Pertemuan Pertama

Agustus 2020

“Win, balik kelas, yuk,” ajak Traven setelah sesi latihan paskibra hari ini berakhir. Waktu menunjukkan pukul dua lewat sepuluh menit, yang berarti masih ada dua puluh menit sebelum bel tanda pelajaran hari ini selesai berbunyi.

Winwin menggeleng pelan. “Gue cabut ah, Ven, udah males mikir.”

Traven menatap tajam Winwin yang dengan santainya berjalan di sisi kanannya. “Anjir, lo mau beralesan begitu sama Mrs. Anita? Bisa dipenggal kepala lo.”

“Lebay!” sanggah Winwin sambil memukul pelan lengan Traven. “Tolong lo buat alesan yang bagus buat gue, ya. Gue tau, lo kan jago kalo urusan ngeles,” sambung Winwin sambil menepuk-nepuk pelan bahu Traven lalu ia memisahkan diri dengan teman jangkungnya itu dan pergi menyusuri koridor sekolahnya yang lain.

Tujuan Winwin siang ini adalah perpustakaan, satu-satunya tempat di sekolahnya yang bisa ia kunjungi untuk sekedar bersantai sekaligus menyejukkan diri setelah berpanas-panasan di lapangan.

Setelah bertegur sapa dengan staff perpustakaan, Winwin pergi ke belakang perpustakaan. Ia duduk di meja yang menghadap jendela, dengan pemandangan taman bunga milik SMA Altaire terbentang luas di baliknya.

Winwin bersandar malas di kursi perpustakaan yang empuk, lalu ia memejamkan matanya. Semilir angin dari mesin penyejuk ruangan di perpustakaan itu sukses membuat Winwin hampir tertidur pulas, kalau saja ia tidak segera bangun karena terkejut oleh suara bel sekolahnya yang berbunyi.

“Ah, sial,” gerutu Winwin pelan. Ia bergegas bangkit dari kursinya, tapi sesuatu yang terlihat sedikit mengkilap di laci meja yang ia duduki menarik perhatiannya.

Winwin mengambil benda itu, yang ternyata adalah sebuah buku tulis dengan lapis sampul plastik. Di bagian depan buku itu tertulis nama sang pemilik.

“Cecilia Daniela, 10A.”

Setelah membaca nama sang pemilik, Winwin mengintip isi buku itu. Ia membalik-balikan halamannya sampai tanpa ia sadari senyuman tipis menghiasi wajahnya.

Akhirnya Winwin mengambil bolpoint yang selalu ia kantongi di kemeja sekolahnya, menuliskan sesuatu di lembar kosong di buku itu sebelum ia kembali menutupnya dan bertekad mengembalikan kepada pemiliknya besok.

***

Keesokan harinya …

Kedatangan Winwin pagi ini di lantai dua gedung SMA Altaire mengundang perhatian penuh dari penghuni di lantai itu. Bagaimana tidak, Winwin adalah seorang primadona sekolah. Selain memiliki paras yang tampan, Winwin juga dikaruniai otak yang pintar, sehingga tidak sedikit siswi SMA Altaire mengidolakan Winwin bahkan terang-terangan menyatakan perasaan mereka kepada lelaki itu.

Tetapi tidak ada satupun yang berhasil merebut hati Winwin, membuat lelaki itu tidak hanya dikenal sebagai primadona yang tampan dan pintar, tetapi juga misterius.

“Kak, nyari Kesha, ya? Kesha ada di kelasnya, tuh,” celetuk salah seorang siswi dari kelas 10B sambil mengikuti langkah kaki Winwin. Winwin tidak menjawab apa-apa, ia hanya tersenyum ramah sambil terus berjalan menuju tujuannya.

Tiba di depan kelas 10A, Winwin melihat Kesha menghampirinya.

“Tumben nyamperin gue ke kelas, ada apa?” tanya Kesha dengan percaya diri penuh.

Winwin mengangkat sebelah alisnya. “Gue nggak nyariin lo, kok, Sha.”

Senyum sumringah di wajah Kesha lenyap seketika. “Terus, lo ngapain ke sini?”

Pertanyaan Kesha di jawab Winwin dengan suara keras, membuat semua orang yang ada di sekelilingnya dapat mendengar dengan jelas.

“Cecilia Daniela yang mana, ya? Gue ada perlu sama dia.”

Yang semula semua mata tertuju kepada Kesha, kini beralih kepada seorang siswi yang duduk di kursi paling belakang dekat jendela.

Sang pemilik nama menoleh, lalu ia menghampiri Winwin dengan ekspresi bingung. “Saya Cecilia, Kak. Ada apa, ya?”

Tanpa diduga siapapun, Winwin menarik pelan tangan Cecilia, mengajak perempuan itu keluar dari kelasnya sekaligus membuat suasana kelas 10A semakin riuh.

“Lo kehilangan catetan Biologi?” tanya Winwin setelah mereka berhasil menjauh dari kerumunan murid kelas 10A.

“Eh, iya, Kak. Kok tahu?”

Winwin memberikan buku catatan milik Cecilia yang ia temukan di perpustakaan kemarin siang.

“Lain kali kalo mau keluar dari perpus dicek dulu, ya, biar ngga ada yang ketinggalan lagi,” nasehat Winwin lalu setelah Cecilia menerima buku pemberiannya, ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya dan pergi meninggalkan Cecilia yang masih terkejut dengan buku miliknya yang berhasil ditemukan Winwin.

“Kak! Makasih, ya!” ucap Cecilia setengah berteriak karena Winwin sudah berjalan cukup jauh.

Winwin hanya mengangkat sekilas tangannya dan melambaikannya pelan, sebagai balasan atas rasa terima kasih Cecilia pada dirinya.

Tanpa Winwin, Cecilia ataupun murid lain sadari, Kesha yang sedari tadi berdiri di ambang pintu kelas, memandangi Winwin dan Cecilia dengan tatapan tidak suka.