Friction
Sepanjang perjalanan dari studio sampai Cerveza, tidak banyak yang dibicarakan Nata dan Raden. Keduanya sama-sama sibuk; Raden fokus dengan vespa hitam dan jalanan yang cukup padat sementara Nata hanyut dalam pikirannya sendiri.
Apa yang harus ia lakukan jika ia berhasil mendapati Hendery lagi? Haruskah ia kembali lari seperti yang ia lakukan minggu lalu, atau memberanikan diri menghampiri lelaki itu dan … mengajaknya bicara?
Nata menggelengkan kepala bingung dan Raden memperhatikan dari kaca spionnya. “Kenapa, Ta?” tanya Raden penasaran.
“Nggak papa, hehe …” jawab Nata bohong.
Sekitar pukul 8 malam, Nata dan Raden tiba di Cerveza.
“Yuk,” ajak Raden setelah ia selesai membereskan helm miliknya dan juga yang dipinjamkan untuk Nata.
Melihat keraguan di mata perempuan itu, Raden kembali mengulang ajakannya. “Ta, yuk masuk, udah sampe masa diem aja di parkiran,” ucap Raden, kali ini sambil menggandeng tangan Nata dan sedikit menyeret perempuan itu untuk mengikuti langkah kakinya.
Nata menurut, berusaha untuk tidak menunduk karena malu, ia memasuki kembali Cerveza yang ramai sama seperti kali pertama ia berkunjung.
Tidak ada lagi tatapan aneh dari para pengunjung yang duduk di dekat pintu masuk karena Nata tak lagi membawa tas biolanya. Hanya saja beberapa dari mereka tidak berhenti melempar tatapan kagum kepada Raden yang terlihat gagah dengan jaket kulit coklat tua andalannya.
“Kita duduk di situ aja ya, nggak terlalu deket dance floor jadi nggak terlalu berisik,” ucap Raden lagi dan diiyakan dengan anggukan kepala Nata.
Setelah memesan dua minuman non-alkohol, baik Nata atau pun Raden duduk dan terdiam. Raden sesekali mengecek ponselnya sambil mengedarkan pandangan ke sekitar, mencari tiga sahabatnya yang ia mintai tolong untuk ikut hadir di Cerveza malam itu.
Nata juga ikut mengedarkan pandangannya ke sekitar, tapi untuk mencari kembali Hendery di antara kerumunan orang yang memadati tempat itu.
“Ta, gue izin ke toilet dulu. Nggak papa kan, sendirian?” tanya Raden sedikit berteriak.
Nata hanya mengangguk dan setelah itu Raden segera pergi meninggalkannya. Begitu Raden menghilang, Nata segera bangkit dari kursinya dan berjalan menuju lantai dansa untuk mencari Hendery.
Berdesakan di antara orang-orang yang sedang melupakan beban hidupnya sejenak, tidak jarang juga harus bersenggolan dengan mereka dan mendapat sekali dua kali panggilan genit dari para pengunjung pria, lantas tidak mengurangi keinginan Nata untuk mencari Hendery. Ia terus berjalan di tengah lantai dansa, hingga seseorang menarik lengannya dan memaksa Nata untuk pergi dari situ.
“Lepasin!” teriak Nata kesal.
“Lo ngapain di sini?!” tanya si penarik lengan Nata dengan nada tidak kalah kesal.
Rasa kesal Nata berubah begitu menyadari orang yang menarik lengannya adalah orang yang ia cari malam itu.
“Hendery …”
“Lo ngapain di sini?! Di sini bukan tempat lo, mendingan lo pergi dari sini,” ucap Hendery dengan cukup kasar.
Nata pikir dirinya sudah siap untuk bertemu dan bicara dengan Hendery, tapi nyatanya tidak. Jelas sama sekali ia belum siap, karena kini bukan kata-kata yang dikeluarkan dari mulutnya melainkan sebuah tangisan.
Melihat Nata mulai terisak, Hendery kembali menarik lengan Nata dan membawanya keluar dari Cerveza.
“Lo mau apalagi, Naraya Talitha? Lo mau ngomong apalagi sama gue? Gue udah baca chat lo, gue udah tau alasan lo pergi. Gue juga udah tau kalo sekarang lo baik-baik aja, lo bisa pergi ke tempat-tempat yang pengen lo kunjungin. Buat apalagi cari gue?” tanya Hendery dengan usahanya untuk tidak meluapkan semua kekesalannya.
“Aku … Aku … Waktuku mungkin nggak banyak, Dery. Aku—”
“Kalo waktu lo nggak banyak, kenapa dua tahun lalu lo pergi tanpa bilang apa-apa sama gue, Nat?!”
Ternyata Hendery juga tidak bisa mengontrol dirinya. Emosinya pecah bersamaan dengan tangis Nata yang semakin menjadi. Mereka berdua sudah sama-sama tidak peduli sedang menjadi tontonan orang-orang di lahan parkir Cerveza.
“Lo mendingan pulang, nggak usah cari gue lagi. Gue udah cukup bahagia dengan kehidupan gue sekarang, dan lo juga udah bahagia dengan kehidupan lo sekarang. Sesuai kemauan lo, kita udahan.”
Baru selangkah Hendery melangkah meninggalkan Nata, sebuah tinjuan keras sukses mendarat di wajah lelaki itu.
“Raden! Jangan, Raden!” Nata berusaha mencegah Raden untuk tidak memukuli Hendery dengan melerai keduanya, tapi sedetik kemudian malah tubuhnya yang ambruk ke tanah.
“Nata! Nata!! Bangun, Nat!!”