Kembali
Kamis siang itu Lucas memutuskan untuk pulang ke rumahnya, setelah entah berapa lamanya ia tidak pernah menginjakkan kaki di sana, sampai ia sendiri ragu apakah bangunan megah itu masih bisa disebut rumah atau tidak.
Seorang petugas keamanan membukakan pintu pagar besar rumah Lucas dan mempersilahkan mobil Lucas untuk masuk. Sepertinya petugas itu adalah pegawai baru ayahnya karena ini kali pertama Lucas melihatnya. Tapi petugas itu terlihat seperti sudah mengenal Lucas cukup lama.
Sukses memarkirkan mobilnya, Lucas turun dari mobil dan berjalan masuk ke rumahnya. Di pintu depan, asisten rumah tangga yang sudah ia kenal sejak kecil menyambutnya hangat.
“Den Lucas, apa kabar?”
Lucas tersenyum ramah. “Kabar baik. Bi Imah sendiri apa kabar?” balasnya bertanya.
Bi Imah, asisten rumah tangga kepercayaan keluarga Lucas, menjawab pertanyaan Lucas sambil mengantarkan Lucas ke ruang tengah. “Baik, Den.”
“Syukurlah. Bi, makasih ya selalu kirimin saya makanan enak lewat Bi Inah.”
Bi Inah, orang yang membantu Lucas untuk membersihkan unit apartemennya seminggu sekali adalah saudara kembar dari Bi Imah yang juga orang kepercayaan keluarganya.
Bi Imah menggeleng pelan, “Bukan saya yang kirim, Den. Tapi Ibu. Ibu yang selalu masak untuk Den Lucas,” balas Bi Inah kemudian saat ia melihat ibu Lucas keluar dari kamar, ia buru-buru berpamitan. “Den, saya tinggal dulu ya. Itu Ibu sudah datang.”
Belum sempat Lucas menanggapi kalimat Bi Inah, wanita paruh baya itu sudah menghilang. Kini tersisa Lucas dan ibunya yang sedang menghampiri dirinya di ruang tengah.
“Halo, Nak, apa kabar? Udah makan?” tanya ibu Lucas canggung. Biasanya seorang ibu akan memeluk anaknya ketika mereka bertemu, apalagi setelah tidak bercengkrama dalam waktu yang cukup lama. Tapi kini ibu Lucas hanya berdiri kikuk di hadapan Lucas.
“Baik. Aku udah sarapan tadi. Mama apa kabar?” balas Lucas tidak kalah canggung dengan sang ibu.
“Mama baik, sayang. Duduk dulu ya, mama ambilin minum buat kamu,” jawab ibu Lucas sambil beranjak pergi meninggalkan Lucas, tapi tangan Lucas dengan cepat menahan kepergian ibunya.
“Ma,” panggil Lucas pelan. Ibu Lucas menoleh, mendapati sorot mata sang putra penuh dengan berbagai perasaan yang bercampur aduk. “Mama anggep aku cuma tamu di sini?” tanya Lucas kecewa.
“Nak, bukan gitu. Mama—”
Belum sempat ibu Lucas menyelesaikan kalimatnya, Lucas sudah memeluk erat ibunya. “Ma, Lucas kangen kepengen dipeluk.”
Tak terelakan lagi, tangis ibu Lucas pecah seketika. Ia membalas pelukan Lucas dengan erat sambil sesekali mengusap punggung bidang putranya itu.
“Lucas, maafin Mama … Maaf …”
Lucas mengangguk pelan, sebisa mungkin ia menahan air matanya untuk tidak ikut keluar.
“Ma, maaf kemarin harusnya Lucas gak bilang kayak gitu ke Mama,” ujar Lucas setelah melepas pelukannya.
Gantian ibu Lucas mengangguk mengerti, “Mama ngerti, sayang. Mama ngerti …” Ibu Lucas menarik nafas sesaat sebelum kembali berbicara. “Lucas mau kan, maafin Mama dan juga Papa?”
Lucas tersenyum dan kembali mengangguk, “Iya, Ma. Maafin Lucas juga ya, selama ini Lucas bersikap egois sama Mama Papa.”
Ibu Lucas mengelus pelan kepala Lucas sambil menatap wajah putra semata wayangnya itu. Sungguh ia bersyukur, hari yang ia nantikan telah tiba; hari di mana keluarganya dapat kembali berkumpul bersama.
“Nak, kamu mau ya, nginep semalem di sini? Biar nanti ketemu Papa.”
“Iya, Ma. Aku juga udah ada rencana buat nginep di sini.”
*
Setelah 1 jam lebih lamanya Olivia harus berhadapan dengan kemacetan ibukota, sore itu akhirnya ia tiba di lobi gedung apartemennya. Setelah turun dari taksi yang mengantarnya, Olivia bergegas kembali ke apartemennya. Tapi sebelumnya ia mampir dulu ke mini mart yang terletak di lobi untuk membeli beberapa cemilan.
Saat melewati rak berisikan chiki dan potato chips, dirinya kembali teringat dengan Lucas yang hampir 24 jam selalu menemani dirinya.
Namun hari ini tidak ada lelaki itu di sampingnya. Lebih tepatnya sudah 3 hari lamanya ia dan Lucas tidak berkomunikasi dan bertemu. Olivia sengaja tidak menghubungi Lucas karena ia sudah berjanji pada lelaki itu untuk tidak mengganggunya sampai urusan Lucas dengan orang tuanya selesai walaupun sebenarnya ia rindu … Ia rindu akan kehadiran lelaki itu di sisinya.
Kresk … kresk …
Olivia menoleh cepat, mencari sumber suara yang terdengar cukup dekat darinya. Sore itu tidak ada siapa-siapa di mini mart itu, kecuali dirinya sendiri dan petugas yang berjaga di kasir.
Merasa seperti ada seseorang sedang mengintai dirinya, Olivia buru-buru menyudahi kegiatan berbelanjanya. Ia segera membayar semua barang yang ia beli dan bergegas pergi dari sana.
Namun, begitu ia tiba di lantai unitnya, perasaan Olivia justru semakin tidak enak. Saat itu keadaan lantai unitnya sepi, tidak ada yang berlalu lalang karena memang hanya penghuni atau tamu yang diundang yang dapat memiliki akses untuk berada di sana.
Dengan cepat dan berusaha setenang mungkin Olivia memasukkan kata sandi untuk kunci unitnya. Ia sempat salah menekan satu tombol angka sehingga ia harus kembali mengulang memasukkan kata sandinya.
Pintu unit Olivia akhirnya berhasil terbuka, pemiliknya bergegas masuk ke dalam dan menutup pintunya rapat-rapat, tapi usahanya digagalkan sebuah tangan yang cukup kekar yang mampu menahan pintu unit apartemen itu.
“Hai Olivia Gianna, masih inget kan, sama gue?”