Luka Hati

2020, Februari

Nata memainkan ujung cardigan kuning pastel yang ia pakai, seperti menjadi suatu kebiasaan saat ia sedang menunggu atau gelisah. Ia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, waktu masih menunjukkan pukul 11.50 siang, yang artinya masih ada sisa waktu 10 menit sebelum ia kembali bertemu dengan Hendery.

Setelah beberapa hari sebelumnya ia akhirnya berani untuk menghubungi Hendery, hari ini ia mengajak lelaki itu untuk bertemu. Terlepas dari rasa rindunya yang menggunung, ia mau terbebas dari rasa bersalah yang membelenggunya selama dua tahun ini.

Kini waktu sudah menunjukkan pukul 12.10 siang, yang artinya sudah 20 menit Nata menunggu kedatangan Hendery di resto yang terletak tidak jauh dari rumahnya. Hendery yang masih belum nampak, membuat Nata sedikit gelisah. Tapi ia paham, pasti tidak mudah bagi Hendery untuk menemui dirinya lagi. Walaupun begitu, ia akan tetap menunggu sampai lelaki itu datang.

Dan saat jarum panjang jam tangan Nata berhenti di angka 6, netra perempuan itu menangkap sosok Hendery yang sedang bertanya kepada staff resepsionis di depan pintu. Staff itu lalu mengantarkan Hendery ke meja di mana Nata berada, yang terletak tidak jauh dari pintu masuk.

“Hai, Hendery,” sapa Nata lembut. Suara dan senyuman manisnya masih sama seperti yang selalu Hendery dengar dan lihat sejak dahulu.

Hendery tidak membalas sapaan Nata, ia langsung duduk berhadapan dengan perempuan itu dan memesan segelas Ice Green Tea kepada sang pramusaji tanpa berbicara apapun dengan Nata.

“Nggak mau makan siang sekalian?”

“Nggak, lo aja.”

Nata terdiam. Hendery masih sama seperti yang ia temui di rumah sakit beberapa hari lalu, dingin dan acuh. Nata juga melihat bekas luka di tangan Hendery yang masih dibalut perban.

“Tangannya udah sembuh? Lukanya nggak kenapa-napa, kan?” tanya Nata lagi dengan nada khawatir.

“Mau ngomong apa?” Hendery mengacuhkan pertanyaan Nata. Sebenarnya ia ingin sekali menjawab pertanyaan perempuan itu, kekhawatiran Nata menjadi sebuah bukti yang cukup jelas kalau perempuan itu masih peduli dengan dirinya. Tapi nyatanya Hendery masih kalah dengan emosinya.

Nata menggigit bibir bawahnya sebelum ia menjawab pertanyaan Hendery. “Aku cuma mau minta maaf, Hendery,” jawab Nata pelan. Sebisa mungkin ia menahan air matanya agar tidak tumpah saat itu juga. Selain karena ia malu harus menangis di tempat umum, ia juga tidak mau Hendery melihat dirinya menangis.

Hendery mendengus sambil mengangkat sebelah sudut bibirnya. “Lo nggak salah kok, gue yang salah, hahaha ...” tawa getir Hendery semakin membuat hati Nata terasa pilu. “Simpen aja maaf lo buat hal yang lebih berguna daripada gue.”

“Hendery, please jangan kayak gini.”

“Trus lo maunya gue gimana, Nata? Berharap kalau dua tahun ini cuma mimpi aja dan sekarang, ta-da, sekarang gue udah bangun dari mimpi gue?”

Nata menitikkan air matanya, buru-buru ia hapus dengan sedikit gusar. “Maaf, Hendery ...”

Hendery bangkit dari duduknya, di saat bersamaan pramusaji datang membawa minuman pesanan Hendery. “Mas, ini minumannya,” ucap pramusaji itu dengan bingung karena melihat Hendery seperti ingin pergi dari situ.

“Kasih dia aja, yang suka green tea dia, bukan saya,” balas Hendery dingin lalu ia benar-benar pergi meninggalkan Nata sendiri di resto itu.

Pramusaji menaruh ice green tea pesanan Hendery tepat di hadapan Nata sementara perempuan itu masih menatap punggung Hendery yang semakin menjauh dan akhirnya menghilang. Kini ia berganti menatap nanar gelas minumannya, kembali air matanya menitik jatuh di atas pipinya.

Nata sadar, kalau ia salah mengambil langkah. Keputusannya untuk pergi diam-diam dari Hendery justru kini menorehkan luka dalam di hati lelaki itu, dan entah, sepertinya akan sulit bagi Nata seorang untuk bisa menyembuhkan luka itu.

Dan apakah ia juga masih layak untuk menjadi penyembuh luka hati Hendery, ia sendiri tidak tahu.