Misunderstand
Sudah seminggu Olivia kembali dengan rutinitasnya sebagai selebgram; ia mulai bekerja lagi dengan beberapa merk yang mengharuskan dirinya untuk berpergian dan Lucas selalu menemani kemanapun Olivia pergi.
“Lucas, gue marah ya, kalo lo ngesampingin urusan lo demi anterin gue,” ancam Olivia saat Lucas mengantar dirinya untuk meeting di kawasan Kuningan siang itu.
“Perasaan dulu lo nggak peduli sama urusan gue deh, Liv,” balas Lucas dengan nada bercanda tapi sepertinya Olivia menanggapinya dengan cukup serius. Perempuan itu hanya tertunduk diam.
“Maaf,” ucap Olivia setelah beberapa saat.
Dengan tangan kanan Lucas yang masih memegang stir mobil, tangan kirinya dengan pelan mengusap puncak kepala Olivia. “Nggak papa kok, gue suka kalo harus nemenin lo kemanapun lo pergi.”
“Tapi lo kan pasti punya kesibukan lain,” sanggah Olivia sambil menoleh ke arah Lucas.
Tangan kiri Lucas berpindah, kini ia menggenggam tangan Olivia yang sedari tadi ditaruh di atas pangkuan perempuan itu. “Kesibukan gue cuma satu, Liv.”
“Apa?”
“Make sure lo baik-baik aja.”
Olivia melempar pelan tangan Lucas dari genggamannya, melipat tangan di dada serta menoleh ke luar jendela. “Hih, gombal,” gerutunya pelan.
Lucas kembali mengusap-usap lembut kepala Olivia sambil terkekeh, “Lucu banget sih lo, Liv.”
“Gue bukan badut Ancol, stop bilang gue lucu.”
Kini tangan Lucas mencubit gemas pipi Olivia dan perempuan itu kembali melayangkan protesnya, “Lucas nyetir yang bener aja deh,” sambil ia berusaha melepaskan diri dari gangguan tangan Lucas.
Tapi bukan Lucas namanya kalau tidak semakin menjadi-jadi. Sekarang ia kembali mengambil tangan kanan Olivia dan mengunci jari-jari perempuan itu diantara miliknya.
“Udah, begini yang paling bener,” ujar Lucas dengan suara rendahnya lalu ia mencium pelan punggung tangan Olivia sebelum kembali fokus dengan jalanan ibukota.
Di kursi penumpang, Olivia memandang keluar jendela dengan senyum mengembang di wajahnya. Ia dapat merasakan wajahnya memanas karena perlakuan manis Lucas yang tidak pernah habis untuk dirinya.
*
Olivia dan Lucas kembali tiba di apartemen mereka sekitar pukul 1 siang, sesuai dengan prediksi Olivia saat bertukar pesan dengan ibu Lucas.
“Liv, lupa beli makan siang,” keluh Lucas saat lift apartemen sedang membawa mereka ke lantai unit mereka.
Olivia tersenyum canggung, “Nanti pesen dari apart aja,” balasnya berbohong.
“Makan di apart lo, ya,” ucap Olivia lagi setelah lift yang mereka tumpangi berhenti. Lucas hanya mengangguk, lalu ia segera menekan tombol passcode unitnya dan mempersilahkan Olivia untuk masuk terlebih dahulu.
“Eh, kalian udah nyampe ternyata,” sambut ibu Lucas yang sudah berada di unit milik Lucas sejak satu jam yang lalu.
“Iya, Tante,” balas Olivia ramah sambil kembali ber-cipika-cipiki dengan ibu Lucas, tapi tidak dengan Lucas. Lelaki itu mematung di dekat pintu dan menatap Olivia dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Sejak kapan lo deket sama nyokap gue?” tanya Lucas curiga.
Olivia sedikit terperangah, “Hah? Ya … Kan dari awal dijodohin juga—”
“Gue tanya, sejak kapan lo deket sama nyokap gue?!” Lucas mengulang pertanyaannya dengan suara lebih keras dan nada bicara yang lebih tinggi.
Baik Olivia maupun ibu Lucas sama-sama terkejut dengan ucapan Lucas. “Nak, kenapa kok kamu nanya gitu ke Olivia?” tanya ibu Lucas selembut mungkin sambil mendekati Lucas.
Tangan ibu Lucas hendak memegang lengan Lucas, tetapi lelaki itu mengelak dan mundur selangkah. “Mama ngapain di sini?! Mau suruh-suruh aku apalagi?!”
“Lucas! Lo nggak boleh ngomong gitu sama nyokap lo!” Kali ini gantian Olivia yang menjawab pertanyaan Lucas dengan nada bicara yang lebih naik dari biasanya. Ia ikut menghampiri Lucas dan ibunya yang berdiri di dekat pintu.
“Gue yang ajak nyokap lo ke sini buat makan bareng. Gue mau lo berdamai sama nyokap dan bokap lo, sama masa lalu lo juga. Sekarang nyokap lo udah dateng, udah masak makanan kesukaan lo, lo nggak seharusnya bersikap kayak gini.” Olivia berusaha membujuk Lucas.
“Lo tau apa urusan keluarga gue?! Lo nggak perlu ikut campur sama urusan keluarga gue!” bentak Lucas seraya menatap Olivia dingin, suatu hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya dengan perempuan itu.
Olivia lantas tidak takut dengan tatapan tajam Lucas. Ia membalas tatapan itu dan di sana ia bisa melihat perasaan Lucas yang sebenarnya; ketakutan yang disembunyikan dibalik amarahnya.
“Gue kecewa sama lo, Liv.”
Lucas kemudian pergi meninggalkan Olivia dan ibunya tanpa berkata apa-apa lagi.