It’s Okay To Be Not Okay
Pusing dengan apa yang harus ia pakai, akhirnya Cecilia memilih t-shirt oversize putih polos kesayangannya yang ia padu dengan celana training hitam dan sandal jepit andalannya. Ia segera keluar rumah dan menemui Winwin yang sudah menunggu di luar pagar.
“Hai Kak, mau masuk ke dalem dulu?” sapa Cecilia ramah.
Winwin tersenyum lebar saat melihat Cecilia menghampirinya lalu ia menggeleng pelan. “Nggak usah, kita langsung makan bakso aja biar lo nggak kelamaan di luar. Udah izin mama papa, kan?”
Cecilia mengangguk. “Udah, Kak.”
“Yaudah, yuk.”
Winwin dan Cecilia mulai berjalan berdampingan tanpa ada satupun yang bersuara. Cecilia sedang berusaha meredam rasa gugupnya sementara Winwin sedang memutar otak, mencari topik yang bisa ia diskusikan dengan Cecilia.
“Tumben Kak, jogging malem-malem. Udah gitu jauh banget sampe sini.” Akhirnya percakapan baru dibuka oleh Cecilia.
Winwin tertawa pelan. “Sebenernya gue sering jogging malem gini, tapi biasanya deket rumah. Hari ini lagi kepengen ganti suasana aja, terus tiba-tiba keingetan daerah rumah lo, jadi yaudah deh, gue ke sini,” balas Winwin menjelaskan.
“Lagian biar bisa sekalian ketemu sama lo,” sambung Winwin kemudian.
Cecilia menoleh ke arah Winwin dengan ekspresi setengah kaget. “Ketemu aku, Kak?”
Winwin mengangguk lalu ia menoleh ke arah Cecilia. Manik mata mereka bertemu dan keduanya terdiam cukup lama, seperti tersihir satu sama lain, sampai akhirnya Winwin memberikan jawaban atas pertanyaan Cecilia.
“Iya, ketemu lo. Gue mau menghibur lo biar gak terlalu sedih karena batal ikut olimpiade.”
“Eh?”
“Gue tau lo sebenernya sedih, Cil. Tapi lo selalu bilang nggak papa, padahal it’s really okay to be not okay.”
Cecilia melepas tatapannya dari Winwin lalu menunduk, memandangi jari-jari kakinya yang mengintip dari balik sendal jepitnya.
“Cecil,” panggil Winwin lagi. Kali ini langkah kakinya berhenti, tangannya meraih pelan lengan Cecilia agar perempuan itu ikut berhenti.
Setelah itu keduanya kembali diam, hingga Cecilia yang sedari tadi hanya menunduk, akhirnya memberanikan diri untuk mengangkat sedikit wajahnya. Ia mendapati Winwin menatapnya dengan hangat.
“Kenapa, Kak?” tanya Cecilia dengan suara sedikit serak. Ternyata ia sedang berusaha menahan tangisnya.
“Go cry, if you wanna cry. Manusia nggak harus selalu jadi kuat, kok.”
Tepat setelah Winwin menyelesaikan kalimatnya, air mata jatuh membasahi pipi Cecilia. Wajah perempuan mungil itu memerah dan ia sudah tidak peduli.
“Aku udah pasti nggak dapet beasiswa, Kak … Aku harus gimana sama mama papa? Tapi, aku juga nggak mau egois sama Kesha ….” Disela isak tangisnya Cecilia mengeluarkan semua uneg-unegnya.
Winwin tidak membalas dengan kalimat apapun, ia hanya menarik pelan Cecilia masuk ke dalam pelukannya, lalu mengelus pelan puncak kepala perempuan itu.
“Cecil, you are a very kind person. Gue kayaknya nggak pernah ketemu orang lain yang se-positif dan se-baik lo. Gue yakin banget lo pasti akan dapet beasiswa yang jauh lebih baik daripada yang ditawarin Altaire.”
Selesai bicara Winwin melepas pelukannya dan memegang kedua lengan Cecilia sambil menatap lekat-lekat mata Cecilia yang masih berair.
“Lo percaya kan, orang baik akan selalu dapat balasan yang lebih baik?”
Cecilia mengangguk walaupun ia masih terisak, sementara Winwin tersenyum sampai matanya menyipit. “Kalo gitu sekarang berhenti nangisnya, ya, anak baik.” Winwin mengusap pelan air mata di pipi Cecilia dengan ibu jarinya.
Cecilia terkesiap, matanya kini lebih berani menatap Winwin yang masih sibuk membersihkan air matanya.
“Udah, yuk, gue traktir bakso,” ucap Winwin lagi yang kini sibuk melepas jaketnya dan menyampirkannya di bahu Cecilia. “Satu lagi, lain kali kalo keluar malem-malem jangan lupa pake jaket, biar gak masuk angin.”
“Tapi ini kan jaket kakak bekas kakak jogging …”
“Nggak bau, kok! Parfum gue wangi!”
Raut sendu yang tadi sempat mampir di wajah Cecilia kini berganti dengan senyuman lebar, Winwin benar-benar berhasil menghiburnya malam itu.