Perdendosi

(in music definition) gradually diminishing, dying away

Hari ketujuh di bulan November dan sepanjang minggu ini, hujan terus-menerus mengguyur Jakarta, membuat ibukota terasa lebih dingin dibandingkan biasanya.

Hendery bersandar malas di dinding rumah sakit yang dingin sambil menatap ke luar jendela, memperhatikan bulir-bulir air yang berlomba membasahi jendela.

Ia selalu ingat, hujan adalah musim favorit Nata. Ia juga ingat Nata memiliki keinginan untuk dapat bermain dengan air hujan saat kondisi tubuhnya sudah membaik.

“Nat, udah musim hujan nih, yuk bangun? Kita main hujan?” Hendery kembali bermonolog dengan dirinya sendiri. Sejak Nata koma, yang dilakukan Hendery setiap hari adalah berbicara dengan dirinya sendiri, seolah-olah ia sedang berbicara dengan Nata.

Selama Nata koma juga, tidak banyak yang dilakukan Hendery selain menghabiskan hari-harinya di rumah sakit dengan melamun atau menjenguk Nata kala perawat mengizinkannya. Karena takut Hendery ikut-ikutan sakit akhirnya Lucas—sebagai sahabat terdekat Hendery, memutuskan untuk ikut menemani Hendery saat ia senggang.

“Hendery! Hendery!” Sebuah suara beberapa kali memanggil Hendery, berusaha menyadarkan laki-laki itu dari lamunannya.

“Hendery!” Panggilan terakhir terdengar lebih keras, dibarengi dengan sebuah pukulan ringan di lengannya. Hendery sedikit tersontak kaget, didapatinya Lucas sudah berdiri di hadapannya.

“Hendery! Nata sadar!”

Belum sempat mulut Lucas mengatup rapat, Hendery sudah berlari secepat mungkin ke ruang ICU yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.

“Nata! Nata!” panggil Hendery tergesa. Ia buru-buru memakai gaun khusus untuk pengunjung ICU lalu segera menghampiri Nata.

“Nat! Ini aku, Nat …”

Mata Nata tidak terbuka lebar, bahkan sangat tidak mungkin ia untuk berbicara. Yang bisa dilakukan perempuan itu hanya tersenyum tipis sekali.

Hendery meraih pelan tangan Nata. “Nat …” panggil Hendery lirih sambil berusaha menahan tangisnya. Ia tidak mau tangisnya hanya menambah sakit di diri Nata.

“Nat, ada Mama Papa juga di sini.” Dari sisi seberang ranjang ICU Nata terdengar ayah Nata berbicara. Suaranya bergetar dan senyum keduanya terlihat pilu, tidak tega melihat putri semata wayangnya terbaring tidak berdaya.

Nata tidak dapat berkata apa-apa, ia hanya tersenyum sambil mengangguk pelan menanggapi sapaan orang-orang yang dicintainya. Air mata mengalir di wajahnya dan beberapa saat kemudian perlahan kedua mata perempuan itu kembali tertutup rapat.

“Nata! Nata!”

Terdengar suara bising dari bedside monitor, perawat langsung meminta Hendery dan ayah ibu Nata mundur selangkah sementara dokter yang berjaga di ICU mencoba memberikan pertolongan pada Nata.

“Nata!!” ibu Nata menjerit histeris dan buru-buru ayah Nata memeluknya.

Setelah mencoba memberi beberapa pertolongan, Dokter jaga ICU itu juga mundur selangkah, menatap ayah Nata dan Hendery bergantian dan menggeleng pelan. “Maaf …”

“Nggak, Dok! Nggak mungkin! Nata tadi bangun kok!! Nggak mungkin!!!” Suara Hendery menggelegar mengisi ruang ICU itu.

Hendery berusaha menggapai Nata yang kini mulai dibebaskan dari segala peralatan medis dan tubuhnya ditutupi dengan kain putih, tapi Lucas yang diizinkan masuk ke dalam, berusaha menahan lelaki itu dan menariknya keluar dari ICU.

“Lepasin gue! Lepasin!!!” teriak Hendery marah.

“Hendery!!!” Suara Lucas tidak kalah keras dengan Hendery.

“Nata, Cas!!! Nata!!! Gue mau ketemu Nata!!! Nata … Nata …” Suara Hendery perlahan melemah. Usahanya melawan Lucas pun berkurang dan kini ia merosot dari pegangan Lucas, duduk terjatuh di koridor rumah sakit.

Hendery tidak berkata apa-apa lagi, kini ia hanya menangis sekeras mungkin, mengeluarkan semua air mata yang selama ini ia coba sembunyikan sebaik mungkin.

“Nata …”