Game Over
“Hai Olivia Gianna, masih inget kan, sama gue?”
Sebuah suara asing menyapa Olivia setelah tangan pemilik suara itu berhasil menahan pintu unit Olivia.
Olivia refleks melangkah mundur masuk ke dalam unitnya sementara orang yang menahan pintu tadi kini mulai berjalan mendekati Olivia dengan langkah mengintimidasi.
“Long time no see, Cantik,” sambungnya lagi dengan nada bicara yang terdengar menjijikan bagi Olivia.
Sambil terus mendekati Olivia, orang itu melepas masker dan topi hitam yang ia kenakan, dengan sengaja ia menunjukkan identitas dirinya kepada Olivia. Olivia bergidik ngeri saat menyadari orang itu tak lain tak bukan adalah Darren. Diam-diam tangannya yang sedari tadi menggenggam smartphone berusaha mencari bantuan.
“Percuma, Olivia. Percuma lo hubungin polisi. Lo rasain sendiri kan, hari ini jalanan macetnya gimana?” tegur Darren meledek.
Darren segera menepis kasar tangan Olivia hingga ponsel itu terlempar cukup jauh dari pemiliknya, bertepatan dengan langkah Olivia yang terhenti karena menabrak meja ruang tengah, perempuan itu terjatuh dan sedikit meringis kesakitan karena kakinya terbentur meja.
“Paling juga kalo polisi berhasil dateng ke sini, mereka cuma bakal nemuin mayat lo. Karena sekarang, lo harus mati di tangan gue, Olivia.”
Darren mengeluarkan sebilah pisau dari kantong jaketnya sambil berjongkok dan ia hendak menancapkannya ke tubuh Olivia, tapi usahanya gagal karena Olivia berhasil mengambil semprotan air lada yang ia selalu simpan di tas selempangnya dan ia semprotkan ke mata Darren.
“Argh, shit! Olivia! Sini lo, jangan kabur!” teriak Darren sambil berusaha menahan rasa perih di matanya, sementara Olivia berusaha menghindari dari jangkauan Darren mengambil kembali ponselnya.
Saat Olivia sudah berhasil mendapatkan ponselnya, Darren yang dalam posisi terjatuh dan setengah meraba-raba mencari Olivia, berhasil menemukan kaki perempuan itu. Ia mencengkramnya erat, membuat Olivia tidak dapat pergi kemana-mana.
“Lepasin!” bentak Olivia sambil berusaha melepaskan kakinya dari Darren. Setelah beberapa kali usaha, akhirnya Olivia berhasil menendang Darren dan lari ke kamar seraya berusaha menelepon Lucas. Sialnya, nomor Lucas tidak bisa dihubungi karena sepertinya baterei ponselnya habis.
Berusaha menahan rasa perih di matanya, Darren bangkit dan kembali mengejar Olivia. Perempuan itu berada di kamarnya, mencari tongkat baseball yang pernah diberikan Lucas untuknya melindungi diri.
Saat dilihatnya Olivia sedang sibuk di kamarnya, lelaki itu menyeringai puas. “Lo nggak bisa kemana-mana lagi, Liv,” ujar Darren di depan pintu kamar Olivia. Perlahan ia melangkah masuk menghampiri Olivia yang terpojok di kamarnya sendiri.
Perempuan itu sudah menggenggam tongkat baseball yang ia cari, tapi ia tidak bisa berkutik apa-apa melihat Darren yang mendekatinya dengan pisau yang siap lelaki itu tancapkan kapan saja di tubuhnya.
“Goodbye, Olivia.”
Olivia hanya bisa memejamkan mata pasrah begitu Darren melayangkan pisau ke arahnya.
“Saudara Hendra, jatuhkan pisau anda segera!”
Tepat sebelum ujung pisau milik Darren mengenai kulit tubuh Olivia, seorang polisi berteriak di depan pintu kamar Olivia. Akibat shock karena tertangkap basah, Darren tanpa disadari menjatuhkan pisaunya sementara Olivia perlahan membuka matanya dan mendapati beberapa polisi sedang menyergap Darren.
“Saudara Hendra, anda kami tangkap atas tuduhan penculikan dan percobaan pembunuhan yang anda lakukan kepada saudari Olivia,” ujar polisi yang kali pertama menyergap Darren, sambil memasang borgol di kedua tangan lelaki itu dan menyuruh anak buahnya yang sudah memegangi Darren untuk segera membawa lelaki itu pergi dari situ.
Darren tidak dapat berkilah lagi. Ia hanya melirik tajam ke arah Olivia dengan tatapan menyalang. “Tunggu pembalasan gue, Olivia! Lo nggak akan pernah bisa bahagia!! Lo nggak akan gue biarin bahagia!! Tunggu pembalasan gue!!” racau Darren yang diseret paksa polisi keluar dari kamar Olivia.
“Mbak Olivia? Mbak baik-baik aja, kan?” Polisi itu kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Olivia yang masih terlihat gemetar. Belum sempat Olivia menjawab, terdengar suara Lucas memanggil Olivia dari luar kamarnya.
“Liv!! Olivia!! Olivia!!”
Begitu Lucas melihat perempuan itu, ia segera menghampiri Olivia sementara polisi tadi berpamitan pada Olivia dan Lucas untuk pergi mengurus Darren.
“Liv, lo nggak papa, kan?” tanya Lucas khawatir. Ia memegangi kedua lengan Olivia dan merasakan tubuh perempuan itu gemetar cukup hebat. Lucas segera memeluk Olivia erat dan mengusap kepala serta punggungnya dengan lembut.
“It's over, Liv. Lo sekarang udah aman, ada gue. Gue nggak akan ninggalin lo lagi ...”
Tangis Olivia sukses pecah di dalam pelukan Lucas. Rasa takutnya selama ini ia tumpahkan begitu saja. Lucas yang mengerti dengan kondisi Olivia saat ini pun semakin mengeratkan pelukannya.