, Tan. Baru juga 10 menitan aku sampe.”

Setelah itu keduanya memesan sepiring Red Velvet Cake dan juga Ice Coffee untuk Olivia dan Earl Grey Tea untuk ibu Lucas.

“Kamu udah sehatan, Liv?” Ibu Lucas mengawali pembicaraan mereka sore itu.

“Iya, Tante. Sebelumnya aku minta maaf ya, Tante, karena aku Lucas harus jadi korban juga.”

Ibu Lucas menggeleng pelan setelah ia menyeruput pelan teh pesanannya. “Enggak, Liv. Justru Tante bangga sama Lucas. Sudah lama Tante sama Om tidak melihat Lucas bersikap seperti itu.”

Dahi Olivia berkerut, “Maksud Tante?”

“Sejak kecil, Tante dan Om mendidik Lucas dengan cukup ketat. Lucas was a nice guy, dia selalu nurutin apa kata Tante dan Om. Sampai waktu kuliah, ternyata kami salah mengartikan sikap baiknya.”

Ibu Lucas memberi jeda sesaat sebelum ia kembali bercerita.

“Sikap nurut dan baiknya ternyata bentuk sakit hatinya, karena kami terlalu banyak mengatur hidupnya. Kami melarangnya berpacaran, melarangnya untuk bermain sampai larut malam, dan juga melarangnya udah berkegiatan lain selain sekolah. Selama SMA, Lucas tidak pernah kami izinkan untuk menjadi panitia acara apapun atau sekedar berpartisipasi dalam kegiatan apapun.

“Olivia pasti kenal Hendery, kan? Hendery jadi satu-satunya sahabat Lucas, itupun karena kebetulan kami kenal dengan orang tuanya Hendery.

“Lucas kelihatannya periang, mudah bergaul dengan siapa saja, tapi ternyata itu adalah pelampiasan kekecewaannya dengan cara didik kami.”

Olivia menggigit sedikit bibir bawahnya, ia tidak menyangka Lucas memiliki kisah hidup yang tidak terlalu mengenakkan.

“Waktu kuliah, Lucas mulai berubah. Sepertinya dia sudah nggak tahan dengan sikap Tante dan Om, dia mulai membangkang dan bertengkar sama papanya terus-terusan.”

Olivia kembali ingat masa saat ia mengetahui Lucas dipukuli ayahnya karena lelaki itu mencoba membatalkan perjodohan mereka.

“Karena perubahan itu, papanya Lucas pun ikut berubah, jadi mudah marah dan selalu memukul Lucas setiap kali Lucas melawan. Tapi, Lucas nggak pernah mengelak dari pukulan papanya. Tante nggak bisa berbuat apa-apa dan itu yang buat Tante semakin merasa bersalah sama Lucas …”

Kalimat ibu Lucas terputus, ternyata wanita itu tidak kuasa untuk menahan air matanya. Olivia segera memberikan selembar tisu kepada ibu Lucas dan meminta wanita itu untuk kembali meminum tehnya agar lebih tenang.

“Sampai akhirnya Lucas kabur dari rumah, hari itu jadi hari paling menyakitkan buat Tante. Mungkin buat Om juga, tapi dia nggak pernah nunjukkin perasaannya sama sekali. Dua minggu kami nggak tau kabar Lucas, kami nggak tau dia pergi kemana. Tapi untungnya ternyata dia kabur ke tempat Hendery. Hendery baru berani cerita ke kami setelah dia ajak Lucas bicara baik-baik.

“Sejak itu, Lucas dan papanya buat perjanjian; Lucas boleh tinggal sendiri asalkan mau kami jodohkan dengan kamu, Nak.”

Keduanya kini terdiam. Ibu Lucas berusaha menenangkan diri dengan menyuap beberapa sendok cake sementara di sisi lain pikiran Olivia berkecamuk, membayangkan Lucas dengan segala celotehnya … ternyata banyak rahasia yang tersimpan di balik itu semua.

“Maaf ya, Olivia … Kamu juga jadi korban di sini. Tante tau betul, pasti kamu nggak suka kan, dengan perjodohan ini? Apalagi ini bukan jamannya Siti Nurbaya.”

“Tante … Aku nggak papa, kok,” balas Olivia cepat. Bukan karena ia mengasihani Lucas, tapi memang karena ia sudah mencintai lelaki itu.

“Makasih ya, Olivia, sudah mau dengar cerita Tante. Semoga dengan kehadiran kamu, sakit hati yang dialami Lucas bisa segera sembuh. Tante cuma mau dia kembali damai sama papanya.” Ibu Lucas menutup ceritanya sore itu.

Olivia mengangguk, “Iya Tante, aku juga mau berterima kasih sama Tante dan Om, karena sudah melahirkan laki-laki hebat seperti Lucas.”

Ibu Lucas tersenyum sambil meraih tangan Olivia dan mengelusnya perlahan. Ia bersyukur pertemuannya dengan Olivia sore itu bisa melepas sedikit beban yang selama ini menghantui dirinya.

“Tante, kalau ada waktu kapan-kapan main ke apartemen, ya? Kita makan bareng sama Lucas.”

“Boleh, Liv?”

Pertanyaan ibu Lucas sedikit membuat Olivia bingung tapi ia tidak terlalu ambil pusing untuk saat ini. “Iya Tante, boleh dong. Nanti kita chat-an lagi aja ya, Tan …”