White Lie?
Nata perlahan membuka matanya, ia mendapatkan kedua orang tuanya sedang duduk di sisi kanan kiri ranjangnya dengan raut wajah cemas.
“Ma? Pa?” panggil Nata dan langsung mendapat respons dari keduanya.
“Nata? Nata kamu ada rasa sakit atau apa?” tanya ayah Nata dengan nada khawatir.
Nata hanya tersenyum sambil menggeleng pelan. “Nggak ada.” Kemudian Nata melihat ke sekeliling kamarnya yang sunyi. “Hendery kemana? Raden?” tanyanya penasaran.
“Papa suruh mereka pulang,” jawab ayah Nata. “Nata kenapa bohong sama Papa?” sambungnya lagi.
Melihat air muka Nata yang berubah, ibu Nata segera memotong, “Pa, udah jangan bahas itu dulu,” ujarnya lalu ia mendorong suaminya untuk agak menjauh dari ranjang Nata.
Nata melihat ayah dan ibunya berdiskusi kecil di pojok ruangan, rasa bersalah timbul di dalam dirinya. Ia tahu seharusnya ia tidak berbohong dengan kedua orang tuanya, tapi ia sendiri tidak punya pilihan lain. Lebih tepatnya, ia tidak tahu cara lain selain datang ke Cerveza untuk menemui Hendery.
“Pa, Ma, handphone Nata di mana?” tanya Nata menyelak diskusi kedua orang tuanya.
“Kamu istirahat dulu aja, Nata. Nggak perlu hubungi siapa-siapa. Handphone kamu akan Papa kasih kalau kamu sudah diizinkan dokter pulang ke rumah,” jawab Papa Nata kemudian pria itu pergi meninggalkan ruang rawat inap Nata.
Ibu Nata menghampiri putri semata wayangnya dan mengelus pelan puncak kepala Nata. “Sayang, istirahat dulu aja, ya? Mama yakin, pasti besok dokter udah ngijinin kamu untuk pulang ke rumah.”
Nata mengangguk, lalu ia kembali mengajak ibunya berbicara. “Ma, bisa tolongin Nata?”
*
Hendery duduk dengan gelisah di kafetaria Rumah Sakit Jakarta pagi itu. Sudah 12 jam ia berada di sana, sejak kedatangannya untuk mengantar Nata yang pingsan hingga saat ini, ia tengah menunggu kabar terbaru dari perempuan itu.
Beberapa kali ia mengecek ponsel pintarnya, berharap Nata membalas pesannya. Tidak, ia berharap setidaknya Nata membaca pesannya. Dengan begitu, ia tahu bahwa perempuan itu sudah sadar dan dalam keadaan baik-baik saja.
“Nak Hendery?” tegur seorang wanita yang memiliki senyuman yang mirip dengan Nata.
“Eh, iya, Tante. Nata gimana kabarnya?” tanya Hendery sambil berdiri sejenak, mempersilahkan ibu Nata untuk duduk di kursi di seberangnya, kemudian ia kembali duduk lagi.
“Nata sudah siuman, Nak,” jawab ibu Nata dan disambut helaan nafas lega dari Hendery. “Tapi Nata belum bisa ketemu sama siapa-siapa. Papanya agak marah sama dia karena dia bohong sama kami,” sambungnya lagi.
Hendery mengangguk mengerti. “Oh, nggak papa, Tante. Yang penting Nata baik-baik aja.”
Sejenak keduanya sama-sama terdiam, sebelum akhirnya Hendery memberanikan diri untuk bertanya. “Tante, kalau boleh tahu, sejak kapan Nata sakit? Dan gimana kondisi kesehatannya sekarang?”
Ibu Nata menarik nafas dan menghembuskannya pelan sebelum memulai ceritanya. “Kami tahu kondisi Nata saat Nata kuliah semester akhir. Awalnya kami kira Nata cuma kecapekan karena skripsi dan sebagainya, tapi ternyata kami salah. Nata mengidap gagal ginjal, salah satu penyebabnya adalah turunan dari keluarga besar kami dan ditambah ada penumpukan zat di dalam tubuh Nata.
“Sayangnya kami telat untuk tau kondisi ginjal Nata, gagal ginjal Nata sudah masuk kategori kronis di mana dia harus rutin cuci darah tiga kali seminggu. Nata sempet mau nyerah, tapi katanya salah satu alasannya untuk bertahan itu karena Hendery.”
Nafas Hendery tercekat saat mendengar namanya disebut oleh ibu Nata.
“Terima kasih ya, Nak, kami bersyukur banget Nata bisa kenal dan berhubungan baik sama Hendery. Kami berharap Hendery bisa terus ada di sisi Nata sampai Nata bisa ketemu pendonor ginjal yang cocok dan sembuh,” tutup ibu Nata dengan mata berbinar menatap Hendery lekat-lekat.
“Pendonor ginjal yang cocok? Bukannya kemarin ke Singapur, Nata berhasil donor ginjal ya, Tan?” tanya Hendery bingung karena yang ia tahu dari hasil penyelidikannya diam-diam, Nata berhasil mendapatkan donor ginjal saat berada di Singapura.
Ibu Nata tersenyum sambil menggeleng pelan. “Nata pasti ngomong begitu supaya kamu nggak khawatir, Hendery.”
Wanita itu kembali menghela nafas. “Belum, belum ada donor yang cocok. Rencana kami yang awalnya hanya satu bulan di Singapur, malah molor jadi dua tahun. Dua tahun kami menunggu kabar yang nggak pasti, sampai akhirnya Nata sendiri yang minta pulang karena dia gak betah di sana. Kata Nata, kalau di Jakarta ada kamu yang bisa nemenin dia.”
Kalimat terakhir yang keluar dari mulut ibu Nata cukup sukses membuat dada Hendery terasa sesak. Ia tidak menduga kalau sampai saat itu, dimana ia sudah ‘membenci’ Nata, perempuan itu malah menjadikan dirinya sebagai salah satu alasan kuat untuk bertahan.
Ibu Nata lalu menghabiskan sisa chamomile tea yang ia pesan tadi dan melirik ke arah jam tangannya. “Tante harus balik ke kamar Nata, kamu pulang, ya? Tante nggak mau sampai mama papa kamu khawatir karena kamu belum pulang dari semalem.”
Ibu Nata kemudian bangkit dari duduknya dan mengelus pelan punggung Hendery. “Nanti kalau Nata sudah bisa dihubungi atau ditemui, Tante pasti kabarin kamu. Kamu nomor satu yang akan Tante hubungi. Sekarang kamu pulang dulu, ya? Makan lalu istirahat yang cukup. Jangan sampe sakit, Nata pasti bakal sedih juga kalau kamu sakit.”
Hendery hanya mengangguk pelan kemudian ibu Nata pun segera pergi meninggalkannya sendiri di kafetaria itu.
“Nat … Kenapa semakin banyak kebohongan yang lo buat, justru bikin gue semakin nggak bisa ngebenci lo? Kenapa kebohongan lo justru bikin gue merasa sangat berdosa?”