Janji Dengan Ayah

2016, Desember

Hari Minggu terakhir di penghujung tahun selalu digunakan oleh keluarga Nata untuk mengunjungi kakak tertua dari ayah Nata, atau yang biasa Nata panggil dengan sebutan Tante Anne.

Ayah Nata hanya tiga bersaudara; yang tertua tante Anne, ayah Nata sebagai anak tengah dan terakhir adik dari ayah Nata, yaitu tante Melissa. Tante Anne tinggal di daerah Kelapa Gading bersama suaminya, ia memiliki seorang putra yang tinggal di Amerika bersama istrinya, sementara tante Melissa masih senang hidup sendiri sebagai seorang wanita karir.

Tidak banyak yang dilakukan saat berkunjung ke rumah tante Anne, mengingat tidak banyak orang di sana; biasanya mereka yang datang hanya menyantap makan siang bersama sembari mengobrol dan setelahnya sesi mengobrol itu akan di lanjutkan di teras belakang rumah tante Anne yang asri.

Nata kadang ikut mengobrol bersama kedua orang tua dan tante-tantenya, tapi keseringan ia menghabiskan waktu di ruang musik milik tante Anne yang kebetulan juga menggeluti dunia musik klasik dengan instrumen cello.

Siang itu setelah makan siang, Nata berpamitan untuk berlatih di ruang musik tante Anne. Ia berlatih beberapa repetoire yang harus ia mainkan di uji kompetensi yang di selenggarakan di bulan Maret setiap tahunnya.

Saat sedang berlatih salah satu karya gubahan Bach, kepala Nata mendadak terasa pusing dan matanya berkunang-kunang. Pandangannya menjadi kabur dan dalam hitungan detik tubuhnya jatuh ke lantai, menimbulkan suara yang cukup keras hingga seluruh orang yang berada di rumah tante Anne segara menghampiri Nata dan membawa perempuan itu ke rumah sakit.

Di rumah sakit, ayah Nata segera memeriksakan kesehatan Nata secara menyeluruh, mengingat ini bukan kali pertama Nata mendadak jatuh pingsan. Sejak semester akhir, Nata seringkali mimisan atau pingsan. Setiap ditanya kedua orang tuanya, jawaban perempuan itu selalu sama, 'kayaknya aku kecapekan aja, nggak usah ke rumah sakit.'.

Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya hasil pemeriksaan Nata keluar. Dokter yang bertanggung jawab atas pemeriksaan itu mengundang kedua orang tua Nata untuk duduk di kantornya.

“Mm ... Bapak, Ibu, apakah selama ini Naraya memiliki keluhan? Seperti susah tidur, selalu merasa lelah, susah konsentrasi? Atau mungkin merasa nyeri di punggung bagian bawah?”

Ayah dan ibu Nata bertukar pandang, kemudian ayah Nata menjawab pertanyaan sang dokter, “Nata suka ngeluh itu semua, Dok. Kami pikir karena skripsinya. Apa ada hal lain yang mengganggu kesehatan Nata, Dok?”

Sang Dokter berdeham. “Begini, Bapak, Ibu ... Kami mendiagnosa Naraya mengalami gagal ginjal.”

Bukan jawaban yang ingin didengar oleh kedua orang tua Nata, karena sedetik kemudian ayah Nata kembali bertanya dengan sang dokter. “Maksud Dokter apa, ya? Gagal ginjal? Selama ini Nata selalu baik-baik aja, Dok.”

Untuk menjawab pertanyaan ayah Nata, dokter itu memberikan hasil tes lab Nata kepada kedua orang tuanya. “Hasil tes lab kami, terutama tes darah dan USG, kami mendiagnosa Naraya mengidap gagal ginjal dan harus segera ditindak lanjuti.”

“Dok, anak saya baik-baik aja! Anak saya nggak sakit apa-apa!” Ayah Nata tetap berpegang teguh pada pendiriannya. Lebih tepatnya, ia menolak untuk mengakui fakta yang ada kalau anak satu-satunya, putri kesayangannya, mengidap penyakit serius dan mematikan.

“Pa, udah, Pa. Cukup.” Ibu Nata berusaha menenangkan suaminya. Ayah Nata membuang muka dari pandangan dokter dan juga istrinya, ia berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah di sana.

“Dok, apa Nata bisa sembuh?” tanya ibu Nata hati-hati.

“Bisa, Ibu, selama kita sama-sama melakukan perawatan untuk ginjal Naraya sampai bertemu dengan pendonor yang sesuai.”

“Perawatan?” Ibu Nata kembali bertanya.

Dokter itu mengangguk. “Benar, Ibu. Ginjal Naraya sudah mengalami kerusakan sampai 80%, di mana sebagian besar fungsi ginjal sudah tidak bekerja di tubuh Naraya, maka dari itu Naraya harus melakukan perawatan cuci darah.”

Mendengar jawaban dokter, ayah Nata segera bangkit dari duduknya dan tanpa berkata apa-apa ia meninggalkan ruang dokter itu dengan marah. Ia masih belum bisa menerima kondisi kesehatan Nata yang sebenarnya.

“Pa?” panggil Nata saat ia melihat sang ayah di koridor rumah sakit. Melihat Nata yang berjalan dengan tiang infus di tangan kirinya, ayah Nata segera memeluk erat perempuan itu.

“Nata, maafin Papa, Nak ... Maafin Papa ...” ucap ayah Nata berbisik lirih di telinga putrinya. Ia semakin mendekap erat tubuh Nata seiring dengan rasa bersalah yang semakin menguasai dirinya, sementara Nata sendiri masih kebingungan dengan sikap ayahnya.

“Pa, ada apa sih?”

Ayah Nata buru-buru menghapus air mata dari wajahnya lalu melepas Nata dari pelukannya dan menatap putri semata wayangnya itu lekat-lekat.

“Naraya Talitha,” panggil ayah Nata pelan.

“Iya, Pa?”

“Janji sama Papa, Nata harus kuat dengan apapun yang akan Nata hadapi setelah ini, ya? Sesuai karakter nama kamu, Naraya Talitha, gadis kecil harapan semua makhluk yang tak pernah lelah dan gigih,” ucap ayah Nata dengan suara bergetar. Dipandanginya terus menerus mata cokelat milik Nata sambil terus menerus ia mengusap puncak kepala putrinya itu.

Nata, yang saat itu masih belum mengetahui apa yang diidap di dalam tubuhnya, hanya mengangguk, menuruti janji yang ia buat bersama sang ayah sore itu.