What About Now?

Sabrina

Tok... tok... tok...

Suara ketukan pintu kamar Sabrina sukses mendistraksi perempuan itu dari kegiatan menontonnya. Dengan langkah gontai ia membuka pintu dan mendapati ayahnya dengan senyum terhangatnya berdiri di hadapannya.

“Ngopi, yuk, Na?”

-

Yang sudah 10 tahun tidak dilakukan Sabrina bersama dengan sang ayah, hari ini ia lakukan lagi; duduk di teras rumahnya dengan dua gelas kopi hitam kesukaan ayahnya. Kalau dulu saat Sabrina sekolah, perempuan itu akan disuguhi segelas susu hangat, tapi sekarang ia bisa menyeruput minuman yang sama dengan ayahnya.

Bicara dari hati ke hati selalu dilakukan Sabrina dan ayahnya, makanya tidak heran saat kepergian mendadak sang ayah 10 tahun silam, Sabrina benar-benar kehilangan sosok yang bisa ia percaya untuk mendengar keluh kesahnya.

“Tadi kamu ke mana, Na?” Ayah Sabrina membuka percakapan mereka setelah ia menyeruput pelan kopi panasnya, setelah ia berhasil menunggu ampasnya mengendap di dasar gelas.

“Ke Plaza Senayan, Pak,” jawab Sabrina pelan.

“Ketemu cowok, ya?” tanya ayah Sabrina lagi dengan nada sedikit jahil.

Wajah Sabrina sedikit memerah, “Hah? Eh, iya, Pak.”

“Siapa? Nggak mau cerita sama Bapak?”

Sabrina diam sejenak, mempersiapkan diri untuk menceritakan seluruh hal yang terjadi dalam hidupnya, terutama sejak pengakuan Kale dan juga permasalahan yang terjadi di kantornya.

Menurutnya saat ini tidak ada lagi tempat terbaik untuk bercerita selain sang ayah, dan ia juga yakin akan mendapatkan jawaban terbaik dari ayahnya.

“Na, Bapak sebelumnya minta maaf, ya, karena Bapak kamu jadi punya kesulitan seperti ini ...” keluh ayah Sabrina setelah putrinya selesai bercerita.

Sabrina tersenyum tipis lalu mengusap pelan lengan ayahnya, “Nggak papa, Pak ... Ini Nana aja yang emang punya bad character kayak gini,” balas Sabrina.

“Gini, Na, kita manusia pasti pernah mengecewakan satu sama lain. Kita bukan makhluk sempurna, kita bisa buat salah, kita bisa jadi egois, dan masih banyak lagi. Tapi, kita juga manusia yang dikasih akal sehat dan hati untuk saling memaafkan, saling memahami.

“Jadi sebenarnya Nana nggak perlu takut ditinggal, takut dipatahkan lagi rasa percayanya, karena itu siklus hidup kita. Mau nggak mau, suka nggak suka, kita akan berhadapan dengan hal itu. Tapi, kita juga pasti akan berhasil survive dari masalah itu.”

Sabrina diam, mencerna satu per satu kalimat nasihat yang diucapkan ayahnya.

“Jangan sampai ketakutan kamu itu, menutupi diri kamu. Menutupi perasaan kamu yang sebenarnya.”

Sabrina lagi-lagi hanya diam, tidak ada yang bisa disanggah dari perkataan ayahnya. Semua yang diucapkan pria paruh baya itu benar adanya.

“Kale laki-laki baik, Na. Bapak bisa percaya sama dia.” Ayah Sabrina kembali bersuara.

“Ih, Bapak, kok tiba-tiba bahas Kale, sih?” protes Sabrina.

“Lho? Tadi kan Nana terakhir cerita kamu jalan sama Kale, terus karena itu kamu jadi bingung sama perasaan kamu ... Nah, Bapak kasih tau, kalau Kale itu laki-laki baik.”

Kemudian ayah Sabrina bangkit dari duduknya sambil membawa cangkir kopinya.

“Bapak mau ke mana?”

“Masuk. Ngantuk, hehehe ...” jawab ayah Sabrina dengan sedikit cengengesan lalu ia masuk terlebih dahulu meninggalkan Sabrina di teras.

*

Kale

“Kirain tidur, nggak taunya ngeliatin Sabrina,” cibir Kalani lalu ia ikut duduk di sisi kanan Kale, di balkon kamar adik laki-lakinya itu.

“Modal napa,” protes Kale saat dilihatnya Kalani membakar sebatang rokok miliknya.

Kalani tidak peduli dengan protes Kale, ia tetap mengisap dalam-dalam rokok itu dan menghembuskan asapnya perlahan ke udara.

“Ditolak, ya, lu?” tanya Kalani setelah beberapa saat mereka diam.

Kale tidak langsung menjawab, ia hanya memandangi Sabrina yang masih duduk di teras rumahnya. Sejak Sabrina mengobrol dengan ayahnya, Kale sudah memperhatikan perempuan itu dalam diam. Ia hanya ditemani ice americano buatannya sendiri dan juga rokok andalannya.

Love will find you, Kal.” Kalani kembali bersuara, mengundang decakan kesal dari adiknya.

“Lo masih ada paket yang mau di-packing-in? Sini gue kerjain,” balas Kale nggak nyambung karena biasanya ini ciri-ciri Kalani kalau mau minta tolong kepada Kale; membaweli lelaki itu dengan ocehan random.

“Itu lagu Westlife, judulnya What About Now.”

“Daughtry.”

“Gue dengerinnya yang versi Westlife, sama aja,” balas Kalani tidak mau kalah. “Lagian yang penting, mah, arti lagunya. Persis lo sama Sabrina sekarang.”

“Tidur aja lah lo, Kal. Besok pagi nasi udukkan sama gue.” Lagi-lagi Kale tidak menggubris kalimat Kalani.

“Bener, ya?! Awas lo janji palsu,” ucap Kalani sedikit mengancam sambil mematikan rokoknya.

“Iya, bawel,” balas Kale lagi lalu setelah itu Kalani bangun dari duduknya seraya mengacak-acak gemas rambut silver Kale dan pergi dari situ.

Dan Kale kembali lagi sendiri. Ia kembali melirik ke arah teras rumah Sabrina yang sudah kosong karena perempuan itu sudah masuk ke dalam rumahnya beberapa menit lalu.

Kale mengambil ponselnya, membuka aplikasi Spotify miliknya dan memutar satu lagu yang sempat diperdebatkan siapa penyanyinya dengan kakaknya tadi.

The ways you made me feel alive The ways I loved you For all the things that never died To make it through the night Love will find you What about now? What about today? What if you're making me all that I was meant to be? What if our love never went away? What if it's lost behind words we could never find? Baby, before it's too late What about now?

– What About Now, Daughtry