Behind the Mask

Setelah selesai berurusan dengan kemacetan Jakarta, Sabrina tiba di kantornya. Senyum ramah petugas keamanan di depan pintu menyapa Sabrina, membuat ia ikut tersenyum senang. Tapi kalau dipikir-pikir, sebenarnya Sabrina tersenyum senang bukan karena petugas keamanan itu, tapi pesan singkat yang dikirimkan Kale tadi sukses menghiburnya.

“Kale lagi, Kale lagi, kenapa sih lo, Sab?” batin Sabrina pada dirinya sambil menggelengkan kepalanya pelan agar pikirannya bisa kembali fokus.

Sampai di mejanya, Sabrina melihat meja Fabian yang masih kosong. Ia pun refleks bertanya pada salah satu staf tim Fabian yang kebetulan lewat di dekatnya.

“Fabian mana, Des?”

Dessy, nama staf karyawan yang ditanyai Sabrina, hanya mengangkat kedua bahunya dengan wajah acuh lalu segera pergi meninggalkan Sabrina.

Sabrina kemudian melihat sekelilingnya; staf dari divisi lain diam-diam sedang memperhatikannya dengan tatapan tidak mengenakan seolah-olah Sabrina telah melakukan suatu kesalahan.

Teringat akan curhatan dengan Kale semalam, Sabrina segera duduk di depan laptopnya dan mengirimkan email kepada seluruh staf untuk bertemu dengannya di ruang meeting setelah jam makan siang.

*

Setelah jam makan siang, Sabrina memasuki ruang meeting dengan segelas Ice Americano di tangan kanannya. Di sana sudah ada beberapa staf yang sengaja ia panggil via email tadi pagi.

Thank you, buat temen-temen yang udah mau dateng ke sini ....” Sabrina membuka pembicaraannya siang itu. “Ini agak di luar kerjaan, tapi gue mau kalian jujur sama gue ... Apa gue punya salah sama kalian?”

Pertanyaan Sabrina tidak dijawab oleh satu pun dari sepuluh orang yang hadir di situ.

“Akhir-akhir ini, jujur, gue ngerasa kalian ngejauhin gue. Like, I did something wrong but you all didn't let me know what it is. Gue nanya beberapa kali, jawabannya ala kadarnya. Mostly, yang biasanya laporan langsung ke gue kali ini cuma by email, seolah-olah sedang menghindar dari gue, bahkan nggak mau ketemu sama gue.”

Sabrina sukses mengeluarkan uneg-uneg di kepalanya dengan cukup lancar. Perasaannya kini terasa lebih plong, walaupun belum sepenuhnya lega.

Am I did something wrong? Entah itu menyangkut pekerjaan atau engga, coba jujur sama gue di sini. Gue terima segala keluhan atau amarah kalian kalo emang gue ada salah sama kalian.”

Lagi-lagi begitu Sabrina selesai berbicara, tidak ada satu pun yang menjawab sampai sekitar dua menit kemudian, terdengar suara laki-laki dari kursi yang jaraknya cukup jauh dari Sabrina.

“Ngg ... Kak, saya boleh jawab?”

Sabrina mengenali lelaki itu sebagai Reza, staff yang baru bekerja seminggu di perusahaannya.

“Boleh, silahkan, Reza.”

Reza melirik kanan-kirinya sekilas, melihat reaksi teman-temannya yang sedang menatap dirinya dengan penuh rasa penasaran. Sementara di ujung meja sana, Sabrina duduk menyender sambil menyeruput pelan Ice Americano yang mulai mencair.

“Jadi, waktu awal saya masuk sini, saya sempat dengar kalau kakak itu orangnya nggak bertanggung jawab, kerjaannya marah-marah doang dan selalu nyalahin hasil kerja orang lain. Maaf banget, Kak, tapi ini yang saya dengar ...”

“Yang bilang anak buahnya Mas Fabian, Kak.”

Tiba-tiba ada suara lain menyahuti di ruangan itu, yang dikenal Sabrina sebagai suara Keisya, salah satu staf dari tim keuangan.

Setelah Keisya angkat bicara, yang lain pun mulai berani bersuara. Mereka akhirnya menceritakan apa yang selama ini mereka dengar dan membuat pandangan mereka terhadap Sabrina berubah.

Sabrina awalnya bersikap biasa saja, tapi tidak setelah ia mendengar ucapan dari salah satu yang hadir di situ, yang mengatakan bahwa Sabrina selama ini tidak memiliki pasangan karena ia ada 'main' dengan beberapa klien.

“FABIAN VALIANO!” panggil Sabrina marah dari depan pintu ruang meeting. Fabian yang sedang bekerja di mejanya menoleh, bersamaan dengan staf lain yang tidak ikut serta dalam pertemuan yang diadakan Sabrina.

Sabrina menghampiri Fabian dan menarik kerah kemeja lelaki itu hingga Fabian bangun dari duduknya. “Dasar laki-laki kurang ajar!” ujar Sabrina penuh amarah lalu ia tidak segan meninju lelaki itu hingga darah segar muncul di bibirnya yang robek akibat pukulan Sabrina.

Tidak menerima pukulan dan makian dari Sabrina, Fabian hendak membalas pukulan rekan kerjanya itu kalau saja staff-staff yang bekerja di sana tidak segera melerai keduanya.

*

“Siapa yang mau jelasin ke saya duduk perkaranya? Sabrina? Fabian?”

Setelah Sabrina sukses meninju wajah Fabian, keduanya langsung dipanggil oleh atasan mereka.

“Saya nggak tau apa masalahnya, Pak. Dateng-dateng Sabrina main nonjok muka saya sambil bilang saya kurang ajar,” jawab Fabian.

Sabrina melirik kesal ke arah Fabian, tangannya merogoh saku blazer yang ia kenakan hari itu, mengambil ponsel dan menaruhnya di atas meja bosnya.

“Bapak bisa tentukan sendiri dari rekaman ini, siapa yang benar dan siapa yang salah.”

Sabrina kemudian memutar rekaman berisikan pengakuan dari staff yang tadi berkumpul di ruang meeting dengannya. Sepanjang rekaman itu diputar, Sabrina berdiri tanpa reaksi apapun, bahkan emosinya yang tadi sempat meluap sudah tidak terlihat lagi. Berbeda dengan Fabian yang sembari menahan rasa sakit di wajahnya, ekspresinya menunjukkan rasa panik dan juga khawatir.

Selesai rekaman itu diputar, bos Sabrina dan Fabian berdeham dan memandangi keduanya secara bergantian.

“Fabian, bisa jelaskan ke saya apa alasan kamu menyebarkan fitnah ini ke seluruh staff di kantor?”

Diam, tidak ada jawaban dari Fabian. Lelaki itu justru melirik tajam ke arah Sabrina dengan mata berapi-api.

“Fabian Valiano? Kamu nggak punya jawaban untuk saya?” Bos mereka kembali bertanya.

“Karena saya benci Sabrina, Mas! Saya benci kenapa Mas Ricky lebih milih Sabrina daripada saya untuk jadi head of operations? Padahal Mas Ricky udah kenal saya jauh lebih lama sejak kuliah daripada sama Sabrina!”

Fabian sudah tidak dapat menahan rasa marah dan kecewanya, tidak hanya kepada Sabrina tapi juga kepada bos slash kakak kelasnya pada jaman kuliah.

“Cuma karena itu, Fab? Cuma karena jabatan yang nggak seberapa itu, lo berani ngefitnah Sabrina, yang dampak buruknya bisa buat kita semua di satu perusahaan ini. Cuma karena itu?!”

Terdengar jelas juga rasa kecewa di suara Ricky, karena ia tidak menyangka salah satu orang yang ia percaya untuk sama-sama membangun perusahaan miliknya semudah itu merusak kepercayaannya hanya karena rasa iri hati.

Sorry, Mas, bukan gitu—”

“Fabian, ini dunia profesional. Gue bukan tipe orang nepotisme yang mengangkat seseorang ke jabatan tertentu hanya karena gue kenal dia. Gue mau orang yang berada di posisi itu adalah orang yang memang benar kompeten. Dan lo harus akui, kalau kerja Sabrina jauh di atas lo. Lo masih harus banyak belajar lagi, Fab.”

Ricky sudah menurunkan nada bicaranya, kali ini ia bicara bukan sebagai seorang bos melainkan sebagai seorang rekan, seorang kakak yang membimbing juniornya.

“Gue maafin lo buat kejadian kali ini. Gue masih mau kasih kesempatan kedua buat lo di sini. Satu yang gue minta sekarang, lo minta maaf ke Sabrina dan bilang ke anak-anak di luar kalo apa yang lo sebar selama ini itu bohong.”

Sabrina menoleh ke arah Fabian, melihat lelaki itu tertunduk malu dan juga terlalu takut untuk menatap matanya, padahal Sabrina benar-benar sudah lebih tenang dibandingkan sebelumnya.

Sorry, Sab. Gue harap lo mau maafin gue,” ucap Fabian sambil mengulurkan tangannya. Sabrina tidak menjawab apa-apa, ia hanya membalas uluran tangan Fabian lalu berpamitan pada bosnya untuk terlebih dahulu meninggalkan ruangannya.

“Emang bener, semua cowok itu sama aja. Mereka cuma pake topeng buat dapetin hati perempuan, padahal dibaliknya penuh kebusukan.”