Best Friend Should (Not) Kiss
Sepanjang perjalanan menuju Grand Indonesia, Sabrina membiarkan dirinya terlarut dalam alunan nada dari lagu Clair de lune milik Debussy, lagu yang selalu ia dengarkan setiap kali ia merasa seperti mau meledak. Beruntung mendapatkan kursi di kereta pada jam pulang kantor, Sabrina dapat memejamkan matanya sesaat hingga kereta yang membawa dirinya tiba di stasiun terakhir, Bundaran HI.
Setelah membiarkan 70% penumpang turun terlebih dahulu, Sabrina akhirnya keluar dari kereta MRT itu. Bersamaan dengan penumpang lain ia menaiki tangga dan berpencar setelah keluar dari stasiun, menuju tujuannya masing-masing.
Sabrina memang sengaja tidak membawa kendaraannya karena ia bisa pastikan dirinya akan semakin stress dengan kemacetan ibukota di sore hari. Pikirannya juga masih kalang kabut entah ke mana, beresiko tinggi menyebabkan kecelakaan apabila ia tidak fokus saat menyetir.
Setelah berjalan kurang lebih 500m, Sabrina tiba di depan kedai kopi tempat Kale menjadi phantom hari ini. Ia dapat melihat lelaki itu dengan senyum terbaiknya, menyapa para pelanggan sembari tangannya tidak berhenti meracik kopi. Pemandangan yang tidak pernah membosankan bagi seorang Sabrina.
Setelah memandangi Kale cukup lama dari kejauhan, kehadiran Sabrina akhirnya disadari oleh Kale. Lelaki itu berpamitan sesaat kepada partner barista-nya untuk keluar dan segera menghampiri Sabrina.
“Hei, Sab. Kenapa nggak—”
Kalimat Kale terputus kala Sabrina menghamburkan diri ke tubuhnya. Sabrina mencengkram cukup erat kemeja hitam lelaki itu dan membasahinya dengan air matanya.
“Sab, lo kenapa?” tanya Kale bingung. Belum pernah selama ia berteman dengan Sabrina, perempuan itu tiba-tiba memeluk dirinya dan menangis.
Sabrina tidak menjawab, ia hanya membenamkan kepalanya di bahu Kale agar suara tangisnya tidak menganggu pengunjung lain, walaupun sebenarnya sudah percuma karena sekarang mereka sedang menjadi bahan tontonan orang-orang yang lewat di sekitar mereka.
Akhirnya Kale tidak bertanya lagi, perlahan kedua tangannya ikut memeluk tubuh ramping Sabrina, sesekali mengusap punggung perempuan itu agar tangisnya segera mereda.
*
“Siapa, Kal? Pacar, ya?” goda salah satu partner Kale sambil melihat ke arah Sabrina yang sedang duduk di pojok kedai dengan segelas Chamomile Tea panas buatan Kale.
“Temen, tetangga gue,” jawab Kale yang masih sibuk membereskan sisa-sisa bubuk minuman di bar tempat biasanya para barista membuat minuman.
“Tetangga nggak ada peluk-pelukan,” ledek orang yang sama, membuat Kale menoyor pelan kepala partner-nya itu agar ia segera diam dan tidak lagi membahas Sabrina.
Setelah beberapa saat sukses meluapkan tangisnya dalam pelukan Kale, Sabrina menuruti Kale untuk menunggu lelaki itu selesai bekerja di meja sudut ruangan. Beberapa kali setiap ada kesempatan, Kale akan menghampiri Sabrina dan bertanya apa yang dibutuhkan perempuan itu, dan Sabrina hanya menjawab dengan gelengan pelan.
“Sab, nggak laper? Mau pastry di sini, nggak?” tawar Kale setelah enam kali ia bolak-balik menghampiri Sabrina.
“Nggak, Kal. Gue nggak laper. Lo balik kerja aja sana, nggak usah pikirin gue,” balas Sabrina pelan.
“Gue udah selesai kerja,” sambung Kale sambil tersenyum tipis. “Yuk, pulang. Mobil lo parkir di mana?”
Sabrina menggeleng pelan, “Gue nggak bawa mobil. Tadi ke sini naik MRT.”
“Yaudah, gue anter balik ke kantor buat ambil mobil, terus kita pulang, ya?”
Sabrina lagi-lagi menggeleng, “Nggak mau pulang.”
Dahi Kale mengerut. Karena jam kerjanya sudah usai, ia bebas duduk di kursi customer, dan segera saja ia menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Sabrina.
“Oke, terus lo sekarang mau ke mana dan mau ngapain?”
Untuk ketiga kalinya, Sabrina menggeleng karena memang sesungguhnya perempuan itu tidak tahu mau berbuat apa saat ini. Pikiran dan hatinya masih kacau balau.
“Yaudah, kita ke motor gue dulu aja sekarang, yuk?”
Akhirnya Sabrina mengangguk, menyetujui ajakan Kale dan segera mengikuti langkah kaki lelaki itu menuju motornya yang sengaja diparkir di luar gedung mal karena tarifnya yang lebih murah.
*
Sesuai permintaan Sabrina yang tidak mau pulang, Kale akhirnya mengajak perempuan itu mengelilingi pusat Jakarta, setelah sebelumnya Kale mengirimkan pesan kepada ibu Sabrina, menginfokan kalau Sabrina sedang bersama dirinya dan akan pulang sedikit telat.
Puas berputar-putar di sekitar Monas, Kale berhenti di Taman Pandang Istana, yang terletak di salah satu sudut di luar Monas. Untungnya tidak ada pengunjung lain saat itu di situ, sehingga mereka bisa leluasa memilih tempat untuk duduk dan mengobrol.
“Thanks, Kal, udah ajak gue muter-muter. It feels better now, kayak, akhirnya gue bisa bernapas,” ujar Sabrina.
Kale tersenyum tipis, senyuman yang selalu menghiasi wajahnya setiap Sabrina mengucapkan terima kasih padanya.
“Mau cerita? Atau udah merasa lebih baik jadi nggak perlu cerita?”
Sabrina diam sejenak, mempertimbangkan pertanyaan Kale sebelum akhirnya ia memutuskan untuk menceritakan apa yang terjadi hari itu pada dirinya.
Sepanjang Sabrina bercerita, Kale tidak banyak berkomentar. Ia benar-benar menjadi pendengar yang baik, membiarkan perempuan itu mengucapkan kata demi kata hingga menjadi sebuah rangkaian kalimat yang diceritakan bersamaan dengan emosinya; air mata yang kembali membasahi wajah Sabrina, yang ternyata belum sepenuhnya ia keluarkan.
“Gue jahat nggak, kalo gue belum bisa maafin dia? Even bos gue udah bisa secepat itu maafin dia, tapi gue nggak bisa, Kal ... Gue nggak bisa ...”
“Sab, Sabrina,” panggil Kale, tapi Sabrina masih saja terus menunduk. “Sabrina, look at me,” sambung Kale dengan ibu jari dan telunjuknya memegang ujung dagu Sabrina, memaksa pelan perempuan itu untuk melihat ke arahnya.
Mata sembab Sabrina yang masih penuh air mata menatap Kale.
“Semua cowok sama aja, Kal. Gue baru aja mau belajar percaya sama cowok, tapi apa? Hari ini kepercayaan gue dipatahin lagi. Gue harus gimana, Kal? Gue juga mau punya pasangan, gue juga mau kayak Ghea dan cewek-cewek lain di luar sana, tapi kalo gue terus-terusan diginiin, gimana gue bisa percaya sama orang lain?” keluh Sabrina.
“Sab, kalo gue maju mencalonkan diri jadi cowok yang bisa lo percaya, gimana?”
Sabrina diam, matanya terpaku pada mata cokelat milik Kale yang tidak berhenti menatapnya dengan teduh.
“It's okay kalo lo belum bisa maafin Fabian. Gue tau, lo butuh waktu. Tapi untuk saat ini, izinkan gue jadi cowok yang bisa lo percaya, ya?”
Lelaki itu memberanikan diri untuk mendekatkan wajahnya dengan Sabrina, sampai hampir tidak ada jarak di antara keduanya, ia mendaratkan ciuman lembut di bibir Sabrina.
Beberapa saat Sabrina terlarut dalam suasana itu; bibir merah muda Kale ternyata mampu meluruhkan sebagian dari emosinya hari ini. Tapi, seperti ada yang menampar keras pikiran Sabrina, ia segera mendorong Kale dan menjauhkan diri dari lelaki itu.
“Sab, sorry, gue cuma mau—”
“Apa?! Lo tau kan, gue lagi kesel, gue lagi butuh temen buat ngobrol. Kenapa lo begitu sama gue?! Apa maksud lo?!”
“Sorry Sab, gue beneran nggak bermaksud—”
“Best friend should not kiss, Kale!” bentak Sabrina marah, memotong setiap penjelasan yang ingin diucapkan Kale.
Kale menunduk, ia tahu tidak seharusnya ia kelepasan mencium Sabrina di saat ia tahu betul hati perempuan itu belum sembuh sepenuhnya. Dalam hatinya Kale tidak berhenti mengutuk dirinya sendiri, sementara di luar ia hanya tertunduk lesu.
“Ternyata lo sama aja, Kale. Lo sama aja kayak Fabian dan cowok-cowok brengsek lainnya,” sambung Sabrina dengan nada geram lalu ia segera pergi meninggalkan Kale, menghiraukan suara Kale yang terus-menerus memanggil namanya tiada henti.