To Be With You
Sekitar pukul setengah satu dini hari akhirnya Kale tiba di rumahnya. Selesai memarkirkan motor matic hitam andalannya, ia melepas helm yang dikenakannya dan mengendurkan sedikit retsleting jaketnya.
“Kale.”
Sebuah suara menyapa pelan Kale yang hendak memasuki rumahnya. Lelaki itu menoleh, mendapati Sabrina berdiri di hadapannya dengan wajah yang masih sedikit pucat.
“Sab?”
Sabrina hanya tersenyum tipis menanggapi balasan Kale yang terdengar khawatir dan bingung.
“Mau ngobrol, bisa?”
-
Dan kini keduanya duduk di balkon kamar Kale, ditemani semilir angin yang tidak terlalu dingin padahal langit cukup berawan malam itu.
Setelah meminta Sabrina menunggu sebentar di balkon kamarnya, Kale datang dengan dua gelas air putih hangat. Ia juga sudah berganti pakaian dengan pakaian rumah andalannya; kaos dan celana pendek.
“Gimana badan lo, masih sakit nggak? Tadi makan malem apa? Udah minum obat lagi, kan?”
Kale memberondong Sabrina dengan beberapa pertanyaan sekaligus, membuat perempuan itu lagi-lagi tersenyum.
“Udah nggak sakit. Tadi malem gue makan sate ayam dibeliin bapak, abis itu minum obat terus tidur bentar.”
“Terus kenapa bangun lagi?” tanya Kale lagi.
“Ada yang mau gue omongin sama lo,” jawab Sabrina pelan.
“Kan bisa besok, Sab.”
“Nggak bisa, Kal. Gue udah sengaja nggak mau mikirin hal ini dengan sibuk kerja. Tapi pas gue sakit, lo malah jadi orang nomor satu yang paling care sama gue,” potong Sabrina cepat. Ia tidak mau usahanya menahan kantuk demi menunggu Kale pulang malam itu sia-sia.
Kale memutar sedikit tubuhnya agar ia dapat melihat Sabrina dengan lebih jelas. “Yaudah, mau ngomong apa?” tanya Kale. Gestur tubuhnya mengisyaratkan ia siap mendengar apapun kalimat yang akan diucapkan sahabatnya itu.
“Gue nggak tau harus mulai ngomong dari mana ...” Sabrina diam sesaat, mencari kata-kata terbaik untuk mengutarakan seluruh isi kepalanya dengan sebuah kalimat yang singkat, padat dan jelas.
“I guess I'm falling for you, Kal.”
Beberapa detik berikutnya Kale tidak memberikan reaksi apapun, membuat Sabrina yang sedari tadi menunduk akhirnya sedikit menoleh dan mendapati lelaki itu sedang memandangi dirinya dengan tatapan yang sulit ditebak Sabrina.
“Kal?” panggil Sabrina memastikan kalau laki-laki itu tidak tertidur dalam keadaan mata terbuka.
“Sab, lo ngomong gini karena lagi sakit? Atau karena kepikiran ucapan gue waktu itu terus-terusan dan berujung kasihan sama gue? I don't want to be pitied, especially by you.”
“Nggak, Kal. Kalo lo berpikir gue ngasihanin lo, di awal lo ngaku tentang perasaan lo sama gue, pasti gue akan langsung menawarkan diri buat jadi pacar lo. Nggak, gue nggak ngasihanin lo. Gue udah pikirin ini baik-baik.”
Sabrina memberi jeda pada dirinya dengan menghirup dalam-dalam udara malam kompleks rumahnya dan menghembuskannya perlahan sebelum melanjutkan kembali penjelasannya kepada Kale.
“Gue sadar, kalau selama ini gue hidup dalam ketakutan. Kepergian bapak kasih trauma mendalam di gue dan salahnya gue nggak mencari cara untuk sembuh dari trauma itu, gue malah jadiin trauma itu sebagai reasons untuk nggak berhubungan dengan siapapun.
“Dan bapak kemarin bilang sama gue, kalo gue nggak boleh takut sama hal buruk yang mungkin bisa terjadi di dalam hidup gue; ditinggalkan atau dikhianati. Kata bapak, kalaupun gue harus menghadapi hal itu, gue juga pasti bisa ngelewatinnya.
“Bapak juga bilang, gue harus jujur sama perasaan gue sendiri. Jangan karena masa lalu gue, gue jadi nggak tahu perasaan gue yang sebenarnya tuh gimana. Ghea juga bilang kalo sebenernya nggak ada manusia yang hidup dari trauma, orang-orang yang bilang mereka punya trauma itu cuma orang-orang yang beralasan aja. And I don't want to be part of them.”
Karena bicaranya sedikit menggebu-gebu, Sabrina kembali diam untuk mengatur nafasnya, sementara Kale masih setia mendengar penjelasan perempuan itu sampai pada kalimat terakhir.
“So, Kal, gue sekarang udah tau perasaan gue gimana. Dengan pikiran gue yang diem-diem selalu mikirin keadaan lo, dan hati gue yang diem-diem jealous kalo lo retweet foto customer lo di Twitter, gue sadar, kalo gue ternyata udah jatuh hati sama lo.
“Ditambah the day when you kissed me on that park, gue juga sadar kalo gue marah bukan karena lo ngambil kesempatan dalam kesempitan, tapi karena gue yang kaget dan gue merasa belum siap and stupidly I blame you for—”
Kalimat Sabrina terputus. Ternyata Kale tidak bisa setia mendengar penjelasan panjang kali lebar tetangganya itu karena sekarang ia sudah memeluk erat Sabrina, menaruh dagunya di atas bahu perempuan itu dan mengusap kepalanya pelan.
“Cerewet. Just say 'I love you' is more than enough, Sab.”
“But I need to explain, Kal.”
Kale melepas pelukannya, ditatapnya netra coklat milik Sabrina dalam-dalam. “Your eyes could explain everything. Gue bisa tau apa isi kepala lo dari tatapan lo.”
“Sok tau banget, sumpah,” tukas Sabrina, mengundang kekehan pelan Kale.
“Sabrina, thank you for telling me everything. Terima kasih udah bisa jujur sama perasaan lo sendiri. Terlepas dari hubungan kita, gue seneng akhirnya lo bisa lepas dari trauma masa lalu lo,” ucap Kale dengan nada bangga, tangannya mengelus-elus pelan puncak kepala Sabrina, persis gestur seorang ayah yang bangga akan pencapaian anaknya.
Sabrina mengerucutkan sedikit bibirnya dan menunduk karena merasa malu. Kale pun mengangkat sedikit dagu Sabrina agar perempuan itu kembali melihat dirinya.
“Sab, I never expect that I'll say this phrase on this time and this place ....” Kale berdeham pelan sebelum menuntaskan kalimatnya.
“I love you, Sabrina Janitra.”
—
And without any hesitation, she kiss him gently, deep, with all of her emotions that have been detained all this time. With the kiss, she let him steal her soul; let him know her feelings towards him from the deepest of her heart. With the kiss, she said, that all she wants now is to be with him. Forever.