Kebohongan Pertama
Suatu hari di bulan Februari tahun 2016
Kelas biola Nata sudah selesai sejak satu jam yang lalu, tapi perempuan itu masih saja asyik berlatih di salah satu ruang latihan di sekolah musiknya.
The Swan, salah satu repetoire terkenal dari musical suite “The Carnival of Animals” karya Saint-Saëns menjadi lagu pilihan Nata sore itu.
Sebenarnya Nata berlatih bukan karena ia belum bisa lagu itu, justru ia sudah hafal luar kepala, bahkan mampu memainkannya dengan mata tertutup.
Tapi yang membuatnya bertahan di sana adalah karena ia sedang berusaha untuk melupakan apa yang terjadi pada dirinya.
Hampir dua bulan berlalu dan ia masih belum bisa menerima sakit gagal ginjal yang diidapnya. Mau menangis, rasanya air mata Nata sudah kering. Mau marah pun rasanya berdosa sekali kepada Si Empunya Hidup.
Sering terlintas di benak Nata untuk mengakhiri hidupnya. Menurut pemikirannya, kalau ia pergi, ia tidak akan menyusahkan siapa-siapa. Ayah ibunya tidak perlu bersusah payah membiayai perawatan cuci darahnya yang tidak murah.
Tapi, ada seseorang yang selalu sukses menghapus niatnya itu. Seseorang yang kini berdiri di depan pintu ruang latihan Nata sambil melambai-lambaikan tangannya.
“Hai, Nata,” sapa Hendery dengan senyum sumringahnya. Rambut hitamnya sengaja tidak dipotong, membuat pria itu terlihat persis seperti pangeran dari negeri dongeng.
“Hai, Dery,” balas Nata seceria mungkin. Nata sama sekali belum memberi tahu Hendery tentang kondisinya saat ini. Dia tidak mau lelaki yang berdiri di hadapannya sekarang menjadi khawatir karena dirinya.
“Kamu les-nya jam berapa sih? Bukannya jam 3 sampe jam 4 ya? Kok minta jemput aku sore banget jam 5 gini?”
Nata tersenyum kikuk. Ia mempersilahkan Hendery masuk ke ruang latihan itu sementara dirinya merapihkan biola dan barang bawaannya yang lain.
“Iya, aku mau latihan dulu sendiri, makanya aku minta kamu jemput sorean.”
Bibir Hendery membulat. “Oh, I see … Abis ini kamu mau ke mana? Laper nggak? Atau haus? Mau minum es matcha?”
Sebenarnya Nata sudah diminta dokter untuk mengurangi mengkonsumsi minuman-minuman seperti es matcha dan kawan-kawannya. Tapi, lagi-lagi karena ia harus menutupi kondisinya dari Hendery, ia terpaksa mengangguk.
“Aku mau es matcha.”
“Oke, yuk. Udah beres semuanya, kan?” tanya Hendery memastikan tidak ada barang Nata yang tertinggal.
Nata mengangguk. “Iya, yuk, kita jalan.”
Nata dan Hendery harus terpaksa menunda acara minum ice green tea mereka karena kini mereka terjebak dalam padatnya jalanan ibukota.
“Hendery, aku punya pertanyaan.”
“Apa, Nat?”
“Kalau aku mati, gimana?”
Hendery refleks menoleh. “Nata?! Apa-apaan?!”
Nata berusaha tertawa agar Hendery mengira ucapannya barusan hanya guyonan. “Hehe, iseng aja nanya. Kalau aku mati, gimana?”
“Aku bakal jadi manusia yang paling kehilangan kamu, Nat. I can’t imagine it.”
“Tapi kan as human kita bisa aja dipanggil Tuhan kapanpun. Siap nggak siap, harus siap.”
“Nata, please stop. Aku nggak suka topik pembicaraan gini. Even you called it a joke, that wasn’t funny.”
Air muka Hendery berubah, menimbulkan perasaan bersalah dalam diri Nata. Lagipula tidak hanya Hendery, siapapun juga akan marah kalau disuruh membayangkan kematian seseorang yang mereka cintai.
“Okay, I’ll stop. Maaf, Hendery.”
Tangan kiri Hendery meraih tangan kanan Nata, diciumnya punggung tangan itu lalu digenggamnya erat.
“Maaf kalau aku jadi kasar, tapi aku nggak mau dan nggak bisa bayanginnya, Nat. Apalagi we’re fine, totally fine. Kenapa aku harus bayangin yang buruk-buruk?”
Nata mengangguk pelan, berusaha menyetujui Hendery walaupun kenyataannya salah satu di antara mereka ada yang tidak baik-baik saja.
“Sorry but, I’m not fine, Hendery.”