Explanation
Sudah hampir 15 menit Hendery diam di dalam mobilnya. Ia sudah tiba di kawasan rumah Nata sedari tadi, tapi tubuhnya masih saja bersandar di kursi balik kemudi. Keraguan kembali memenuhi dirinya, padahal selama perjalanan, sudah berulang kali ia meyakinkan dirinya kalau ia menemui Nata dan mendengarkan penjelasan perempuan itu.
Tapi begitu tiba di depan rumah Nata, keyakinan itu luntur. Seperti ada sesuatu di kepalanya yang memaksanya kembali mengingat, betapa sakit hatinya saat ia dipaksa untuk menerima realita kalau perempuan itu pergi karena sakit yang diidapnya, dan dengan dalih tidak ingin menyakiti hatinya, perempuan itu pergi tanpa berucap apa-apa.
Waktu terus berlalu seiring dengan Hendery yang kini menatap layar ponselnya. Nihil, tidak ada pesan dari Nata. Ia tidak tahu, entah perempuan itu masih menunggu dirinya atau sudah tidak peduli apakah ia akan datang atau tidak. Perasaannya bergumul sendiri dan ia tidak suka dengan hal itu. Akhirnya Hendery memejamkan mata beberapa saat dan menarik nafas panjang sampai ia mendapatkan sebuah keputusan; turun dari mobil dan mendatangi rumah Nata.
Ting tong ...
Seorang asisten rumah tangga keluarga Nata membukakan pintu untuk Hendery dan mempersilahkan lelaki itu untuk masuk. Hendery menanggapi sambutannya dengan ramah, lalu ia masuk dan duduk di ruang tamu seperti kebiasaannya sejak dahulu setiap berkunjung ke rumah Nata.
“Saya panggilkan non Nata sebentar ya, Mas,” ucap asisten rumah tangga keluarga Nata kemudian wanita itu pergi menghilang dari pandangan Hendery, berganti dengan ibu Nata.
“Halo Tante, maaf ya, saya dateng sore-sore ke sini.”
Ibu Nata tersenyum ramah. “Nggak papa, Hendery. Kamu kayak orang asing aja ngomongnya begitu,” balas ibu Nata kemudian mereka berdua sama-sama mendapati Nata yang sedang berjalan menghampiri keduanya, “Tante tinggal dulu, ya. Hendery mau minum apa?” tawar ibu Nata.
“Nggak usah repot-repot, Tante,” tolak Hendery sopan.
“Kalau perlu sesuatu, bilang aja sama Bibi,” ucap ibu Nata kali ini kepada Hendery dan juga Nata yang sudah tiba di ruang tamu. Baik Nata dan Hendery hanya mengangguk kemudian ibu Nata pun segera meninggalkan mereka berdua.
“Hai Nat, lo udah nggak papa, kan?” tanya Hendery selepas kepergian ibu Nata. Nata lagi-lagi hanya mengangguk menjawab pertanyaan Hendery.
“Kita ngobrol di taman depan aja, gimana?” tawar Nata dan langsung disetujui oleh Hendery. Keduanya segera meninggalkan ruang tamu dan pergi menuju sebuah taman kecil milik kompleks perumahan Nata, yang kebetulan terletak berseberangan dengan rumah Nata.
“Hendery, kamu beneran mau dengerin aku?” tanya Nata begitu mereka duduk berdampingan di bangku taman.
“Iya,” jawab Hendery singkat. Hatinya sudah ia persiapkan sedari tadi untuk mendengarkan penjelasan Nata.
“Sebelumnya aku mau minta maaf. Selama ini aku nggak pernah say sorry secara proper. Maaf, buat segalanya, Hendery. Buat kepergian mendadak aku yang bikin kamu nggak baik-baik aja.”
Nata diam sejenak. Biasanya air matanya akan segera mengalir pelan di wajahnya akibat perasaan emosional dalam dirinya, tapi kali ini ia sudah lebih siap, ia bisa menahan tangisnya agar bisa menjelaskan semuanya kepada Hendery.
“Alasan aku nggak ngomong sama kamu apa-apa tentang penyakitku dan kepergianku, karena aku nggak mau bikin kamu sedih. Aku nggak mau ngecewain kamu. Dan aku juga takut, Hendery ... Aku takut kehilangan kamu.
“Aku takut karena aku sakit, aku nggak bisa jadi pacar yang baik buat kamu. Aku hanya akan nyusahin kamu dengan sakitku ini, yang akhirnya akan bikin aku kehilangan kamu.”
“Dari mana lo bisa nyimpulin itu semua, Nata? Hubungan kita dari akhir SMA sampai dua tahun lalu itu lo anggap apa?”
Nata hanya menunduk mendengar sanggahan Hendery sementara lelaki itu sebisa mungkin menahan emosinya, ia tidak mau kejadian di Cerveza lusa kemarin kembali terulang.
“Sorry, lanjutin lagi aja, apa yang mau lo omongin,” sambung Hendery lagi.
“Karena itu juga aku mau minta maaf, Hendery. Maaf aku udah ngeraguin kamu, ngeraguin hubungan kita selama ini. Maaf, nggak seharusnya aku bersikap seperti dua tahun lalu. Pikiranku terlalu pendek saat itu, padahal Papa udah berkali-kali bilang ke aku untuk jujur sama kamu.”
“Terus kenapa pas lo balik, lo malah mutusin sepihak hubungan kita?”
Nata tertegun. “Itu ... Itu karena aku nggak mau nyakitin kamu lebih lagi. Rasanya aku nggak tau diri banget, udah pergi gitu aja terus tiba-tiba aku dateng dan menganggap kamu masih pacar aku.”
“Tapi itu yang gue lakuin, Nat. Itu yang gue lakuin buat lo selama dua tahun gue nunggu lo. Iya, gue marah, marah banget. Gue sangat-sangat kecewa, gue merasa lo jahat banget sama gue. Tapi, perasaan gue nggak pernah berubah, Nat. Gue masih dan akan selalu sayang sama lo. Nggak ada yang bisa gantiin lo.”
Di balik pandangannya yang mulai samar, Nata dapat melihat gaun broken white selutut yang ia gunakan sore itu basah akibat air mata yang menetes satu-persatu di atas pangkuannya. Kepalanya terus tertunduk, matanya terlalu takut untuk membalas tatapan teduh milik Hendery.
Melihat bahu Nata yang bergetar karena menahan tangis, Hendery berpindah posisi; ia berjongkok di hadapan Nata dan menggenggam kedua tangan Nata. “Nat, liat aku,” pinta Hendery pelan. Dengan sisa keberanian yang Nata miliki, ia menuruti permintaan Hendery.
“Nat, jangan bohongin aku lagi, ya? Dan jangan pergi ninggalin aku lagi. Kamu bisa kan, nepatin janji ini?”
Nata hanya menatap Hendery dengan air mata yang semakin membasahi wajahnya. Hendery berusaha menghentikan air mata itu dengan mengusapkan ibu jarinya di wajah Nata.
“Nata, aku nggak akan ninggalin kamu. Kalau kamu sakit, ayo kita lawan sama-sama penyakit itu. Aku akan nemenin kamu sampai sembuh. Nggak akan, Nat, nggak akan pernah aku ninggalin kamu. Walaupun ada seratus perempuan cantik sehat di luar sana, aku akan tetap pilih kamu. Call me bucin or whatever you named it, tapi itulah perasaan aku.”
“Hendery ...”
“Apa, Nata?” tanya Hendery sambil tersenyum manis. Tidak adalagi nada emosi atau pun kekecewaan terdengar di suara lelaki itu, jelas berbeda dengan beberapa saat lalu saat ia masih menggunakan bahasa lo-gue untuk berbicara dengan Nata.
“Makasih, Hendery. Aku bener-bener sayang sama kamu,” jawab Nata seraya tersenyum, ia berusaha membalas senyuman lelaki yang kini merengkuhnya ke dalam dekapan yang tererat.
“Aku juga sayang sama kamu, Nata. Jadi, jangan putusin aku, ya?”
Nata mengangguk berkali-kali dalam pelukan Hendery. Kini hatinya memanjatkan satu doa pada Yang Maha Kuasa.
“Tuhan, boleh aku minta waktu yang lebih banyak untuk bisa dihabiskan bersama lelaki ini?”